IQRA

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (5)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

29 Juli 2021 16:19

 Pada 1996, Sudan ogah-ogahan menyerah terhadap makin kuatnya tekanan internasional dan akhirnya mengusir Usamah Bin Ladin dan Al-Qaidah. Pada 18 Mei, dia bareng orang kepercayaannya dalam hitungan jari, termasuk Saif al-Adl, meninggalkan Khartum dengan sebuah jet pribadi kembali lagi ke Afghanistan. Pimpinan Al-Qaidah lainnya menyusul kemudian.

Namun setahun sebelum Bin Ladin memutuskan kembali ke Afghanistan, dia telah menugaskan Saif melebarkan sayap ke Yaman. Negeri Saba ini telah berubah, seperti ditulis Ali Soufan dalam buku Anatomy of Terror: From the Death of Bin Laden to the Rise of the Islamic State dan dilansir oleh CTC Sentinel pada 21 Februari 2021.

Perang saudara antara Yaman Utara dan Yaman Selatan berakhir pada 1994 setelah kedua pihak menyepakati perjanjian unifikasi pada 1990. Ali Abdullah Saleh akhirnya memerintah Yaman bersatu selama 1995-1996, menangkapi dan memulangkan 14 ribu jihadis asing dari negaranya.

Namun Saif berhasil menancapkan kuku Al-Qaidah di Yaman sampai sekarang dengan membentuk milisi bernama AQAP (Al-Qaidah di Semenanjung Arab).

Ketika Al-Qaidah bermarkas di Sudan, kelompok Taliban makin berkuasa dan mengontrol sebagian besar wilayah Afghanistan. Waktu rombongan Bin Ladin tiba di Jalalabad, berjarak sekitar 128,7 kilometer sebelah timur Ibu Kota Kabul, kota ini belum dicaplok oleh Taliban (baru jatuh pada September 1996).

Al-Qaidah sempat menikmati perlindungan dari para pemimpin milisi di Jalalabad. Mereka menawarkan sebuah bangunan bekas istana untuk ditinggali Bin Ladin dan keluarganya, memberikan sebidang lahan luas untuk dibangun kompleks tempat tinggal bagi para pemimpin senior Taliban. Bahkan Bin Ladin diizinkan lagi bersembunyi di pegunungan Tora Bora.

Semua ini berkat keputusan Saif al-Adl memerintahkan sekretaris pribadinya, Harun Fazul, menetap di Afghanistan buat menjaga lobi selama markas Al-Qaidah dipindah ke Sudan.

Bin Ladin kemudian meminta para pemimpin senior Al-Qaidah dan keluarga mereka untuk tinggal di sebuah kompleks jorok. Tidak ada listrik, air bersih, dan bahkan banyak bangunan sudah tidak berpintu. Ketika Bin Ladin pertama kali meninjau lokasi itu, dia lebih tertarik untuk tinggal lagi di Tora Bora. Saif sudah lebih dulu memilih kembali ke sana.

Baru tiga hari Bin Ladin dan Saif sampai di Jalalabad, terdengar kabar Abu Ubaidah al-Bansyiri, orang nomor dua di Al-Qaidah sekaligus kepala operasional Al-Qaidah di Afrika, meninggal lantaran apal feri dia tumpangi tenggelam di Danau Victoria.

Saif lantas mengirim Harun Fazul, sekretaris pribadi sekaligus nantinya menjadi pemimpin Asy-Syabab, untuk menyelidiki kejadian itu di lapangan. Hasilnya, Al-Bansyiri memang tewas dalam kecelakaan feri itu.

Kematian Al-Bansyiri secara otomatis membuat Saif naik tingkat. Dia menjadi orang nomor tiga di Al-Qaidah setelah Bin Ladin dan Abu Hafiz al-Masri.

Pada 23 Agustus 1996, 14 pekan setelah kembali ke Afghanistan, Bin Ladin secara terbuka mengumumkan perang terhadap Amerika Serikat. Pesan ini disampaikan kepada jihadis dari seluruh dunia. Di akhir 1996, sekitar 40 jihadis, kebanyakan dari negara-negara Arab Teluk dan merupakan veteran Perang Bosnia, tiba di utara Afghanistan buat memerangi pasukan UniSoviet di dekat perbatasan dengan Tajikistan.

Namun rencana ini gagal diwujudkan. Mereka lalu dibawa ke Kabul dan bertemu Bin Ladin serta pimpinan Al-Qaidah lainnya, termasuk Saif. Bin Ladin kemudian menjelaskan mengenai konsep jihad melawan Amerika kepada 40 alumni Perang Bosnia itu. Sekitar setengahnya memilih berbiat kepad Bin Ladin, sisanya pulang ke negara masing-masing.

Saif memainkan peran lebih sentral saat Al-Qaidah menancapkan lagi pengaruhnya di Afghanistan untuk berfkus pada jihad global menghadapi Amerika. Saif juga memberikan pelatihan tambahan bagi jihadis dengan kemampuan di atas rata-rata untuk operasi khusus.

Materi pelatihan bikinan Saif ini meliputi memilih sasaran, menggali informasi, menculik, dan membunuh. Mereka dipilih Saif untuk latihan khusus ini adalah para jihadis menunjukkan dedikasi, disiplin, dan bersemangat tinggi.

Mereka terpilih untuk dilatih menjadi anggota pasukan komando itu akan menjalani latihan di kamp Mas Ainak, dekat Kabul. Mereka berlatih bermanuver dalam gelap, bertempur dalam jarak dekat, dan menembak sambil mengendarai sepeda motor.

Para alumnus pelatihan pasukan komando buatan Saif inilah akhirnya memimpin beragam cabang Al-Qaidah, seperti di Yaman kawasan Arab maghribi (Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Libya), serta Suriah.

Peran paling lainnya dipegang Saif adalah membuat dan mengelola sistem keamanan Al-Qaidah dan Bin Ladin. Lelaki mesir ini sekarang sudah menjadi anggota tetap rombongan kecil Bin Ladin saban kali bepergian. Dia juga memimpin sekaligus melatih pasukan pengawal pribadi Bin Ladin, dikenal dengan nama Garda Hitam, karena mereka kerap bertopeng hitam dan hanya memperihatkan kedua mata.

Setahuan setelah Bin ladin kembali ke Afghanistan, Taliban berhasil menggagalkan sebuah rencana pembunuhan terhadap dirinya. Sampai akhirnya sejumlah tim pembunuh mampu mendekati lokasi Bin Ladin ketika dia dan para pengawalnya sedang tidur. Beruntung lagilagi Taliban menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Saif langsung menginterogasi beberapa pembunuh berhasil ditangkap. Mereka mengakui dikirim oleh badan intelijen Saudi buat menghabisi Bin Ladin.

Beberapa pekan kemudian, pada Maret 1997, markas Al-Qaidah dipindah dari Jalalabad ke kawasan pertanian Tarnak, dekat pangkalan udara Uni Soviet sudah ditinggalkan, di barat daya Afghanistan. Saif mengelola pengamanan dan memimpin konvoi para pemimpin Al-Qaidah ke lokasi baru itu.

Kompleks pertanian ini sangat luas, memiliki sekitar 80 rumah, satu blok perkantoran, masjid, gudang gandum, tangki air, supermarket, dan klinik. Dalam keadaan daruray, mereka bisa menyelamatkan diri melalui jaringan terowongan berada di dalam kompleks itu.

Saif menggunakan kriptografi untuk melindungi sistem komunikasi Al-Qaidah, disebut dengan sistem kode Salahuddin dan mempunyai lebih dari 250 ribu kombinasi. Dia juga membuat selebaran untuk dibagikan kepada semua anggota Al-Qaidah di Afghanistan untuk mengadopsi kontraintelijen.

Semua anggota Al-Qaidah diminta tetap menjalankan bisnis resminya atas dasar untuk mencari informasi, mencukur brewok mereka kalau bepergian, dan mengenakan jam di tangan kiri, bukan di tanganan kanan menjadi kebiasaan kaum mujahidin.

Saif juga memeriksa para rekrutmen baru dan berhak mengusir mereka kalau dirinya merasa curiga.

Saif membentuk pula badan intelijen Al-Qaidah beranggotakan sekitar 50 orang. Mereka berhasil membongkar mata-mata menyusup ke dalam Al-Qaidah. Salah satunya adalah seseorang mengaku berencana membunuh Bin Ladin dengan bom berisi limbah nuklir.

Badan intelijen Al-Qaidah juga menangkap satu lelaki Yordania, membawa banyak fulus namun sedikit pengethuannnya tentang cara berperang. Dia dibekuk saat berbicara dengan bosnya di Yordania menggunakan bahasa sandi. Kepala pelatihan Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri lalu membawa pria Yrdania ke hadapan Bin Ladin di Kabul.

Saif murka. Dia nyaris menghabisi mata-mata dari Yordnia itu. Abu Muhammad al-Masri mengingatkan Saif agar menyerahkan orang Yordania ini kepada Taliban. Al-Masri menjelaskan Afghhaniatan adalah negaranya Taliban dan Al-Qaidah mesti menaati aturan mereka. "Jangan sampai Al-Qaidah dituduh main hakim sendiri," kata Al-Masri.

Saif pernah memukuli seorang mata-mata hingga mengembuskan napas terakhir dan menembak mati satu spionase.

Saif setuju dan menyerahkan lelaki Yordania itu kepada Taliban tapi dia terus menyelidiki kenapa sistem keamanan Al-Qaidah mudah ditembus. Taliban mengizinkan Saif memeriksa pria Yordania itu. Dia menginterogasi bareng komandan garda Hitam bernama Abu Jandal.

Dari koleganya di Yordania, Saif juga memperoleh informasi sudah datang Abu Musab az-Zarqawi, penjahat berubah menjadi muslim berpandangan ekstrem.

Ketika Zarqawi datang ke Afghanistan untuk kedua kalinya pada paruh kedua 1999, Saif mendekati dia. Saif menilai Zarqawi pantas diorbitkan dan dia bisa menegakkan bendera Al-Qaidah di Irak.

Zarqawi menlak dan ingin organisasinya berdiri sendiri, tidak mau berbaiat kepada Al-Qaidah atau membiarkan Bin Ladin mengontrol kegiatannya. Namun Saif berhasil meyakinkan Bin Ladin untuk memberikan segala yang dibutuhkan bagi Zarqawi untuk membangun sebuah tempat perlindungan dan kompleks pelatihan militer di dekat Herat, tidak jauh dari daerah perbatasan Afghanistan dengan Iran.

Zarqawi akhirnya mendirikan ISI (Negara Islam Irak), merupakan cabang Al-Qaidah di sana. karena kecewa, dia kemudian melahirkan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) kini menjadi musuh Al-Qaidah.

 

 

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

19 Juli 2021

TERSOHOR