IQRA

Hikayat Qatar (2)

Dulu penyelam mutiara kini pengendara Porsche

Produksi gas membludak dan pada 2010 Qatar menguasai 30 persen pasar gas dunia.

12 Februari 2018 06:36

Negara-negara Arab Teluk lainnya melecehkan Qatar dengan menganggap negara itu baru saja membangun.

Selama abad ke-20, Qatar adalah pusatnya para perompak di Teluk Persia. Rakyatnya benar-benar miskin. Pekerjaan mereka menyelam untuk mencari mutiara di musim panas dan menggembala unta kala mussim dingin.

Selama beberapa dasawarsa mereka jauh tertinggal dari negara tetangga Arab Saudi, tengah menikmati berkah limpahan minyak. Keluarga Ats-Tsani dilanda percekokan dan kudeta.

Hingga kemudian pada 1971 Qatar menemukan cadangan gas.

Penemuan cadangan gas terbesar sejagat itu mulanya menjadi sumber kekecewaan. "(Sebab) rakyat mengharapkan minyak," kata mantan Menteri Energi Qatar Abdullah bin Hamad al-Attiyah. Namun pada 1990-an, teknologi baru membuat gas bisa dicairkan dan diekspor menggunakan kapal tanker.

Ayah dari Syekh Tamim, Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani menggelontoran US$ 20 miliar buat membangun pabrik likuifikasi gas di Ras Laffan, pantai utara Qatar, dengan bantuan ExxonMobil. Di antara pejabat Exxon kala itu adalah Rex Tillerson, sekarang menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat.

Perjudian Syekh Hamad berhasil. Produksi gas membludak dan pada 2010 Qatar menguasai 30 persen pasar gas dunia.

Sejak saat itu, warga negara Qatar sekarang berjumlah 300 ribu menjadi sangat kaya dalam waktu amat cepat. Pendapatan per kapita mereka per tahun rata-rata US$ 125 ribu, tertinggi di planet ini, dua kali ketimbang pendapatan per kapita warga Amerika dan Arab Saudi.

Negara memberikan tanah gratis, pekerjaan enak, dan kuliah cuma-ciuma di beragam universitas di Amerika. Mobil-mobil supermahal dan limusin lalu lalang di jalan-jalan utama di Ibu Kota Doha. Sukar untuk menemukan rakyat miskin di Qatar.

Perubahan dramatis pun terjadi di keluarga Ats-Tsani. Mereka menjadi sorotan di panggung global: menjelma sebagai ikon di Vanity Fair dan Vogue, menghabiskan ratusan jutan dolar Amerika hanya untuk memboyong sebuah lukisan karya sebuah Cezanne atau Gauguin, dan membangun jaringan televisi raksasa Al-Jazeera.

Juni tahun lalu, warna bendera Qatar memancar dari Empire State Building di Kota New York, di mana Qatar memiliki saham atas gedung tersebut.

Tapi keangkuhan Qatar memicu permusuhan dari negara-negara tetangganya. Dalam upayanya mencapai pengaruh global, klan Ats-Tsani membuat kebijakan bertentangan - berkampanye soal perdamaian, pendidikan dan hak-hak perempuan, namun di sisi lain mendanai kelompok-kelompok Islam ekstremis di Suriah dan mengizinkan Amerika membangun pangkalan militer terbesarnya di Timur Tengah.

Bagi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab - Bahrain dan Mesir ikutan memboikot - Qatar adalah negara menjengkelkan, rusak oleh kekayaannya, sehingga perlu dipotong.

Tiga pangeran - Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (33 tahun), Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan (57 tahun), dan Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani (33 tahun) - akhirnya berseteru.

Kedua pangeran itu bersatu melawan Syekh Tamim. Lelaki jangkung ini adalah raja Teluk klasik: berpendidikan seperti ayahnya di the Royal Military Academy Sandhurst di Inggris, memiliki tiga istri dan sepuluh anak, serta tinggal di sejumlah istana mewah di Doha, kota masa depan berhiaskan gedung-gedung kaca dan jalanan cantik.

Syekh Tamim naik takhta pada 2013 di umur 33 tahun, bertolak belakang dengan sistem di Arab Saudi di mana Pangeran Muhammad bin Salman baru bisa duduk di singgasana kalau ayahnya wafat. Ketenangannya dianggap berbahaya oleh Saudi dan UEA.

Ketiga pangeran tersebut memang berhasil selamat dari Revolusi Arab, bertiup pada 2011, tapi mereka kini terjebak dalam perseteruan bakal terus berlanjut.   

Ibu Kota Doha, Qatar. (dohabus.com)

Dalam sebulan, 418 perusahaan di Qatar tutup

Angka itu setara dengan 14 persen dari total perusahaan baru terdaftar bulan ini.

Seorang perempuan tengah memperhatikan serangkaian foto dipameerkan dalam Museum Bin Jalmud di Ibu Kota Doha, Qatar. (msheireb.com)

Bebas hingga batas tertentu

Ketika kaum hawa di Arab Saudi baru diizinkan mengemudi mulai Juni tahun ini, perempuan Qatar sudah menyetir mobil sejak beberapa puluh tahun lalu. Di Qatar juga ada bioskop, bar, dan bahkan balapan kuda bagi joki perempuan.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. (Twitter)

Fulus tidak selalu bikin mulus

Leluhur penguasa di ketiga negara Arab supertajir ini berasal dari suku Arab Badui sama, beragama dan makan makanan serupa.

Syekh Salman al-Audah ditahan karena menolak mendukung isolasi terhadap Qatar. (Flickr)

Ulama Arab Saudi ditahan karena tolak dukung blokade Qatar

Sebanyak 17 anggota keluarga Syekh Salman juga dilarang keluar negeri.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bebas hingga batas tertentu

Ketika kaum hawa di Arab Saudi baru diizinkan mengemudi mulai Juni tahun ini, perempuan Qatar sudah menyetir mobil sejak beberapa puluh tahun lalu. Di Qatar juga ada bioskop, bar, dan bahkan balapan kuda bagi joki perempuan.

14 Februari 2018

TERSOHOR