kabar

Perempuan Saudi divonis 70 kali cambukan sebab hina orang via WhatsApp

Dia juga dikenai denda sekitar Rp 70 juta.

18 Maret 2015 15:20

Sebuah pengadilan di Arab Saudi telah menjatuhkan hukuman 70 kali cambukan bagi seorang perempuan karena sudah menghina seorang pria melalui WhatsApp.

Wanita 32 tahun tidak disebut namanya ini mengaku memang telah mengejek seorang pria, tapi dia tidak terima dengan vonis itu, seperti dilaporkan GulfNews.com. Surat kabar Okaz menulis perempuan itu juga dikenai denda 3.600 pound sterling atau sekitar Rp 70 juta.

Dalam kasus terpisah, seorang hakim mengabulkan gugatan cerai seorang lelaki terhadap istrinya. Alasannya, dia merasa tersinggung dengan pernyataan istrinya di Twitter, seperti dilansir koran Al-Hayat.

Dia mengklaim tulisan itu tidak pantas dan ditujukan kepada dirinya. Isinya: "Saya berdoa untuk tetap bersabar hidup bersama dia."

Pengadilan Kota Jeddah, Arab Saudi, Juli tahun lalu juga menghukum dua perempuan gara-gara saling mengejek lewat WhatsApp. Keduanya divonis penjara sepuluh hari dan dicambuk 20 kali.

Sampah makanan. (Saudi Gazette)

FAO sebut Arab Saudi negara paling banyak buang makanan

FAO bilang saban tahun terdapat 427 ton makanan dibuang di negara Kabah itu.

Sejumlah warga Arab Saudi siap menikmati makanan dalam jumlah kelewat banyak. (Caravan Daily)

Jumlah makanan terbuang di Arab Saudi saban tahun senilai Rp 181 triliun

Program itu juga untuk memperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan dalam menghasilkan produk daur ulang.

Microsoft dipkasa meminta maaf karena keliru menerjmehkan Dais menjadi ZArab Saudi. (Fortune)

Microsoft minta maaf karena salah menerjemahkan Dais menjadi Arab Saudi

Kepala Microsoft di Arab Saudi Mamduh Najjar meminta maaf atas kekeliruan itu.

Pangeran Bandar bin Sultan, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat pada 1983-2005. (BBC)

Arab Saudi ancam jual total aset US$ 750 miliar di Amerika Serikat

Keluarga korban Teror 11/9 meyakini sejumlah pejabat Arab Saudi terlibat dalam perencanaan serangan 11 September 2001.





comments powered by Disqus