kabar

Lieberman sebut warga Arab Israel tidak setia pantas dipenggal

Dia menyebut Umm al-Fahm dihuni penduduk Arab tidak pantas menjadi bagian dari Israel.

10 Maret 2015 20:37

Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman menyatakan warga Israel keturunan Arab tidak setia kepada Israel layak dipenggal. Komentar menggegerkan itu dia sampaikan dalam sebuah konferensi di the Interdisciplinary Center Herzliya pekan ini.

"(Terhadap) orang-orang menentang kita, cuma satu hal perlu dilakukan. Kita ambil sebuah kapak dan kita potong kepalanya," kata Lieberman dalam konferensi bertajuk Memilih untuk Demokrasi - Pemilihan Umum 2015, seperti dilaporkan stasiun televisi Channel 2 News. "Kalau tidak, kita tidak akan selamat di sini."

Anggota Knesset (parlemen Israel) berdarah Arab Ahmad Tibi menyamakan pernyataan radikal Lieberman itu dengan kelakuan milisi garis keras ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini biasa memenggal sandera mereka atau orang-orang dituduh membunuh, murtad, atau berkhianat.

Karena itu, Tibi menyerukan kepada para pemilih berdarah Arab buat mencoblos koalisi partai Arab. "Makin kita kuat, kian lemah negara Yahudi radikal mirip ISIS," ujarnya.

Lieberman mengulangi pula gagasannya untuk mengusir warga keturunan Arab tidak setia ke wilayah Palestina di Jalur Gaza atau Tepi Barat. Dia mencontohkan Umm al-Fahm, wilayah dihuni penduduk keturunan Arab, tidak layak menjadi bagian dari Israel. "Warga negara Israel mengibarkan bendera hitam di Hari Nakbah, menurut saya, mereka pantas pergi. Saya sangat senang mengirim mereka kepada Abu Mazin," tuturnya, merujuk pada Presiden Palestina Mahmud Abbas.

Presiden Chad Idris Deby mengadakan pertemuan dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota N'Djamena, 20 Januari 2019. (Twitter/@netanyahu)

Dua pemimpin negara Arab telepon Trump ingin normalisasi hubungan dengan Israel

"Mereka cuma ingin keamanan, perdamaian, dan mereka telah lelah bermusuhan," ujar Trump.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Pertemuan segitiga digelar di Abu Dhabi hari ini buat bahas normalisasi hubungan Sudan-Israel

Sudan meminta tiga syarat: bantuan dana segera senilai lebih dari US$ 3 miliar, komitmen Amerika dan UEA untuk mendukung ekonomi Sudan selama tiga tahun, dan menghapus Sudan dari daftar negara pendukung terorisme.

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu pernah bertemu Bin Zayid di Abu Dhabi

Netanyahu ditemani bos Mossad pada 2018 terbang diam-diam ke Abu Dhabi.

Israel Katz, Menteri Luar Negeri Israel, bertemu Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid bin Ahmad al-Khalifah di Washington DC, 17 Juli 2019. Keduanya membahas mengenai Iran. (Courtesy)

Ikatan rahasia Bahrain-Israel

Raja Bahrain sudah dua kali bertemu perdana menteri Israel.





comments powered by Disqus