kabar

Pasang surut era senjata nuklir

Israel satu-satunya negara di Timur Tengah memiliki senjata nuklir.

03 April 2015 15:00

Masyarakat internasional menyambut baik tercapainya kesepakatan soal program nuklir Iran kemarin. Pihak Barat merasa berakhirnya krisis telah berlangsung satu dasawarsa itu seolah menyelamatkan dunia dari ancaman perang nuklir. Padahal senjata nuklir masih tersebar di sembilan negara.

Ketika era perlombaan senjata nuklir pada puncaknya terdapat 125 ribu hulu ledak nuklir dan hampir semuanya dimiliki Amerika Serikat dan Uni Soviet (kini diwariskan ke Rusia setelah Soviet bubar pada awal 1990-an). Saat ini hanya tersisa sepuluh ribu hulu ledak nuklir.

Selama 1960-an sampai 1980-an ada lusinan negara berminat mempunyai senjata nuklir, termasuk Swedia, Korea Selatan, Taiwan, Afrika Selatan, dan Ukraina. Penyebaran senjata nuklir kian terbatas setelah ditekennya Perjanjian Non-proliferasi Nuklir (NPT) pada 1970.

Di Timur Tengah, kawasan tidak pernah sepi konflik bersenjata, hanya Israel diyakini memiliki 80 senjata nuklir. Namun kepada Albalad.co, Mordechai Vanunu, pembocor rahasia nuklir Israel sekaligus mantan teknisi di reaktor nuklir Dimona di Gurun Negev, selatan Israel, menegaskan Israel sudah memperoduksi 200 bom nuklir. Hulu-hulu ledak nuklir ini bisa menyasar tiap tempat di Iran secara tepat, baik lewat darat, laut, atau udara.

Namun tidak ada satu pun negara Arab berkekuatan nuklir. Mesir, salah satu negara Arab terpenting, kekurangan fulus dan masih disibukkan oleh gangguan keamanan di Semenanjung Sinai serta konflik di negara tetangga Libya.

Arab Saudi bisa meminta bantuan senjata nuklir dari Pakistan jika memang diperlukan karena keduanya memiliki perjanjian jangka panjang soal itu. Uni Emirat Arab dan Yordania berniat membangun reaktor nuklir buat kepentingan energi.

Amerika dan Rusia sampai sekarang masih menyiagakan dua ribu hulu ledak nuklir siap ditembakkan dalam lima hingga 15 menit setelah perintah dikeluarkan. Kedua negara ini lima tahun lalu menandatangani perjanjian buat saling mengurangi hulu ledak nuklir mereka hingga sepertiga dari total dimiliki saat ini.

Amerika masih memandang senjata nuklir berguna dan sangat berharga dalam skenario militer jarak jauh. Misalnya pecah Perang Amerika-Cina lantaran isu Taiwan atau invasi Korea Utara ke Korea Selatan.

Rusia juga berpendapat serupa. Senjata nuklir merupakan kekuatan pamungkas dalam militer mereka. Para pejabat Rusia berulang kali mengancam memakai senjata nuklir bila pasukan NATO (Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara) menyerang negara-negara Baltik.

Ukraina, Belarusia, dan Kazakhstan pernah memiliki senjata nuklir pada 1991-1995. Sedangkan Belgia, Jerman, Belanda, Italia, dan Turki hanya menjadi lokasi penempatan 200 senjata nuklir kepunyaan NATO.

Negara berkekuatan senjata nuklir:

Amerika Serikat Mempunyai 4.764 hulu ledak nuklir sejak 1945-sekarang

Rusia 4.300 hulu ledak nuklir sejak 1949-sekarang

Prancis 290 hulu ledak nuklir sejak 1964-sekarang

Cina 250 hulu ledak nuklir sejak 1964-sekarang

Inggris 225 hulu ledak nuklir sejak 1953-sekarang

Pakistan 120 hulu ledak nuklir sejak 1998-sekarang

India 110 hulu ledak nuklir sejak 1998-sekarang

Israel 80 hulu ledak nuklir ssejak 1967-sekarang

Korea Utara 10 hulu ledak nuklir sejak 2012-sekarang

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi di Istana As-Salam di Kota Jeddah, Arab Saudi, 22 Mei 2018. (SPA)

Anak Raja Salman masih hidup

Pangeran Muhammad bin Salman memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi Selasa lalu.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia batalkan kebijakan visa bagi warga Israel

Israel memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Indonesia, namun kedua negara menjalin hubungan ekonomi. Alhasil, warga Israel bisa berkunjung ke Indonesia menggunakan visa pelancong dan bisnis.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bom waktu di negara Kabah

Raja Salman sudah menanam bom waktu itu sejak April 2015, tiga bulan setelah dirinya naik takhta.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran Arab Saudi serukan kudeta terhadap Raja Salman

"Kalau Ahmad dan Muqrin bersatu, saya yakin 99 persen anggota keluarga kerajaan, pasukan keamanan, dan tentara akan mendukung mereka," kata Pangeran Khalid, mendapat suaka politik di Jerman sedari 2013.





comments powered by Disqus