IQRA

UEA Beli Pesawat Intel Israel (2)

Kongkalikong AIS dan AGT

Nama Israel cuma sekali disebut dalam dokumen berasal dari Swiss, menggambarkan mengenai struktur perusahaan AGT.

02 September 2019 11:47

Dari hasil penelusuran Haaretz terhadap ratusan dokumen dan korespondensi surat elektronik bocoran dari firma hukum Appleby, dikenal dengan nama Paradise Papers, diketahui militer Uni Emirat Arab (UEA) berambisi membuat skuadron pesawat intai seperti Israel.

Upaya itu pun dimulai satu dekade lalu. Paradise Papers menggambarkan secara rumit bagaimana pesawat intai bikinan Israel itu akhirnya bisa sampai ketangan angkatan bersenjata UEA.

Militer UEA menandatangani sebuah kontrak dengan satu perusahaan raksasa di Abu Dhabi bernama Advanced Integrated Systems (AIS). CEO dari AIS adalah Abdullah Ahmad al-Balusyi, berasal dari sebuah keluarga UEA memang sejak awal terlibat dalam pembentukan badan intelijen negara Arab Teluk itu.

Didirikan pada 2006, situs AIS tidak aktif saat ini. Namun dari konten-konten diunggah sebelumnya memperlihatkan AIS terlibat dalam memasok sistem keamanan kepada pemerintah, institusi, dan lembaga swasta.

Situs itu mengklaim AIS menyediakan keamanan untuk instalasi obyek-obyek strategis, proyek infrastruktur, serta sistem transportasi dan lintas batas. AIS juga menangani proyek bernilai miliaran dolar Amerika Serikat tersebar di UEA, Amerika Serikat, Eropa, Brasil, Cina, dan negara-negara lain di Asia.

Buat menghindari pajak, AIS kemudian mendaftarkan pesawat-pesawat intai asal Israel itu di Isle of Man, di lepas pantai Inggris, persis seperti cara-cara dipakai para pengusaha. AIS lantas membuka kantor cabang dengan nama sama di pulau itu.

Sebuah dokumen bertahun 2015 menjelaskan transaksi penjualan pesawat intai Israel ke UEA sebesar 629 juta euro (Rp 9,9 triliun), lebih tinggi 80 juta euro (Rp 1,3 triliun) ketimbang nilai mulanya disepakati antara pemerintah UEA dan AIS pada 2010.

Spesifikasi untuk merenovasi pesawat Gulfstream5 itu termasuk pemasangan sistem ELINT (intelijen elektronik) untuk memperoleh dan menganalisa sinyal-sinyal elektronik dari sistem militer, serta menunjukkan sasaran dengan tepat, pemasangan sistem CMINT (intelijen komunikasi) buat mendengarkan secara diam-diam, pemasangan sistem buat perang elektronik, pertahanan, dan pengacakan sinyal, sistem pengamatan optik (menggunakan kamera dengan jangkauan jauh), komunikasi satelit, dan pemasangan aplikasi manajemen produk. Spesikasi itu juga mencakup pembangunan statisun pelacak dan penerima.

Mati Kochavi, melalui perusahaan terkenalnya AGT International berpusat di Kota Zurich (Swiss), adalah penyokong dari transaksi ini. AGT, menyediakan solusi teknologi mutakhi dan dukungan logistik, adalah perusahaan pada 2012 membeli dua pesawat jet eksekutif dari perusahaan Kanada, Bombardier (dengan nomor seri 9494, 9517) seharga 43 juta euro per pesawat.

AGT juga bertanggung jawab untuk pemasangan sebagian besar sistem dalam pesawat intai itu. Namun modifikasi dilakukan oleh Marshall, perusahaan asal Inggris, dikontrak oleh AGT sebagai bagian dari kesepakatan hampir US$ 100 juta. Marshall adalah perusahaan juga memodifikasi jet-jet eksekutif untuk kegiatan intelijen bagi Angkatan Udara Inggris. 

Yang menarik adalah tidak ada nama Israel dalam ratusan ribu kata menggambarkan transaksi secara rinci. Nama Israel cuma sekali disebut dalam dokumen berasal dari Swiss, menggambarkan mengenai struktur perusahaan AGT. Dokumen berbahasa Jerman ini menyebutkan Matanya Kochavi adalah warga negara Israel.

 

 

Jet pribadi milik Dubai Ports World asal Dubai, Uni Emirat Arab,  tengah diparkir di landasan Banda Udara Ben Gurion di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Twitter)

Jet pribadi asal Dubai terbang bolak balik ke Israel tiga kali pekan lalu

Pada 2018, CEO DP World Sultan Ahmad bin Sulayim mengunjungi Israel untuk memperkuat hubungan bisnisnya

Rute perjalanan sebuah jet pribadi membawa para pejabat Uni Emirat Arab dan Israel pada 17 Januari 2019 terbang langsung dari Abu Dhabi ke Tel Aviv. (Flight Radar 24)

Sentuhan Kochavi dan transaksi UEA-Israel

Isu Palestina bukan lagi ganjalan bagi negara-negara Arab Teluk buat menjalin hubungan dengan Israel. Israel, Arab Saudi, dan UEA rutin berbagi informasi intelijen mengenai ancaman dari Iran.

Israel Katz, Menteri Luar Negeri Israel, berpose di masjid Agung Syekh Zayid di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, akhir Juni 2019. (Courtsey Katz's office)

Menteri Israel kunjungi Abu Dhabi bahas Iran

Ini menjadi kunjungan menteri Israel ketiga ke UEA sejak Oktober tahun lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Sentuhan Kochavi dan transaksi UEA-Israel

Isu Palestina bukan lagi ganjalan bagi negara-negara Arab Teluk buat menjalin hubungan dengan Israel. Israel, Arab Saudi, dan UEA rutin berbagi informasi intelijen mengenai ancaman dari Iran.

27 Agustus 2019
Unjuk gigi Khashoggi
06 November 2018
Ajal tujuh menit Jamal
23 Oktober 2018

TERSOHOR