IQRA

Liputan dari Qatar (3)

Puja emir jaya Qatar

"Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."

26 Maret 2018 23:55

Setibanya di Ibu Kota Doha pada September tahun lalu dari menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kota New York, Amerika Serikat, Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani disambut rakyatnya dengan gegap gempita.

Nasionalisme dan patriotisme rakyat Qatar bergelora setelah tiga bulan sebelumnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik sekaligus menerapkan blokade darat, laut, dan udara terhadap negara Arab supertajir itu. Keempat negara Arab ini beralasan Qatar menyokong terorisme.

Gelora itu itu kian terasa lantaran Syekh Tamim melawan. Dalam pidatonya di depan Sidang Majelis Umum PBB, dia menegaskan blokade itu tidak beralasan dan melawan hukum internasional.

Semangat nasionalisme rakyat Qatar terlihat di mana-mana. Gambar wajah Syekh Tamim bertulisan Tamim al-Majid (Jayalah Tamim) melakat di beragam tempat: kantor pemerintah, dinding toko, hotel, cangkir, dan pin, seperti dilaporkan oleh wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Doha.

Sejumlah warga Qatar ditemui mengaku bangga dan mendukung perlawanan dilakoni Syekh Tamim terhadap Arab Saudi sekawan.

"Segalanya baik-baik saja. Blokade tidak berdampak sedikitpun kepada kami," kata Amjad, staf Qatar Charity. Ketika ditemui di gerai Qatar Charity di Mal Vellagio, dia tengah melayani dua gadis Qatar memberikan sumbangan seratus riyal untuk warga Suriah dikepung perang di Ghuta Timur.

Muhammad, pemilik toko cenderamata di Suq Waqif, sepakat dengan penilaian Amjad. Dia menjual bendera, cangkir, pin, dan stiker, semuanya bergambar wajah sang emir.

Tapi menurut seorang ekspatriat asal Asia bekerja di sebuah hotel di Doha, blokade membikin Qatar sepi pelancong. "Biasanya hotel tempat saya bekerja ramai oleh tamu dari Arab Saudi dan UEA," ujarnya.       

Warga Qatar kelihatannya tidak peduli dengan hal itu. Mereka seolah cinta buta kepada emir.

Sampai-sampai, kata seorang ekspatriat, ada seorang warga Qatar menulis di kaca mobilnya, "Kalau Allah mengizinkan dan tidak ada azab, saya ingin cinta kepada Syekh Tamim menjadi rukun iman ketujuh."

 

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.

Bangunan berisi kubur Imam Musa al-Kazhim, salah satu tempat paling dikeramqtkan kaum Syiah, terletak di Distrik Kazhimiyah, Ibu Kota Baghdad, Irak. (Twitter)

Teman seranjang jam-jaman

Akad nikah berjalan singkat. Seorang ulama bertindak sebagai penghulu menanyakan apakah Rusul menerima uang lamaran US$ 200.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR