IQRA

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (4)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

19 Juli 2021 14:50

"Perang di Afghanistan mulai mereda," kata Saif al-Adl kepada seorang jihadis asal Palestina sekitar akhir 1992. "Kami akan pindah berjihad ke wilayah lain."

Kenyataannya, palagan di Afghanistan belum berakhir tapi bersalin rupa dari menghadapi pemerintahan komunis menjadi perang saudara antar milisi berebut pengaruh serta kuasa, seperti ditulis Ali Soufan dalam buku Anatomy of Terror: From the Death of Bin Laden to the Rise of the Islamic State dan dilansir oleh CTC Sentinel pada 21 Februari 2021.

Ada sedikit kebingungan bagi Al-Qaidah untuk berperang menghadapi para mujahidin. Apalagi mereka sudah takluk dalam perang memperebutkan Kota Jalalabad dan Usamah Bin Ladin telah pulang ke Arab Saudi untuk menyembuhkan lukanya. Kedua hal ini merusak semangat anggota Al-Qaidah dan keberhasilan mereka dalam merekrut anggota baru.

Tadinya Al-Qaidah ingin mendirikan negara Islam di Afghanistan setelah berhasil mengusir pasukan Uni Soviet dari sana. Gagasan mirip ini telah dijalankan oleh NIF (Front Islam Nasional) di Sudan setelah berhasil melakukan kudeta pada 1989. Karena itulah, sejak berkuasa, NIF membujuk Bin Ladin untuk memindahkan Al-Qaidah ke Sudan.

Bin Ladin kemudian mengirim sejumlah utusan ke negara Afrika itu. Penguasa baru memberitahu mereka: Al-Qaidah dan NIF memiliki kesamaan cita-cita. Sepulangnya dari Sudan, mereka berhasil meyakinkan Bin Ladin.

Selama musim dingin 1991-1992, Bin Ladin mempertimbangkan tawaran NIF itu. Saif ikut memberi masukan sampai akhirnya Bin ladin mengiyakan. Saif lalu mempersiapkan perpindahan basis Al-Qaidah ke Ibu Kota Kahrtum. Di sana, Saif mendirikan kamp-kamp pelatihan dan terus melatih rekrutmen baru Al-Qaidah cara membuat sekaligus menggunakan bahan peledak.

Karier Saif di Al-Qaidah terus bersinar. Sejak masih di Afghanistan, teman-temannya menggambarkan dia sebagai pemimpin penting Al-Qaidah. Jauh sebelum itu, dia telah menjadi anggota komite militer sentral Al-Qaidah.

Di Khartum, Bin Ladin menerima kunjungan seorang pejabat tinggi Iran. Bin Ladin mengajukan satu permintaan kepada utusan negara Mullah itu: para anggota Al-Qaidah dilatih menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan bangunan, latihan dilakukan anggota milisi Hizbullah sejak organisasi itu dibentuk pada 1982.

Iran setuju. Al-Qaidah bisa mengirimkan orang-orangnya untuk dilatih oleh Imad Mughniyah, salah satu komandan Hizbullah paling diburu oleh Amerika Serikat. Bin Ladin akhirnya mengirim Saif al-Adl untuk menjalani pelatihan bahan peledak di kamp Hizbullah di Lembah Bakaa, Libanon.

Pulang dari sana, Saif mulai membentuk orang-orang buat misi menyerang Kedutaan Besar Amerika di Nairobi dan Daar as-Salam.

Ketika para pentolan Al-Qaidah seperti Bin Ladin dan Saif bisa bekerjasama dengan Hizbullah berpaham Syiah, para komandan dan anggotanya belum mau menerima hal itu. Bagi mereka, perbedaan paham agama tidak bisa ditawar, lebih baik berkolaborasi dengan Israel ketimbang dengan milisi Syiah.

Kerjasama Al-Qaidah dan Hizbullah ini pun berumur pendek. Namun Saif terus memelihara koneksi dengan elte-elite di Iran.

Dari basisnya di Sudan, Al-Qaidah melebarkan pengaruh dan kuasa ke Afrika Timur. Yang menjadi sasaran pertama adalah Somalia. Bahkan sebelum Al-Qaidah memindahkan markas besarnya ke Sudan, mereka sudah melatih kaum eksremis dari Somalia. Sebagian alumni pulang dan membentuk kelompok ekstremis Islam sendiri.

Sampai akhirnya di awal 1992, pemerintahan Somalia beraliran Marxis jatuh. Banyak senjata peninggalan Uni Soviet beralih ke tangan beragam kelompok bersenjata. Perang saudara meletup di sana dan ini menjadi ladang subur bagi Al-Qaidah untuk masuk.

Mulanya, peluang memperluas pengaruh di Somalia kelihatan kecil. Konflik di negara ini seperti benang kusut. Aliansi dan permusuhan antar suku saling berkelindan. Para pemimpin milisi juga menghadapi masalah kronis: loyalitas anak buah buruk dan tidak ada dukungan masyarakat. Alhasil, sulit bagi merea menerima kehadiran pemimpin milisi asing seperti Saif al-Adl dari Al-Qaidah.

Situasi berubah terbalik. Tidak lama setelah Saif tiba di Somalia pada 1992, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan misi kemanusiaan bersandi Operasi Kembalikan Harapan. Amerika Serikat menerjunkan 1.800 personel marinir ke Ibu Kota Mogadishu. Segera saja Al-Qaidah, milisi, dan para suku di Somalia memiliki musuh bersama.

Saif pergi ke selatan Somalia dan mendirikan sebuah kamp pelatihan militer di Kambuni, wilayah perbatasan dengan Kenya. Kamp ini pun langsung berubah menjadi basis serangan terhadap pasukan koalisi internasional dipimpin Amerika.

Pada satu kesempatan, anak buah Saif mencegat patroli Belgia dan menewaskan tiga tentaranya. Tidak lama sehabis kejadian ini, Belgia memulangkan semua tentaranya dari Somalia. "Alhamdulillah, kita berhasil mengusir kontingen Belgia dari Somalia," tulis Saif dalam suratnya kepada Bin Ladin.

PBB kemudian menggantikan kontingen Belgia dengan pasukan dari India. Lagi-lagi, Al-Qaidah menyerang markas tentara India di daerah Bilis Qooqaani dengan granat dan peluncur roket. Empat serdadu dari negeri Gangga itu terbunuh.

Keberhasilan itu membikin Saif yakin Al-Qaidah bisa diterima di masyarakat Somalia. Dia pun sampai menggunakan nama samaran baru: Umar as-Somali (umar dari Somalia).

Prestasi terhebat Al-Qaidah adalah saat tim kecil Al-Qaidah, termasuk Abu Muhammad al-Masri, menembak jatuh dua helikopter tempur Amerika jenis MH-60 Black Hawk. Kejadiannya di Mogadishu pada 3 Oktober 1993. Salah satu roket berhasil menumbangkan Black hawk ditembakkan oleh satu anak buah Saif dari Tunisia.

Serangan Al-Qaidah ini menewaskan 18 tentara Amerika dan melukai 84 orang lainnya. Satu pilot Black Hawk mereka tawan.

Tiga hari setelah Pertempuran Mogadishu, Presiden Amerika Bill Clinton mengumumkan penarikan pasukannya dari Somalia meski satu pilot masih disekap.

Pada 1995, setelah semua serdadu Amerika pulang ke negara asalnya, Bin Ladin memerintahkan semua personel Al-Qaidah untuk meninggalkan Somalia. Sebelum itu, Saif sudah berhasil menggalang persekutuan dengan milisi Asy-Syabab.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Poster menunjukkan pemimpin baru Al-Qaidah, Saif al-Adl, dan mendiang Abu Muhammad al-Masri sebagai buronan Amerika Serikat. (US State Department)

Saif al-Adl pemimpin baru Al-Qaidah

Dewan Syura Al-Qaidah sudah menetapkan jalur suksesi pada 2015.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR