IQRA

Palestina Negara Khayalan (3)

Isu Palestina konflik agama

Bagi Palestina dan Israel, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu tidak dapat dikompromikan.

19 November 2020 21:04

Faktor internal lain membuat Palestina menjadi negara khayalan adalah konflik agama. Keliru kalau ada orang bilang isu Palestina merupakan persoalan nasionalisme semata. Masalah Palestina bahkan lebih kental konflik agamanya.

Sedari awal berdiri pada 14 Mei 1948, Israel sudah menjadikan agama sebagai dasar. Negara Zionis ini merasa berhak mendiami wilayah milik bangsa Palestina dengan dalih itu merupakan tanah dijanjikan Tuhan. Alhasil, beragam upaya mereka untuk mempertahankan dan bahkan makin memperluas wilayahnya merupakan sebuah tugas suci atas perintah Tuhan.

Israel adalah negara berlandaskan ketuhanan atau teokrasi. Sabbath, seperti Jumat bagi umat Islam dan Ahad untuk kaum Nasrani, menjadi hari libur nasional. Pelajar yeshiva (sekolah seminari Yahudi) dibebaskan dari keharusan mengikuti wajib militer, berlaku bagi lelaki dan perempuan Israel berumur minimal 18 tahun. Bagi lelaki, wajib militer berlangsung tiga tahun, sedangkan perempuan dua tahun.

Sejak Israel dibentuk 72 tahun lalu, pemerintahan yang ada selalu koalisi dan partai-partai agamis, seperti Shas, memegang peranan penting dalam menjaga kelangsungan sebuah pemerintahan koalisi.

Nuansa agama kian kental dalam isu Yerusalem. Israel menegaskan Yerusalem secara keseluruhan, termasuk Yerusalem Timur didambakan Palestina menjadi ibu kota mereka, adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua. Klaim sepihak ini sudah dituangkan dalam Hukum Dasar Yerusalem disahkan oleh Knesset (parlemen Israel) pada 1980. Israel bahkan meyakini sebelum ada Masjid Al-Aqsa, tadinya berdiri Kuil Suci Yahudi.

Di pihak Palestina juga demikian. Mereka dan bahkan umat Islam di seluruh dunia tentu juga tidak akan pernah rela kalau Masjid Al-Aqsa dirobohkan demi mewujudkan cita-cita Israel mendirikan Kuil Suci ketiga. Al-Aqsa adalah masjid ketiga paling disucikan oleh kaum muslim sejagat setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Apalagi Masjid Al-Aqsa pernah menjadi kiblat umat Islam sebelum dipindah ke Kabah. Masjid Al-Aqsa juga menjadi lokasi Nabi Muhammad melakukan mikraj.

Bagi Palestina dan Israel, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu tidak dapat dikompromikan. Konflik bernuansa agama inilah makin membikin terwujudnya negara Palestina merdeka dan berdaulat khayalan belaka.

Konsep Kuil Suci ketiga bakal dibangun buat menggantikan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (jta.org)

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

Anggur Pompeo dari perkebunan anggur Pompeo di permukiman Yahudi Psagot di Tepi Barat, Palestina. (Twitter)

Amerika izinkan produk dari permukiman Yahudi di Tepi Barat dilabeli Buatan Israel

Padahal setelah Perang Enam Hari 1967, semua pemerintahan Amerika memandang Tepi Barat dan Golan adalah daerah jajahan Israel dan menganggap semua permukiman Yahudi di kedua wilayah ini ilegal.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Belah Palestina berkah Israel

Tidak adanya persatuan ini memang diinginkan oleh Israel dan begitulah taktik penjajah: memecah belah rakyat jajahan mereka.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina negara khayalan kian mendekati kenyataan

Keyakinan ini sebagai otokritik terhadap para pemimpin muslim supaya berbicara mengenai kenyataan di lapangan bukan pikiran-pikiran ideal di atas kertas.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

selamatkan al aqsa 2

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

20 November 2020

TERSOHOR