IQRA

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (2)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

26 Februari 2021 19:13

Bertahun-tahun, para pakar terorisme meyakini Saif al-Adl adalah nama gerilya dari Muhammad Ibrahim Makkawi, mantan anggota pasukan khusus Mesir berpangkat kolonel. Bahkan FBI (Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat) masih memasukkan Saif al-Adl sebagai nama samaran dari Makkawi dalam dalam daftar buronan terorisnya.

Seperti Saif asli, Makkawi juga berasal dari wilayah Delta Nil. Keduanya pernah sama-sama bergabung dengan angkatan bersenjata Mesir, bertempur bareng mujahidin menghadapi penjajahn Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an, dan berpaham salafi jihadis. Tapi mereka sebenarnya beda orang.

Pada 29 Februari 2012, Kolonel Muhammad Ibrahim Makkawi kembali ke Mesir untuk pertama kali dalam seperempat abad. Selama itu pula, karena dicurigai terlibat kegiatan terorisme, Makkawi tidak dapat pulang ke negara asalnya itu, seperti ditulis Ali Soufan dalam buku Anatomy of Terror: From the Death of Bin Laden to the Rise of the Islamic State dan dilansir oleh CTC Sentinel pada 21 Februari 2021.

Dia baru bisa balik setelah rezim Presiden Husni Mubarak tumbang pada Februari 2011 dan Al-Ikhwan al-Muslimun berkuasa. Tidak lama setelah menjejakkan kaki di Bandar Udara Internasional Kairo, pasukan keamanan Mesir menangkap Makkawi. Mereka kemudian mengumumkan telah menahan pentolan Al-Qaidah bernama Saif al-Adl.

Namun dalam hitungan jam, cerita dikoreksi. Siapa saja pernah bertemu kedua orang ini akan dapat membedakan Makkawi dan Saif bukan orang sama. Makkawi berpostur pendek, gemuk, dan berkulit gelap. Sedangkan Saif tinggi langsing serta berkulit cerah. Makkawi lebih tua satu dasawarsa ketimbang Saif. Jadi keduanya berbeda generasi dalam gerakan jihadis.

Makkawi dilahirkan di awal 1950-an dan terlibat dalam perang Yom Kippur menghadapi Israel pada 1973. Dia menjadi anggota pasukan antiteror Mesir. Kariernya terus merangkak naik hingga berpangkat kolonel.

Pada 1987, Makkawi sempat ditahan sebentar lantaran diduga terlibat dalam rencana pembunuhan seorang menteri dan editor surat kabar oleh sebuah kelompok rahasia bernama Penyelamatan dari Neraka.

Kecewa dengan perlakuan pemerintah, setelah bebas Makkawi meninggalkan Mesir menuju Afghanistan. Dia bergabung dengan ribuan pejuang Arab lainnya buat mengusir pasukan Uni Soviet. Dia memakai nama alias Abu al-Munthir, bukan Saif al-Adl. Makkawi menganggap para mujahidin tidak kompeten dan amatir.

"Makkawi itu membenci Al-Qaidah," kata Nukman bin Usman, mantan tokoh senior di kelompok perlawanan Islam Libya.

Setelah Uni Soviet mundur dari Afghanistan, Makkawi mencoba hidup normal di Ibu Kota Islamabad, Pakistan. Kehadirannya di sana menarik perhatian Al-Qaidah dan intelijen domestik serta asing.

Sebaliknya, Saif al-Adl adalah orang loyal terhadap gerakan jihadis dan berusaha serapat mungkin menutup identitas dan jejak kehadirannya. hanya ada tiga foto dirinya tersebar.

Nama aslinya adalah Muhammad Salahuddin Zaidan. Dia dilahirkan pada awal 1960-an di Syibbin al-Kaum, kota di Delta Nil berjarak sekitar 64,4 kilometer barat daya Ibu Kota Kairo.

Waktu itu, Presiden Mesir Jamal Abdul Nasir adalah salah satu pemimpin paling disegani. Dia mengkampanyekan pan-Arab, menasionalisasi industri-industri Barat, dan mengejar persatuan politik dan ekonomi dengan Suriah serta Yaman Utara. Tapi mimpinya cuma bertahan sebentar. Negeri Piramida itu luluh lantak oleh israel dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967.

Kekalahan ini memicu kebangkitan sel-sel teroris, termasuk kelompok merekrut Aiman az-Zawahiri, kala itu adalah mahasiswa kedokteran. Tidak lama berselang, Zawahiri kemudian menjadi pemimpin bergabung dengan sejumlah kelompok jihadis lainnya membentuk organisasi diberi nama EIJ (Jihad Islam Mesir). Tapi Saif al-Adl tidak bergabung dengan EIJ.

Imam di Masjid Fajrul Islam, tempat Saif salat berjamaah dan mengaji, berkisah Saif saat mudanya pendiam dan tekun.

Menurut abangnya bernama Hasan, Saif memiliki hubungan baik dengan tetangga, termasuk orang-orang Kristen Koptik. Selepas sekolah menengah atas, dia kuliah jurusan binis, kemudian mendaftar jadi tentara cadangan di Angkatan Darat Mesir. Di militer, Saif spesialis terjun payung, membuat bom, dan intelijen.

Politik di Mesir terus bergulir hingga propaganda gerakan ekstrem menjamur di negeri Piramida ini pada 1970-an dan 1980-an. Kampus dan militer menjadi dua institusi paling banyak dimasuki paham itu.

Saif masih remaja ketika pengganti Jalam Abdul Nasir, Presiden Anwar Sadat menandatangani perjanjian damai Camp David dengan Israel pada 1979. Mesir menjadi negara Arab pertama dan negara berpenduduk mayoritas muslim kedua membina hubungan diplomatik dengan Israel setelah Turki pada 1949. Saif juga masih belum dewasa saat seorang pembelot dari EIJ menembak mati Sadat lantaran berdamai dengan negara Zionis itu.

Semasa masih di Mesir, Saif tidak memiliki kaitan dengan kelompok ekstremis manapun. "Dia tidak pernah menjadi bagian dari organisasi jihadis manapun...sampai dia pindah ke Afghanistan dan memenuhi kata hatinya," kata Ali Soufan.

Saif kerap bilang kepada keluarganya kalau dia akan meninggalkan Mesir setelah masanya di militer selesai. Seperti banyak pemuda mesir waktu itu, berhadapan dengan kesulitan ekonomi, dia berencana memulai hidup baru di Arab Saudi, negara tetangga di seberang Laut Merah.

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif. Setahun kemudian, seorang lelaki tidak dikenal mendatangi rumah Hasan dan memberikan jaket milik Saif.

Dia bilang Saif akhirnya bekerja menjadi agen penjualan di Arab Saudi tapi dia telah meninggal karena kecelakaan mobil. Pihak keluarga berusaha meminta penjelasan dari pihak berwenang di negara Kabah itu namun tidak pernah memperoleh jawaban.

Berita buruk tentang Saif itu menyebabkan ibunya sangat sedih. Kesehatannya memburuk dan dia mendapat serangan stroke hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Karena tidak ada kontak dengan Saif dalam waktu lama, akhirnya keluarga besar Saif menyatakan dia sudah meninggal.

Memang benar, orang bernama Muhammad Salahuddin Zaidan - pemuda tekun, tentara loyal, dan warga negara taat - telah wafat. Tapi Saif al-Adl masih hidup.

 

 

 

Batalion Badri 313, pasukan elite Taliban dilatih di kamp Salahuddin, Afghanistan. (Manba al-Jihad)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

29 Juli 2021
Berjihad ke Afrika
19 Juli 2021

TERSOHOR