kabar

Netanyahu minta maaf kepada minoritas Arab

Aiman Udah menolak permintaan maaf itu dengan alasan tidak jujur.

24 Maret 2015 09:08

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemarin malam mengundang beberapa lusin pemimpin Arab dari kelompok muslim, Kristen, Druze, dan Badui di kediaman resminya di Yerusalem. Dalam kesempatan itu dia meminta maaf atas komentarnya menjelang pemilihan umum pekan lalu.

Dia mengaku sadar sejumlah pernyataannya telah menghina beberapa warga negara Israel dan melecehkan komunitas Arab-Israel. "Saya tidak pernah berniat seperti itu. Saya minta maaf atas hal ini," katanya.

"Saya memandang diri saya sebagai perdana menteri bagi tiap warga negara Israel tanpa melihat latar agama, etnik, atau jenis kelamin," ujarnya. "Saya berpendapat semua warga Israel sebagai kawan dalam membangun negara Israel sejahtera dan aman bagi seluruh orang Israel."

Beberapa jam menjelang berakhirnya masa kampanye Netanyahu mengejek para pemilih Arab mirip gerombolan hewan peliharaan digiring oleh partai berhaluan kiri untuk mencoblos. Selama berkampanye pemimpin Partai Likud ini juga menegaskan tidak bakal ada negara Palestina bila dia menjadi perdana menteri lagi.

Komentar Netanyahu ini terbukti berhasil membalikkan hasil banyak jajak pendapat: dia akan kalah. Pemilihan umum digelar 17 Maret lalu ini menghasilkan Likud sebagai pemenang dengan raihan 30 kursi di Knesset (parlemen Israel). Disusul Aliansi Zionis (24 kursi), dan Barisan Bersama merupakan koalisi empat partai Arab (13 kursi), menjadikan mereka sebagai partai terbesar ketiga di Knesset.

Warga keturunan Arab berjumlah seperlima dari seluruh penduduk negara Zionis itu. Keadilan dijamin dalam konstitusi Israel namun kenyataannya banyak orang Arab sudah lama mengeluhkan mengenai diskriminasi, khususnya dalam sektor pekerjaan dan perumahan.

Aiman Udah, pemimpin Barisan Bersama, mengatakan permintaan maaf Netanyahu ditolak. "Ini bukan permohonan maaf jujur," ucapnya kepada stasiun televisi Channel 2. "Dia telah menghasut warga negara tengah menggunakan hak mereka untuk memilih."

Dia menuding Netanyahu memainkan politik zigzag. Hari ini berkomentar satu hal, lain hari berbicara berbeda.

Anggota Knesset senior dari komunitas Arab, Ahmad Tibi, juga tidak meyakini Netanyahu benar-benar meminta maaf. "Diskriminasi adalah kebijakan dan keadilan merupakan cara hidup di mana perdana menteri dan pemerintahnya amat jauh dari hal itu, seperti bumi dan langit."

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu bilang stabilitas Arab Saudi sangat penting

Dia menyebut persoalan nuklir Iran lebih penting ketimbang pembunuhan Khashoggi.

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu melawat ke Oman

Kunjungan itu atas undangan penguasa Oman, Sultan Qabus bin Said.

Delegasi muslim asal Indonesia, termasuk dua pejabat MUI - Profesor Istibsyaroh dan Kiai Mayshudi Suhud - saat diterima di kediaman Presiden Israel Reuven Rivlin pada 18 Januari 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Netanyahu: Kami ingin bina hubungan diplomatik dengan Indonesia

Sudah tiga kali terjadi pertemuan antara perdana menteri Israel dengan pemimpin Indonesia, yaitu Yitzhak Rabin dan Soeharto (1993), Abdurrahman Wahid dan Ehud Barak (2001), serta Jusuf Kalla dan Netanyahu (2018).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah membahas rencana pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di gedung Putih pada Senin, 5 Maret 2018, waktu Washington DC. (Twitter/@netanyahu)

Kemlu Israel tidak bantah soal adanya pertemuan Netanyahu dan Jusuf Kalla

Pertemuan berlangsung Sabtu pekan lalu di New York.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

CIA simpulkan anak Raja Salman perintahkan bunuh Khashoggi

Atas perintah putera mahkota, Khalid bin Salman menyarankan Khashoggi mengurus dokumen buat menikah ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

17 November 2018

TERSOHOR