kabar

Gunting rambut murid tak berjilbab, guru di Mesir dipecat

Nura sebenarnya sudah memohon agar tidak dihukum dan berjanji memakai jilbab.

24 Maret 2015 08:05

Gubernur Provinsi Fayum, Mesir, Ahad lalu memberhentikan seorang guru agama karena telah menggunting paksa rambut muridnya tidak berjilbab, seperti dilaporkan kantor berita Mesir MENA.

Kejadian itu berlangsung Kamis pekan lalu. Korbannya adalah Nura, pelajar kelas lima sekolah dasar.

Saat diwawancarai media, Nura menceritakan guru agama tidak ditulis namanya itu mendorong kepalanya dan memukul jemarinya dengan pulpen sebelum menggunting beberapa helai rambutnya.

Nura sebenarnya sudah memohon agar rambutnya tidak dipotong. Dia bahkan berjanji memakai jilbab, namun gurunya itu tetap berkukuh melaksanakan hukuman.

Kejadian serupa terhadap pelajar tidak berjilbab berlangsung pada 2012 dan tahun lalu. Padahal tidak ada undang-undang di Mesir mewajibkan perempuan berjilbab.

Petugas pembersih membersihkan kantor Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, beberapa jam sebelum tim investigasi Turki masuk. (Twitter)

Konsul jenderal Arab Saudi saksi kunci pembunuhan Jamal Khashoggi

Muhammad al-Utaibi melihat langsung Jamal Khashoggi dihabisi dalam ruang kerjanya.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Konsul jenderal Arab Saudi di Istanbul kabur ke negaranya

Tim investigasi Turki menemukan bahan beracun dalam kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Jamal Khashoggi dan tunangannya, Hatice Cengiz. (Hatice Cengiz)

Arab Saudi akan akui Jamal Khashoggi telah dibunuh

Hasil penyelidikan polisi Turki menunjukkan Khashoggi disiksa hingga tewas.

Delegasi muslim asal Indonesia, termasuk dua pejabat MUI - Profesor Istibsyaroh dan Kiai Mayshudi Suhud - saat diterima di kediaman Presiden Israel Reuven Rivlin pada 18 Januari 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Netanyahu: Kami ingin bina hubungan diplomatik dengan Indonesia

Sudah tiga kali terjadi pertemuan antara perdana menteri Israel dengan pemimpin Indonesia, yaitu Yitzhak Rabin dan Soeharto (1993), Abdurrahman Wahid dan Ehud Barak (2001), serta Jusuf Kalla dan Netanyahu (2018).





comments powered by Disqus