kabar

Berlenggak-lenggok di Baghdad

Baghdad membikin pagelaran busana pertama sejak 1988.

15 Maret 2015 08:03

Ummu Mustafa dan suaminya menghentikan semua tugas keluarga, membeli pakaian-pakaian baru, dan sepekan penuh mempersiapkan edisi perdana pagelaran busana di Ibu Kota Baghdad, Irak. "Acara serupa terakhir kami lihat pada 1988 di Hotel Palestina," kata Ummu Mustafa hadir bersetelan merah dengan cat kuku merah muda seraya menggenggam telepon cerdasnya.

"Kami menyukai fesyen dan desain...Situasi keamanan telah mempengaruhi segalanya," ujar suaminya, juga berusia hampir berkepala lima. "Ada kemajuan di sini tapi tidak ada kesempatan buat menunjukkan kepada dunia."

Meski berperang delapan tahun menghadapi Iran, Baghdad pada 1980-an memiliki kehidupan budaya bersemangat dan masyarakatnya tidak begitu konservatif dalam soal agama.

Sekitar 500 orang Jumat lalu keluar berbalut busana terbaik mereka untuk menyaksikan 16 model perempuan Irak berlenggak-lenggok di atas panggung di hotel mewah Royal Tulip. Model-model ini memamerkan pakaian karya enam perancang Irak.

Banyak dari rancangan ditampilkan merupakan variasi dari tema Arab tradisional, termasuk koleksi pola kafiyeh bersegi empat memukau penonton. Model-model tampil biasa saja tanpa mengerdipkan mata atau menyorongkan bibir mereka ke arah kamera.

Meski begitu, pagelaran busana perdana dalam 27 tahun terakhir itu telah mengirim sebuah isyarat. "Mimpi ini telah menjadi kenyataan. Saya selalu mengimpikan kejadian seperti ini sejak lama," tutur Aiman Sultan Hajim, satu-satunya desainer lelaki menampilkan karyanya dalam pagelaran busana itu.

"Saya merasa pemenang atas diri saya dan masyarakat," kata pria 30 tahun asal Kota Basrah di selatan Irak ini. Masyarakat di sana umumnya konservatif.

Berjubel di pintu masuk ruang ganti, sejumlah model kelihatan ngeri sebelum pagelaran dimulai. Hanin, 22 tahun, bilang cuma ibunya tahu dia bakal menjadi model dalam Baghdad Fashion Show. "Saya tidak bilang kepada siapa pun karena tak seorang pun bakal menerima ini...Ayah saya mengira saya bekerja di sebuah butik," ujarnya. "Orang tidak sadar nyawa Anda terancam jika memilih menjadi model."

Sejumlah model lain mengaku didorong oleh ibu mereka untuk tampil. "Masyarakat Irak sebelumnya seperti ini. Ekstremisme agama telah mengubah semua. Pada 1980-an masyarakat tidak berhaluan keras," tutur Thanaa, ibu dari salah satu model.

Lebih dari sekadar selingan di tengah konflik dan ketidakstabilan membekap Irak bertahun-tahun, beberapa orang berpendapat pagelaran busana ini sebagai sebuah perlawanan. "Ini sebuah usaha dalam situasi politik dan keamanan seperti sekarang buat menyokong pemerintah," kata desainer sekaligus penyelenggara acara Sinan Kamil, 35 tahun, saat membuka ajang itu. "Pesan terpenting kami sampaikan kepada dunia hari ini adalah Irak masih hidup."

Seratusan kilometer di utara sepanjang Sungai Tigris, ribuan tentara, polisi, dan milisi tengah bertempur menghadapi ISIS (Negaara Islam Irak dan Suriah).

Abdil Kadir Ghassan, manajer pemasaran perusahaan wisata, merasa Baghdad Fashion Show telah berkontribusi. "Jika Anda di Baghdad, ini adalah tindakan perlawanan terbesar, bukan lewat perang tapi melalui gagasan."

Kiri ke kanan: Syekh Salman al-Audah, Syekh Awad al-Qarni, dan Dr. Ali al-Umari. (Twitter)

Arab Saudi akan eksekusi mati tiga ulama sehabis Ramadan

"Arab Saudi tidak akan menunggu sampai vonis mati dikeluarkan untuk mengeksekusi mereka," kata seorang sumber.

Empat perempuan pamer bra untuk membubarkan ratusan demonstran Yahudi ultra-Ortodoks di Yerusalem, 18 Mei 2019. (Screenshot)

Demonstran Yahudi ultra-Ortodoks bubar karena dihadang perempuan pamer bra

Kaum Yahudi ultra-Ortodoks kerap memprotes pemasangan poster perempuan di tempat umum atau media dengan alasan haram.

Jamaah berkumpul di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, sambil menunggu pembagian makanan berbuka puasa, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jamaah Qatar bisa pesan paket umrah setiba di Jeddah

Hubungan Saudi-Qatar memburuk sejak awal Juni 2017.





comments powered by Disqus