kabar

Turki blokir situs kelompok atheis

Presiden Erdogan menyamakan atheis dengan teroris.

05 Maret 2015 09:58

Pengadilan di Kota Ankara, Turki, telah memblokir akses terhadap situs web milik Ateizm Dernegi (Masyarakat Atheis).

Mahkamah ini menyatakan komunitas anti-Tuhan itu sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Hakim menilai keberadaan situs dibikin tahun lalu di Istanbul itu mendorong ke arah kegiatan-kegiatan buat mengganggu ketertiban.

Ateizm Dernegi kemarin mengecam putusan pengadilan itu. Mereka menyebut vonis ini tidak demokratis dan tidak sah. Perkumpulan penganut atheis pertama di Turki ini menyebut hal itu bisa merusak reputasi negeri Dua Benua itu di luar negeri.

Dalam wawancara khusus dengan sebuah media Turki tahun lalu, para pendiri Ateizm Dernegi mengungkapkan mereka mendirikan asosiasi buat memberikan sokongan hukum bagi kaum atheis merasa terancam. Apalagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sudah menyamakan atheis dengan teroris.

Pianis Turki Fazil Say, dikenal sebagai atheis, divonis sepuluh bulan penjara pada 2013 karena komentar-komentarnya di Twitter dianggap melecehkan Islam.

Turki rutin memblokir sius-situs dianggap mengejek Islam.

Kiri ke kanan: Syekh Salman al-Audah, Syekh Awad al-Qarni, dan Dr. Ali al-Umari. (Twitter)

Arab Saudi akan eksekusi mati tiga ulama sehabis Ramadan

"Arab Saudi tidak akan menunggu sampai vonis mati dikeluarkan untuk mengeksekusi mereka," kata seorang sumber.

Empat perempuan pamer bra untuk membubarkan ratusan demonstran Yahudi ultra-Ortodoks di Yerusalem, 18 Mei 2019. (Screenshot)

Demonstran Yahudi ultra-Ortodoks bubar karena dihadang perempuan pamer bra

Kaum Yahudi ultra-Ortodoks kerap memprotes pemasangan poster perempuan di tempat umum atau media dengan alasan haram.

Jamaah berkumpul di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, sambil menunggu pembagian makanan berbuka puasa, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jamaah Qatar bisa pesan paket umrah setiba di Jeddah

Hubungan Saudi-Qatar memburuk sejak awal Juni 2017.





comments powered by Disqus