kabar

Identitas algojo ISIS terungkap

Nama asli Jihadi John adalah Muhammad Imwazi. Lelaki asal London ini dilahirkan di Kuwait.

27 Februari 2015 06:31

Dunia mengenal dia sebagai "Jihadi John," lelaki bertopeng dengan aksen Inggris telah menyembelih lima sandera ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan mengejek para penonton dalam rekman video eksekusi tersebar luas di Internet.

Tapi nama sebenarnya, menurut teman-temannya dan orang mengenal dirinya, adalah Muhammad Imwazi. Dia orang Inggris dari keluarga mapan, besar di London Barat dan sarjana komputer. Dia diyakini terbang ke Suriah pada 2012 dan akhirnya bergabung dengan ISIS.

"Saya tidak meragukan Muhammad adalah Jihadi John," kata seorang teman dekatnya dalam sebuah wawancara dengan surat kabar the Washington Post. "Dia sudah seperti saudara bagi saya...Saya yakin itu benar-benar dia."

Asim Quraisyi, Direktur Riset CAGE, lembaga hak asasi manusia berkantor di London, juga mempercayai Imwazi adalah Jihadi John, nama panggilan diberikan oleh beberapa tawanan ISIS. "Ada sebuah kemiripan amat sangat," ujarnya setelah ditunjukkan salah satu video pemenggalan sandera ISIS. "Ini membikin saya merasa cukup yakin dia (algojo itu) adalah orang yang sama."

CAGE pernah berkomunikasi dengan Imwazi lebih dari dua tahun setelah dia menuding badan intelijen Inggris mengusik dia. Pada 2010 dia menduga intel-intel Inggris mencegah dirinya terbang ke negara kelahirannya, Kuwait, untuk menikah.

Pihak-pihak berwenang telah menggunakan semua teknik penyelidikan, termasuk analisa suara dan mewawancarai bekas tawanan ISIS, buat mencari tahu siapa sebenarnya Jihadi John. Direktur FBI James B. Comey September tahun lalu - sebulan setelah Jihadi John menyembelih wartawan Amerika Serikat James Foley - menyatakan mereka telah mengetahui identitas sang algojo.

Tapi kenyataannya siapa sebenarnya Jihadi John masih misteri. Sejak membunuh Foley, dia muncul dalam sejumlah rekaman eksekusi dilakoni ISIS, termasuk empat penyembelihan dia lakukan sendiri atas Steven Sotloff, David Haines, Alan Henning, dan Abdurrahman Kassig.

Saban kali beraksi, dia berpakaian serba hitam dengan balaklava menutupi seluruh wajah kecuali dua matanya. Dia memakai sebuah sarung pistol di bawah lengan kirinya.

Pemerintah dan kepolisian Inggris menolak membenarkan atau membantah soal terungkapnya identitas Jihadi John. Mereka beralasan investigasi masih berlangsung. "Kami tidak membenarkan atau membantah masalah-masalah terkait intelijen," tutur seorang juru bicara Perdana Menteri David Cameron.

Para pejabat Amerika menolak mengomentari laporan ini. Keluarga Imwazi juga tidak mau diwawancarai.

Imwazi, 20-an tahun, cuma meninggalkan sedikit jejak di media sosial dan Internet. Orang-orang mengenal dirinya mengatakan dia santun dan gemar mengenakan pakaian modis meski sangat berminat mendalami Islam. Dia memiliki berewok dan berhati-hati menatap perempuan.

Dia dibesarkan di lingkungan kelas menengah di London dan biasa salat dia sebuah masjid di Greenwich.

Teman-temannya, menolak ditulis identitas mereka karena alasan keamanan, yakin Imwazi mulai menjadi radikal sehabis merencanakan perjalanan ke Tanzania setelah lulus dari Universitas Westminster. Tapi Imwazi bareng dua temannya - Abu Talib dan mualaf asal Jerman bernama Umar - ditahan semalam setelah mendarat di Ibu Kota Dar as-Salam Mei 2009. Tidak jelas alasan penahanan ketiganya dan mereka akhirnya dideportasi.

MI5 (dinas rahasia dalam negeri Inggris) menuduh dia ke Somalia untuk bergabung dengan kelompok militan Asy-Syabab, padahal dia terbang ke Amsterdam, Belanda.

Imwazi membantah tudingan itu dan mengklaim agen-agen MI5 berupaya merekrut dirinya. Namun seorang bekas sandera ISIS mengungkapkanĀ  Jihadi John amat terobsesi dengan Somalia. Dia memaksa tawanan-tawanannya menonton rekaman video soal Asy-Syabab.

Imwazi dan kedua rekannya itu dibolehkan kembali ke Inggris. Dia kemudian menemui Quraisyi pada musim gugur 2009 untuk membahas apa yang telah terjadi. "Muhammad benar-benar marah atas perlakuan tidak adil sudah dia terima," kata Quraisyi.

Tidak lama kemudian Imwazi memutuskan pindah ke Kuwait dan bekerja di sebuah perusahaan komputer, menurut surat-surat elektronik dia tulis kepada Quraisyi. Dia dua kali balik ke London, yang kedua untuk persiapan terakhir rencana pernikahannya di Kuwait.

Pada Juni 2010 para pejabat kontraterorisme Inggris menahan dia lagi tanpa alasan jelas. Sidik jari dan barang-barang miliknya diambil. Sehari kemudian, ketika ingin pulang ke Kuwait, dia dilarang.

"Saya punya pekerjaan dan pernikahan saya sebentar lagi," tulis Imwazi dalam surat elektroniknya kepada Quraisyi Juni 2010. "Saya merasa seperti seorang tahanan, hanya tidak dalam kurungan, di London. Seseorang ditahan dan diawasi oleh aparat keamanan, menghentikan saya menjalani hidup di negara kelahiran saya, Kuwait."

Hampir empat bulan kemudian, ketika pengadilan di Kota New York, Amerika Serikat, menjatuhkan hukuman terhadap Aafia Siddiqui, anggota Al-Qaidah berusaha membunuh seorang serdadu Amerika di Afghanistan, Imwazi menyampaikan rasa simpatinya. "Berita ini seharusnya menjaga kita tetap bertekad berjuang untuk kebebasan dan keadilan!!!"

Quraisyi mengatakan dia mendapat kabar terakhir dari Imwazi pada Januari 2012 ketika Imwazi mengirim surat sebuah surat elektronik meminta nasihat. Menurut Quraisyi, Imwazi akhirnya merasa telah dijahati dan dia mesti melawan.

Teman-teman dekat Imwazi juga bilang situasi dihadapi Imwazi membikin dia sangat ingin meninggalkan Inggris. Tapi tidak jelas kapan dan bagaimana dia bisa tiba di Suriah.

Seorang sahabatnya mengatakan rencana Imwazi menjadi guru bahasa Inggris di Arab Saudi pada 2012 gagal. Sejak saat itu dia menghilang.

"Dia benar-benar marah dan ingin memulai hidup baru di negara manapun," ujar salah satu temannya. "Dia sudah mencapai tahap di mana dia benar-benar berusaha mencari jalan keluar lain."

Setiba di Suriah, Imwazi pernah menghubungi keluarga dan setidaknya satu temannya. Tidak jelas apa yang dia katakan kepada mereka mengenai kegiatannya di negara itu.

Seorang bekas tawanan ISIS menjelaskan Jihadi John merupakan bagian dari sebuah tim beranggotakan tiga orang menjaga sandera-sandera Barat di sebuah penjara di Idlib, Suriah, pada 2013. Para tawanan menamai penjara itu "kotak". Di sana juga ada dua lelaki lain beraksen Inggris, salah satu dari mereka dipanggil "George". Dia bilang Imwazi juga ikut menyiksa empat tawanan asing.

Para mantan sandera mengungkapkan George adalah pentolan dari trio sipir itu. Jihadi John orangnya pendiam dan cerdas. "Dia paling tenang dan berhati-hati," tutur seorang bekas tawanan.

Awal 2014 sandera-sandera dipindah ke sebuah penjara di Raqqah, ibu kota ISIS. Trio Inggris itu pun kerap mengunjungi mereka.

Sekitar permulaan tahun lalu itu pula Quraisyi berusaha menghubungi Imwazi lewat surat elektronik, namun tidak kunjung ada balasan.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Jihadi John diduga kabur dari ISIS

Muhammad Imwazi diyakini kabur dari ISIS beberapa pekan lalu. Dia ketakutan setelah identitas aslinya terbongkar.

Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (www.dailymail.co.uk)

Alasan Jihadi John bergabung dengan ISIS

Muhammad Imwazi alias Jihadi John batal bergabung dengan Asy-Syabab karena takut dibunuh seperti beberapa temannya.

Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (www.dailymail.co.uk)

Jihadi John minta maaf kepada keluarga

Muhammad Imwazi meminta maaf melalui pihak ketiga.

Jasim Imwazi, ayah dri Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (dailymail.co.uk)

Ayah Jihadi John diminta tinggalkan Kuwait

Keberadaan Jasim Imwazi, 51 tahun, memalukan dan memusingkan pemerintah Kuwait.





comments powered by Disqus