IQRA

Liputan dari Qatar (2)

Aroma dupa di masjid Doha

Jamaah salat Jumat di Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahab dibagikan kayu siwak.

23 Maret 2018 21:22

Azan baru berkumandang saat saya hari ini tiba di Masjid Imam Muhammad bin Abdullah Wahab di Ibu Kota Doha, Qatar. 

Masjid ini sempat memicu perseteruan dengan Arab Saudi lantaran keturunan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab tidak terima. Mereka meminta nama masjid itu diganti.

Masjid agung sekaligus terbesar di Qatar ini masih sepi. Dua saf saja belum penuh, seperti dilaporkan oleh wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Doha.

Suasana hening. Tidak ada keriuhan meski banyak jamaah anak. Mereka mengikuti orang-orang tua mengaji dengan suara pelan.

Aroma dupa Arab terasa sangat menyengat hidung ketika saya berjalan ke bagian depan dan duduk di saf kedua. Rupanya tempat bakaran kemenyan itu diletakkan di kusen jendela berjejer di bagian depan masjid. 

Jelang pukul 12 siang, tidak lama sebelum khatib naik mimbar, ruang dalam Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahab sudah penuh. 

Di tiang-tiang penyangga masjid tersedia air minum kemasan buat mengusir dahaga ketika mendengarkan khotbah. Menjelang khotbah, dua anak bergamis putih membagikan kayu siwak untuk jamaah di dua saf terdepan, termasuk saya.

Selain warga Qatar, kebanyakan jamaah salat Jumat merupakan ekspatriat asal Asia Selatan. 

Khotbah dalam bahasa Arab itu membahas keutamaan anak berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Khatib mengutip kisah Uwais al-Qarni begitu dikenal penghuni langit lantaran amat berbakti kepada ibunya, namun tidak tersohor di muka bumi.

Keharuman nama Uwais sewangi aroma dupa di masjid raya Doha.

 

 

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.

Bangunan berisi kubur Imam Musa al-Kazhim, salah satu tempat paling dikeramqtkan kaum Syiah, terletak di Distrik Kazhimiyah, Ibu Kota Baghdad, Irak. (Twitter)

Teman seranjang jam-jaman

Akad nikah berjalan singkat. Seorang ulama bertindak sebagai penghulu menanyakan apakah Rusul menerima uang lamaran US$ 200.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR