kabar

Mossad yakin Iran tidak berniat bikin bom nuklir

Kesimpulan Mossad ini berlainan dengan keyakinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

24 Februari 2015 01:40

Kurang dari sebulan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pengumuman dramatis di hadapan para pemimpin dunia, Mossad malah berkesimpulan lain: Iran tidak berniat membuat senjata nuklir.

Informasi menghebohkan ini diperoleh Al-Jazeera dari bocoran ratusan dokumen rahasia. Stasiun televisi berpusat di Ibu Kota Doha, Qatar, ini lantas membagi dokumen dsebut Kabel Mata-mata itu dengan surat kabar the Guardian.

Saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2012 di Kota New York, Amerika Serikat, Netanyahu bilang dalam setahun ke depan Iran sudah mampu membikin bom nuklir. Karena itu, dia mendesak masyarakat internasional segera bertindak menghentikan proses itu.

Netanyahu memberikan penjelasannya lewat gambar ilustrasi berupa bom bersumbu. Gambar itu menunjukkan ada tiga tahap dalam program nuklir Iran.

Tahap pertama ditandai garis berwarna hitam di angka 70 persen. Netanyahu mengatakan proyek senjata nuklir Iran kini sudah ada di angka itu. Tahap kedua berupa garis tebal berwarna merah pada angka 90 persen. Ini merupakan batas akhir sebelum Iran menghasilkan bom pemusnah massal itu. "Paling lambat musim semi atau musim panas tahun depan (2013), tingkat pengayaan uranium Iran akan selesai di tahap menengah dan akan bergerak ke tingkat akhir," kata Netanyahu.

Namun pada 22 Oktober 2012, Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) mengirim sebuah kabel berkategori amat rahasia kepada badan intelijen Afrika Selatan. Isinya soal penilaian Mossad atas program nuklir negeri Mullah itu.

Menurut Mossad, Iran belum memulai kegiatan diperlukan untuk membikin senjata nuklir. Proses pengayaan uranium tengah dikerjakan masih dalam tahap diakui internasional. "Tapi proses ini bakal mengurangi waktu untuk membuat bom nuklir saat perintah itu datang," tulis Mossad dalam kabel rahasia itu.

Untuk membikin sebuah bom nuklir diperlukan pengayaan uranium hingga 90 persen. Mossad memperkirakan Iran telah memiliki seratus kilogram material telah dikayakan sampai 20 persen.

Kabar ini muncul menjelang rencana Netanyahu berpidato di Kongres Amerika Serikat 3 Maret nanti. Apalagi kian menguat isyarat perundingan soal nuklir Iran bakal mencapai kesepakatan akhir bulan depan dan pelaksanaannya tiga bulan kemudian.

Tapi kantor Netanyahu pekan lalu mengulangi klaim serupa menanggapi laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). "Iran kian dekat untuk memperoleh bahan-bahan sudah dikayakan buat membikin satu bom nuklir."

Selama ini Iran membantah sedang membikin senjata nuklir. Teheran menegaskan program nuklir mereka buat kepentingan energi. Pemimpin agung Iran Ayatullah Ali Khamenei bahkan sudah berfatwa haram hukumnya membuat senjata pemusnah massal.

Hubungan Netanyahu dan Mossad memang sedikit tegang lantaran masalah program nuklir negeri Persia itu. Mantan bos Mossad Meir Dagan - dicopot posisinya Desember 2010 - menolak rencana Netanyahu menyerang Iran.

Dalam sebuah wawancara pada Maret 2012, Dagan menyebut adalah sebuah gagasan bodoh untuk menyerang Iran sebelum mempertimbangkan pilihan lain. "Sebuah serangan terhadap Iran sebelum Anda mempelajari semua pendekatan lain adalah cara tidak tepat," tutur Dagan.

Mantan panglima angkatan bersenjata Israel Benny Gantz memperingatkan keputusan soal Iran mesti dibuat hati-hati tanpa histeris," katanya.

Ron Arad, pilot pesawat tempur Israel hilang dalam misi di Libanon pada 1986. (Israel Air Force)

Mossad ambil DNA dari satu mayat di Libanon

Pengambilan sampel DNA itu dilakukan di Desa Syith, utara Libanon.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyaksikan mentan Presiden Israel Isaac Herzog dan istrinya, Michal, menerima suntikan dosis ketiga vaksin Pfizer di Rumah Sakit Sheba Medical Center di Ramat Gan, Israel. (Sheba Medical Center buat Albalad.co)

Eks presiden Israel jadi orang pertama di dunia disuntik dosis ketiga vaksin Pfizer

Vaksinasi ketiga dengan vaksin Pfizer ini untuk orang berumur 60 tahun ke atas. 

Eyal Hulata, mantan pejabat Mossad akan menjabat penasihat keamanan nasional Israel mulai 15 Agustus 2021. (Courtesy)

Kabinet Israel setujui penunjukan Eyal Hulata sebagai penasihat keamanan nasional

Hulata termasuk dari sedikit pejabat Israel mendukung kesepakatan soal nuklir Iran. 





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Bin Zayid undang perdana menteri Israel untuk berkunjung ke UEA

Undangan berkunjung bagi Bennett itu disampaikan dua pekan jelang lawatan Presiden Joko Widodo ke UEA, dijadwalkan datang pada 3-4 November. 

20 Oktober 2021

TERSOHOR