IQRA

Palestina Negara Khayalan (1)

Palestina negara khayalan kian mendekati kenyataan

Keyakinan ini sebagai otokritik terhadap para pemimpin muslim supaya berbicara mengenai kenyataan di lapangan bukan pikiran-pikiran ideal di atas kertas.

17 November 2020 17:44

Palestina negara khayalan adalah tesis dan analisis saya tulis sehabis kegagalan konferensi Annapolis di Amerika Serikat pada 2007. Itulah perundingan langsung terakhir terjadi antara Palestina dan Israel. Sehabis itu upaya untuk mendudukkan kembali kedua pihak bertikai ke meja perundingan selalu mentok.

Gagasan mengenai Palestina negara khayalan kerap saya sampaikan dalam beragam diskusi atau ketika saya diwawancarai. Keyakinan ini sebagai otokritik terhadap para pemimpin muslim supaya berbicara mengenai kenyataan di lapangan bukan pikiran-pikiran ideal di atas kertas.

Paradigma idealis dan bukan realis inilah memunculkan strategi tidak jitu dalam menyelesaikan isu Palestina. Tidak ada kemajuan berarti sejak pembentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 1969 dan Liga Arab pada 1945 dibentuk dalam mewujudkan mimpi rakyat Palestina.

Tantangan terbesar dalam membantu bangsa Palestina meraih kemerdekaan dari penjajahan Israel adalah bagaimana mencegah agar Palestina bukan sekadar negara khayalan. Itulah realitas ada di lapangan sekarang: Palestina belum menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Ada lima poin untuk menjelaskan bagaimana Palestina bisa menjadi negara khayalan. Atau sebaliknya, kelima ini dapat menjadi dasar untuk memformulasikan taktik tepat dalam menghadapi Israel.

Kelima poin itu adalah faktor internal, faktor eksternal, isu Palestina di era Presiden Donald Trump, isu Palestina pada masa Presiden Joe Biden, dan kesimpulan.

Faktor internal terdiri dari persatuan Palestina, konflik agama, dan tuga ganjalan berdirinya negara Palestina. Sedangkan faktor eksternal meliputi dukungan Amerika Serikat, hak veto Dewan Keamanan, serta strategi negara-negara Arab dan muslim.

Isu Palestina di era Trump, penting untuk melihat terobosan Trump, normalisasi Arab-Israel, dan proposal damai Trump. Terkait isu Palestina pada masa Biden terdiri dari akan lebih pro-Palestina, memperbaiki kesalahan die ra Trump, dan solusi dua negara.

Kesimpulan dari penjelasan di atas makin menguatkan realitas di lapangan saat ini Palestina cuma negara khayalan.

 

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Wali Kota Yerusalem Nir Barkat berpose sambil memegang papan penunjuk jalan menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem. (Jerusalem Municipality)

Senat Amerika setujui kedutaan tetap di Yerusalem

Biden memang sudah bilang tidak akan mengembalikan Kedutaan Amerika ke Tel Aviv.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

26 Februari 2021

TERSOHOR