kabar

Pengejek Arab kuasai Knesset

Netanyahu menang pemilihan umum setelah berkampanye anti-Arab.

19 Maret 2015 10:41

Beberapa hari menjelang pelaksanaan pemilihan umum Israel, partai-partai politik Arab mempersiapkan peranan bakal mereka mainkan dalam pemerintahan baru berhaluan kiri-tengah tadinya diperkirakan dipimpin Isaac Herzog, komandan Aliansi Zionis. Munculnya Barisan Bersama merupakan koalisi partai Arab adalah salah satu pemicu komentar pedas dari Benjamin Netanyahu soal kaum oposisi mendompleng para pemilih Arab buat memenangkan pemilu.

Pernyataan itu dikritik lantaran Perdana Menteri Netanyahu memainkan kartu agama dan rasial untuk meraih kekuasaan buat periode keempat. Janji jika terpilih lagi tidak bakal ada negara Palestina mendorong para pemilih ultra-nasionalis mencoblos Netanyahu.

Untuk pertama kali dalam pesta demokrasi di negara Zionis itu, partai-partai Arab mampu bergabung dalam satu faksi. Pemimpin mereka, Aiman Udah, dipandang banyak pihak sebagai tokoh pembaru kemungkinan besar bisa menjadi menteri dalam pemerintahan koalisi.

Barisan Bersama akhirnya mampu meraup 14 kursi di Knesset, menjadikan mereka sebagai partai ketiga terbesar di parlemen setelah Likud (30 kursi) dan Aliansi Zionis (24 kursi). Namun dengan kemenangan Netanyahu itu, kesempatan mereka berpengaruh dalam pemerintahan melorot drastis.

Para pemimpin Barisan Bersama tetap bersahaja selepas pemilu Selasa lalu. Padahal politisi dari kubu lain sudah tampil di media dan bertemu para pendukung mereka. Alasannya, menurut seorang pejabat Barisan Bersama, mereka tengah mabuk kemenangan.

Di jalan-jalan di Nazareth, kota berpenduduk mayoritas Arab, terasa dingin menyambut pesta demokrasi untuk kesekian kalinya. Mereka yakin pemilu tidak bakal mengubah nasib: bangsa Arab Palestina tetap menjadi warga negara kelas dua di Israel.

"Saya dilahirkan di bulan dan tahun sama dengan Netanyahu. Saya tidak senang soal itu," kata Hamid, pengelola sementara Gereja Ucapan. Netanyahu dilahirkan pada 21 Oktober 1949. "Saya kira tidak akan lebih baik selama dia masih berkuasa."

Bagi Hamid, Isaac Herzog bisa memberi harapan lebih baik bagi orang-orang Palestina di Israel. "Kami hidup di tanah Israel dan orang-orang Israel tentu berhak tinggal di sini. Tapi orang-orang Palestina juga mempunyai hak dan itu sudah lama dilupakan," ujarnya.

Di Yerusalem Timur, di mana bentrokan rutin terjadi sejak sebelum pecah perang 50 hari di Jalur Gaza, sekelompok pemuda bersuara lantang menyebut hasil pemilu sekali lagi menunjukkan warna sebenarnya dari orang-orang Israel.

"Mereka berisik bilang perlunya hidup berdampingan dengan orang-orang Arab, tapi kemudian lihat apa yang terjadi," tutur Said Mansyur, mahasiswa berusia 22 tahun. "Tengoklah hasil survei, Netanyahu kalah. Dia kemudian mulai mengatakan hal-hal buruk mengenai orang Arab. Orang-orang Yahudi lantas berbondong-bondong memilih dia dan memberikan dia kemenangan besar."

Tidak semua orang Palestina menolak pemimpin Partai Likud itu. Alaa, 21 tahun, penganut Nasrani, mencoblos Netanyahu seperti pemilu sebelumnya. "Saya memilih Bibi (sapaan Netanyahu) untuk menjaga semuanya stabil. Kita kedatangan banyak pelancong dan bisnis berjalan baik, kenapa kita mesti mengubah keadaan itu?" katanya.

Bibi telah menang secara kontroversial, tentu saja harga mesti dia bayar nantinya mahal.

Presiden Chad mengadakan pertemuan dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota N'Djamena, 20 Januari 2019. (Twitter/@netanyahu)

Israel dan Chad membuka kembali hubungan diplomatik

Alhasil, tinggal tujuh negara muslim di sub-Sahara Afrika belum memiliki hubungan resmi dengan Israel, yakni Mali, Niger, Sudan, Mauritania, Somalia, Djibouti, dan Komoro.

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Kemenangan Netanyahu atas para pemimpin negara muslim

Bahkan kini banyak negara muslim mulai bersahabat dengan Israel, baik terang-terangan atau rahasia.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan penguasa Oman Sultan Qabus bin Said di Muskat, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Oman dan Sudan izinkan wilayah udara mereka dilintasi pesawat Israel

Klaim Netanyahu ini sekaligus membuktikan kian mesranya hubungan antara negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dengan Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menerima Presiden Chad Idris Deby di kantornya di Yerusalem, 27 November 2018. (GPO)

Netanyahu segera terbang ke Chad buat umumkan pembukaan kembali hubungan diplomatik

Chad memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel pada 1972 lantaran ada tekanan dari negara Arab tetangganya, Libya dan Sudan.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Israel dan Chad membuka kembali hubungan diplomatik

Alhasil, tinggal tujuh negara muslim di sub-Sahara Afrika belum memiliki hubungan resmi dengan Israel, yakni Mali, Niger, Sudan, Mauritania, Somalia, Djibouti, dan Komoro.

20 Januari 2019

TERSOHOR