kabar

Ayah Jihadi John tidak percaya putranya itu algojo ISIS

"Tidak ada bukti apa yang telah disiarkan media, khususnya lewat rekaman video dan foto, tertuduh itu adalah putra saya Muhammad," kata Jasim Imwazi.

05 Maret 2015 08:35

Dalam wawancara pertamanya dengan media, Jasim Imwazi membantah putra sulungnya, Muhammad Imwazi, adalah algojo ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dikenal dengan sebutan Jihadi John. Dia bilang apa yang disebarluaskan media cuma selentingan keliru.

"Tidak ada bukti apa yang telah disiarkan media, khususnya lewat rekaman video dan foto, tertuduh itu adalah putra saya Muhammad, diduga sebagai jagal ISIS," kata Jasim, 51 tahun, dalam wawancara khusus dengan surat kabar terbitan Kuwait, Al-Qabas.

Dia menyampaikan pesan bagi seluruh rakyat Kuwait rumor-rumor telah beredar soal anaknya adalah salah. "Karena saya merasa sebagian orang sudah meyakini itu, saya telah menunjuk seorang pengacara untuk membela saya dan membuktikan...apa yang disebarkan media tidak benar."

Identitas Muhammad Imwazi sebagai Jihadi John, 26 tahun, pertama kali dibongkar oleh surat kabar the Washington Post. Nama Jihadi John mendunia setelah muncul sebagai penyembelih dalam video eksekusi wartawan Amerika Serikat James Foley Agustus tahun lalu.

Pernyataan Jasim ini bertolak belakang dengan kabar telah beredar: dia dan istrinya mengenali Jihadi John adalah Muhammad Imwazi, anak mereka. Bahkan the Daily Mail kemarin memberitakan Jasim menyumpahi putranya itu sebagai anjing, binatang, dan teroris.

Salim al-Hasyasy, pengacara keluarga Imwazi di Kuwait, menyatakan kliennya bakal menggugat media dan semua pihak di media sosial telah menyebarluaskan kabar burung itu. Pihak keluarga juga sudah menunjuk seorang pengacara di Inggris. "Tidak ada bukti Muhammad adalah pria dalam rekaman-rekaman video eksekusi ISIS karena wajahnya ditutupi," tuturnya.

Seorang wartawan Al-Qabas menemui Jasim di kantor pengcaranya di kawasan elite Salmiyah, Kuwait City, Kuwait. Dia bilang Jasim kelihatan sangat ketakutan dan terguncang.

Salim menjelaskan kliennya itu amat tertekan lantaran banyak orang menyebut namanya. "Dia tidak berani meninggalkan rumah dan berjalan di luar. Dia ketakutan karena semua orang mempercayai rumor soal dia (Muhammad Imwazi) benar."

Dia menambahkan polisi Kuwait telah memeriksa Jasim tiga jam di kantor Kementerian Dalam Negeri Kuwait Ahad pekan lalu. Dia kemudian dilepaskan dan tidak ada batasan. Dia bilang belum ada badan intelijen asing menghubungi Jasim sejak kabar Imwazi adalah Jihadi John tersebar pekan lalu.

Salim mengungkapkan Jasim sudah berada di Kuwait sejak 30 November untuk menjenguk ibu dan putri tertuanya, Asma, 25 tahun. Dia bilang kliennya ini tidak memiliki pekerjaan di Kuwait, berbeda dengan laporan sebelumnya menyebut Jasim bekerja di sebuah supermarket.

Sedangkan istri dan empat anaknya lain masih menetap di Inggris di sebuah lokasi dirahasiakan. Mereka telah dipindah oleh aparat keamanan Inggris di tempat aman.

Wartawan Amerika Serikat James Foley saat akan dieksekusi, Agustus 2014. (abcnews.go.com)

Jihadi John diduga kabur dari ISIS

Muhammad Imwazi diyakini kabur dari ISIS beberapa pekan lalu. Dia ketakutan setelah identitas aslinya terbongkar.

Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (www.dailymail.co.uk)

Alasan Jihadi John bergabung dengan ISIS

Muhammad Imwazi alias Jihadi John batal bergabung dengan Asy-Syabab karena takut dibunuh seperti beberapa temannya.

Pembelot ISIS bernama Saleh. (thetimes.co.uk)

Alasan sandera ISIS kelihatan tenang saat mau dieksekusi

ISIS kerap mempraktekkan eksekusi bohongan dan meyakinkan semua sandera ini cuma untuk rekaman video.

Muhammad Imwazi alias Jihadi John, algojo ISIS. (www.dailymail.co.uk)

Jihadi John minta maaf kepada keluarga

Muhammad Imwazi meminta maaf melalui pihak ketiga.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Anak Raja Salman bertemu kepala Dewan Keamanan Nasional Israel

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Maret lalu, Pangeran Muhammad bin Salman menggelar pertemuan dengan para pemimpin organisasi pro-Zionis.

19 Juni 2018
Makkah tak lagi sakral
18 Juni 2018

TERSOHOR