kabar

Mengenal milisi Al-Hutiyun

Milisi Al-Hutiyun mulanya gerakan teologi mengajarkan perdamaian tapi mereka kini menjadi pusat konflik internasional.

30 Maret 2015 11:09

Setelah sempat bercokol di puncak kekuasaan sebentar, pasukan koalisi Arab dikomandoi Arab Saudi sejak Kamis pekan lalu mulai menggempur Yaman buat menghentikan laju Al-Hutiyun.

Meletupnya pemberontakan Al-Hutiyun bermula Agustus tahun lalu, ketika ribuan penyokong mereka turun ke jalan-jalan di Ibu Kota Sanaa, Yaman, mendesak Presiden Abdurabbu Mansyur Hadi turun.

Di antara sekian tuntutan mereka, pemimpin kelompok Al-Hutiyun Abdul Malik al-Hutiyun meminta subsidi bahan bakar dipotong sebulan sebelumnya dikembalikan. Dia mengancam bila ultimatum ini tidak dilaksanakan, Al-Hutiyun bakal mengambil langkah lain. Mereka juga menuntut jatah kursi lebih banyak di pemerintahan. Padahal pembagian kekuasaan di antara partai politik dan aktivis independen sudah dilakukan saat Konferensi Dialog Nasional selama sepuluh bulan, sebuah mekanisme dijalankan untuk memetakan masa depan politik Yaman sehabis revolusi 2011.

"Pemerintahan ini adalah sebuah boneka di bawah kendali kekuatan berpengaruh, berbeda dengan tuntutan berhak dan jujur dari rakyat Yaman," kata Abdul Malik al-Hutiyun dalam pidatonya, merujuk pada Amerika Serikat. Kelompok bersenjata Al-Hutiyun akhirnya menyerbu kantor-kantor penting pemerintah di Sanaa.

Presiden Yaman Abdurabbu Mansyur Hadi telah menyerukan dialog dengan Al-Hutiyun, mengundang kelompok ini bergabung dalam pemerintahan persatuan. Kedua pihak akhirnya meneken perjanjian damai ditengahi Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman Jamal Bin Umar.

Kesepakatan ini meminta Al-Hutiyun mundur dari Sanaa dan menghentikan serangan di provinsi-provinsi lain sebagai syarat agar tuntutan mereka dipenuhi. Namun pemberontak Syiah ini tidak menghormati perjanjian dan terus memperluas kekuasaan mereka, termasuk merebut kota pelabuhan Hudaida di tepi Laut Merah.

Pada Oktober tahun lalu Presiden Hadi menunjuk Duta Besar Yaman buat Amerika Khalid Bahah sebagai perdana menteri. Al-Hutiyun awalnya menyambut baik penunjukan Bahah, namun ketegangan meletup lagi setelah mereka menolak pasal membagi Yaman menjadi enam provinsi dalam rancangan konstitusi baru.

Ketika Hadi menolak lengser, pasukan Al-Hutiyun menyerbu istana dan memaksa dia berhenti. Hadi menuduh pemberontak ini memaksa dia menempatkan orang-orang Al-Hutiyun di posisi penting dalam pemerintahan. Al-Hutiyun lantas mengenakan status tahanan rumah bagi Hadi, perdana menteri, dan dua menteri. Februari lalu mereka mengumumkan Presiden Hadi telah diganti oleh dewan kepresidenan beranggotakan lima orang dan bersifat sementara.

Hadi lari ke Aden pada 21 Februari, menyatakan dirinya sebagai presiden Yaman sah. Sebulan kemudian Saudi mulai melancarkan serangan udara ke Yaman dan memberi perlindungan kepada Hadi di Ibu Kota Riyadh.

Resminya dikenal dengan nama Ansarullah (pejuang Allah), pemberontak Al-Hutiyun mulanya gerakan teologi mengajarkan toleransi dan perdamaian di era 1990-an, menurut Ahmad Addaghasyi, profesor di Universitas Sanaa dan penulis dua buku mengenai Al-Hutiyun: Houthi Phenomenon serta Houthis and Their Political and Military Future.

Dia menjelaskan gerakan Al-Hutiyun aslinya bervisi pendidikan dan budaya. Kelompok berafiliasi dengan sekte Syiah Zaidiyah ini memiliki pendukung kuat di Provinsi Saadah, utara Yaman.

"Kelompok ini bermula sebagai sebuah perkumpulan disebut Forum Pemuda Berkeyakinan di awal 1990-an," kata Addghasyi kepada stasiun televisi Al-Jazeera. "Kemudian pecah ke dalam dua kelompok, pertama menyerukan keterbukaan dan golongan kedua tetap berpegang teguh pada tradisi Syiah."

Ironisnya, dia menekankan, Husain Badir Addian al-Hutiyun, pendiri kelompok Al-Hutiyun, memilih jalur pertama. "Kelompok ini mulai bersenjata pada 2004 sebagai alat bela diri saat pecah perang pertama dengan pemerintah," ujarnya.

Addagasyi bilang konflik antara pasukan Yaman dan milisi Al-Hutiyun dimulai ketika pendukung Al-Hutiyun berunjuk rasa di masjid-masjid di Sanaa. Presiden Ali Abdullah Saleh memandang itu sebagai pemberontakan.

Saleh lantas memerintahkan menangkap sejumlah anggota Al-Hutiyun dan mendesak pemimpin mereka Husain Al-Hutiyun menghentikan protes-protes dalam masjid. "Perang pertama dimulai ketika Saleh mengirim tentara ke Provinsi Saadah untuk menangkap Husain karena menolak menyerahkan anggotanya," tutur Addagasyi.

Husain al-Hutiyun terbunuh pada 2004 dalam pertempuran menghadapi pasukan pemerintah. Setelah berperang bertahun-tahun kedua pihak bertikai menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 2010 dan 2011. Al-Hutiyun termasuk di antara banyak kekuatan ikut dalam revolusi buat menumbangkan rezim Saleh.

Al-Hutiyun menentang salah satu rekomendasi dari Konferensi Dialog Nasional, yakni mengubah Yaman menjadi negara federal terbagi dalam enam negara bagian. Provinsi Saadah sudah lama menjadi basis Al-Hutiyun bakal masuk dalam wilayah Negara Bagian Sanaa.

Al-Hutiyun meminta peran lebih besar dalam pemerintahan federal. Mereka juga menuntut Saadah menjadi negara bagian sendiri. Dalam dokumen dilansir situs pembocor WikiLeaks, para analis pertahanan Amerika memperkirakan Al-Hutiyun tidak ingin melepaskan diri dari Yaman, mereka cuma mau otonomi khusus.

"Al-Hutiyun merupakan bentuk dari frustasi meluas terhadap pemerintah dan naiknya harga bahan bakar membuat mereka memperoleh dukungan serta konsesi politik," kata April Longley Alley, ahli Yaman di the International Crisis Group, kepada kantor berita AFP tahun lalu. "Apa yang terjadi sekarang menjadi posisi tawar politik kian berbahaya sebagai bagian dari strategi Al-Hutiyun menjadi kekuatan politik dominan di utara dan dalam pemerintahan nasional."

Al-Hutiyun mencatat sejumlah kemenangan penting atas pemerintah dan kelompok suku menjadi saingan mereka. Musim panas tahun lalu, disokong suku-suku setia kepada Saleh, milisi Al-Hutiyun mencaplok Amran dari kekuasaan suku Hasyid. Ini merupakan kekalahan hina dialami klan berpengaruh Al-Ahmar, pendiri Partai Islah beraliran Sunni.

Partai Islah, pesaing dari Al-Hutiyun, menuding pemberontak Syiah itu telah menjadi wakil Iran dan berupaya mengembalikan kekuasaan sekte Zaidiyah pernah bercokol di Yaman hingga 1962. Islah berulang kali menuduh Al-Hutiyun menciptakan kekacauan di Amran sebagai bagian dari rencana buat menguasai Ibu Kota Sanaa.

Al-Hutiyun dari sejarahnya berkaitan dengan paham Syiah Zaidiyah di tengah meningkatnya pengaruh ajaran Salafi di Yaman. Sejak revolusi 2011, Al-Hutiyun terlibat dalam pelbagai konflik sektarian.

Setahun setelah dimulainya revolusi dan berakhir dengan tumbangnya kekuasaan Saleh, pasukan Al-Hutiyun mengepung sebuah sekolah agama milik kelompok Salafi di Saadah. Mereka menuduh sekolah itu dpakai buat merekrut pejuang asing, tapi Salafi mengatakan pengepungan ini merupakan usaha Al-Hutiyun memperkuat pengaruh mereka di sana.

Ratusan orang terbunuh dalam pertempuran berakhir dengan kesepakatan Salafi bakal pergi dari Provinsi Saadah. Pertempuran di kota-kota lain dekat Sanaa berlangsung antara Al-Hutiyun menghadapi Partai Islah dan milisi-milisi lain menjadi pendukungnya.

"Partai Islah...takut Ansarullah akan menuntut balas atas keterlibatan mereka dalam rezim Saleh saat perang di Saadah," kata Usamah Sari, wartawan pendukung Al-Hutiyun, kepada Al-Jazeera. Menurut Sari, Al-Hutiyun menuduh Islah menghasut rakyat untuk membenci mereka dan mengajak beberapa resimen angkatan darat buat memerangi mereka.

Pemerintahan Hadi dan beberapa kaum oposisi menyangka Iran mempersenjatai milisi Al-Hutiyun. Pemerintah mengungkapkan telah menyita kargo berisi senjata asal Iran akan dikirim ke utara, namun Al-Hutiyun bilang kargo itu berisi bantuan kemanusiaan dari luar negeri.

Tidak seperti pendahulunya, Hadi - menjabat presiden pada 2012 setelah rezim Saleh roboh - kurang bermusuhan terhadap Al-Hutiyun, sehingga memicu kemarahan partai-partai Islam, menuding dia menutup mata atas kejahatan telah dilakoni Al-Hutiyun.

Menteri Pertahanan Yaman Muhammad Nasir Ahmad menegaskan angkatan bersenjata bersikap netral dan tidak di bawah pengaruh kepetingan semua pihak.

Kelompok Al-Hutiyun mulai masuk ke dalam panggung utama politik Yaman setelah meraih 35 kursi di Konferensi Dialog Nasional. Pertemuan ini dihadiri 565 delegasi dari semua aliran politik di Yaman, termasuk kelompok suku dan agama, aktivis perempuan dan hak asasi manusia.

Setelah Saudi mulai memimpin serbuan udara terhadap Al-Hutiyun, Hadi menyerukan milisi Syiah ini melucuti senjata dan para pentolan mereka menyerahkan diri.

Syekh Salman al-Audah. (Twitter)

Arab Saudi adili ulama tersohor secara rahasia

Arab Saudi menahan Syekh Salman dan Syekh Awad al-Qarni sejak September tahun lalu.

Pengungsi Palestina di Yordania. (Middle East Monitor)

Arab Saudi tolak beri visa haji bagi pengungsi Palestina di Yordania

Penolakan ini atas instruksi dari pemerintah Yordania.

Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz bin Abdullah asy-Syekh. (spa)

Mufti agung Saudi serukan wajib militer

"Wajib militer bagi para pemuda kita penting dan perlu untuk memastikan kekuatan kita tidak bisa dikalahkan," kata Syekh Abdul Aziz.





comments powered by Disqus