IQRA

Palestina Negara Khayalan (2)

Belah Palestina berkah Israel

Tidak adanya persatuan ini memang diinginkan oleh Israel dan begitulah taktik penjajah: memecah belah rakyat jajahan mereka.

18 November 2020 07:22

Dari sisi internal, faktor dapat membuat Palestina menjadi negara khayalan adalah tidak adanya persatuan Palestina. Semua upaya untuk memerdekakan Palestina bakal menjadi mentah selama bangsa Palestina belum bisa bersatu.

Tidak adanya persatuan ini memang diinginkan oleh Israel dan begitulah taktik penjajah: memecah belah rakyat jajahan mereka.

Kenyataannya sampai sekarang Palestina terbelah dalam empat hal. Banyak rakyat Palestina atau kelompok-kelompok perjuangan Palestina belum sepakat mengenai negara merdeka dan berdaulat seperti apa mereka impikan. Sebab itu, Palestina harus menggelar referendum untuk menyaring keinginan semua rakyat Palestina tentang negara mereka impikan.

Gagasan ini pernah disampaikan pemerintah Iran melalui surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres pada 1 November 2019.

Ada dua konsep untuk mewujudkan mimpi bangsa Palestina mempunyai sebuah negara, yakni solusi satu negara atau solusi dua negara. Referendum itu akan memutuskan mana akan dipilih oleh rakyat Palestina.

Referendum ini harus diikuti oleh oleh semua rakyat Palestina dari berbagai kalangan ketika itu menetap di Palestina sebelum Deklarasi Balfour pada 1917. Mereka boleh ikut referendum termasuk para pengungsi dan keturunan mereka tinggal di luar negeri. Orang Islam, Nasrani, dan Yahudi juga mesti berpartisipasi. Warga Palestina sekarang bermukim di negara Israel mesti dilibatkan.

Tentu saja bukan perkara mudah menggelar referendum. Perlu komitmen dan sokongan masyarakat internasional, kerjasama Israel dan Amerika Serikat sebagai sekutu istimewanya. Juga harus ada kelapangan dada bagi semua pihak untuk menerima apapun hasilnya.

Lagi-lagi ini juga tidak mudah. Ketika Hamas menang pada pemilihan umum digelar Januari 2006, Amerika dan Israel menolak mengakui karena menganggap organisasi teroris itu tidak boleh memimpin pemerintahan Palestina lantaran akan mengancam perdamaian.

Wilayah Palestina juga terbelah sejak Israel menerapkan blokade terhadap Jalur Gaza pada Juni 2007 sehingga terpisah dengan Tepi Barat. Selama blokade masih berlangsung, tidak akan pernah ada yang namanya persatuan Palestina. Karena itu, para pemimpin negara Arab dan muslim dibantu masyarakat internasional harus mendesak negara Zionis itu untuk segera mencabut blokade.

Blokade atas Gaza itu telah menciptakan krisis kemanusiaan. Hampir dua juta warga Palestina di Gaza kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup lantaran semuanya diatur dan dibatasi oleh Israel. Blokade ini juga membikin warga Gaza putus asa dan kehilangan harapan.

Keterbelahan Palestina juga terlihat karena tidaknya hubungan langsung antara warga Gaza dan Tepi Barat akibat blokade Israel. Kondisi ini bisa menciptakan kesalahpahaman antara penduduk Palestina di kedua wilayah itu.

Ketika mengunjungi Gaza pada Oktober 2012, saya bertemu seorang gadis bernama Heba Ziad. Perempuan yatim berusia 21 tahun ini belum menikah, terbilang tua untuk ukuran perawan Gaza biasanya menikah di umur belasan tahun. Dia beralasan tidak mau menikah karena nantinya akan berdosa tidak dapat memberikan harapan dan masa depan bagi anak-anaknya.

Warga Gaza juga berkomentar miring terhadap saudara-saudara mereka di Tepi Barat. Ada anggapan mereka lebih beruntung lantaran para pemimpin Palestina di sana mau bekerjasama dengan Israel. Sedangkan pemimpin Palestina di Gaza memilih jalan untuk tidak berkompromi berakibat pada konflik berdarah berkepanjangan.

Rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah sangat penting untuk mewujudkan persatuan Palestina. Keduanya adalah faksi perjuangan terbesar. Hamas mendominasi Gaza sedangkan Fatah berkuasa di Tepi Barat.

Namun sulit membuat Hamas dan Fatah bermesraan. Kedua kelompok ini berbeda haluan dalam menghadapi Israel. Hamas berideologi tidak akan pernah mengakui dan bahkan bersumpah menghancurkan negara Zionis dibentuk pada 14 Mei 1948 itu. Mereka juga menolak konsep negara Palestina dengan wilayah sebelum Perang Enam Hari pada 1967.

Sedangkan Fatah memilih strategi berkompromi dengan Israel walau tidak pernah mencapai hasil memuaskan. Fatah sepakat dengan solusi dua negara dengan wilayah negara Palestina nantinya meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza, sesuai teritori sebelum Perang 1967.

Sulitnya rekonsiliasi Hamas dan Fatah ini lantaran Hamas pernah dikhianati. Hamas mestinya memimpin pemerintahan setelah menang pemilihan umum pada Januari 2006 tapi diboikot Fatah, Amerika, dan Israel.

Semua pihak harus menyadari dan memahami Israel sebagai penjajah tidak akan pernah rida persatuan Palestina dalam konteks rakyat, wilayah, dan semua kelompok perjuangan terwujud. Kalau sudah begini, maka negara Palestina memang sebuah khayalan.

 

Konsep Kuil Suci ketiga bakal dibangun buat menggantikan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (jta.org)

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

Anggur Pompeo dari perkebunan anggur Pompeo di permukiman Yahudi Psagot di Tepi Barat, Palestina. (Twitter)

Amerika izinkan produk dari permukiman Yahudi di Tepi Barat dilabeli Buatan Israel

Padahal setelah Perang Enam Hari 1967, semua pemerintahan Amerika memandang Tepi Barat dan Golan adalah daerah jajahan Israel dan menganggap semua permukiman Yahudi di kedua wilayah ini ilegal.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Isu Palestina konflik agama

Bagi Palestina dan Israel, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu tidak dapat dikompromikan.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina negara khayalan kian mendekati kenyataan

Keyakinan ini sebagai otokritik terhadap para pemimpin muslim supaya berbicara mengenai kenyataan di lapangan bukan pikiran-pikiran ideal di atas kertas.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

selamatkan al aqsa 2

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

20 November 2020

TERSOHOR