kabar

Milisi pemuda berdarah dingin

Usamah Bin Ladin pernah menolak Asy-Syabab masuk jaringan Al-Qaidah.

05 April 2015 07:09

Serangan fajar terhadap para mahasiswa di Garissa - diperkirakan serbuan Asy-Syabab ke-17 bab di Kenya dalam tiga tahun terakhir - sama brutalnya dengan kasus serupa di pusat belanja Westgate di Ibu Kota Nairobi. Milisi Islam radikal ini diklaim memisahkan tawanan Kristen dan muslim.

Dalam serangan teror di Nairobi dua tahun lalu itu, sekelompok anggota Asy-Syabab meminta tiap sandera mengaji atau menyebut nama keluarga Nabi Muhammad. Siapa saja salah menjawab langsung ditembak mati. Seorang lelaki Yahudi dilaporkan selamat setelah menulis ayat Al-Quran di tangannya biar hapal.

Asy-Syabab menjalankan taktik berdarah dingin itu untuk membangun dirinya dan mendapat pengakuan dari Al-Qaidah. Milisi dalam bahasa Arab berarti "pemuda" itu muncul pada 2006 sebagai sayap pemuda radikal dari organisasi persatuan Islam di Somalia kini tidak berfungsi lagi.

Kelompok Islam militan ini menjalankan paham Wahabi, berpusat di Arab Saudi, sedangkan kebanyakan warga Somalia beraliran sufi. Bagi kaum Wahabi, sufi dan Syiah dianggap sesat karena diklaim tidak menjalankan syariat Islam secara murni. Asy-Syabab menerapkan hukum Islam secara keras di wilayah kekuasaan mereka, seperti merajam para pelaku zinah dan memotong tangan pencuri.

Asy-Syabab mulai mendekati Usamah Bin Ladin pada 2009 dengan menyiarkan rekaman-rekaman audio dan video, seperti dilaporkan kantor berita Associated Press, berdasarkan dokumen diperoleh di utara Mali dan lokasi persembunyian Bin Ladin di Kota Abbottabad, Pakistan. Bin Ladin menolak mengakui Asy-Syabab dan pada 2010 mendesak mereka meninjau kembali siasat mereka untuk mengurangi korban dari pihak muslim.

Kematian Bin Ladin memuluskan jalan Asy-Syabab memperoleh pengakuan sebagai bagian dari jaringan Al-Qaidah pada 2012. "Para ahli telah dikirim oleh Al-Qaidah untuk melatih, mempersenjatai, dan memberikan semua teknik baru dari Al-Qaidah kepada Asy-Syabab," kata Presiden Somalia Hasan Syekh Muhammad setahun kemudian kepada surat kabar the Guardian. "Asy-Syabab adalah cabang, perpanjangan tangan Al-Qaidah, tidak diragukan lagi, ada banyak bukti mengenai itu."

Asy-Syabab diyakini memiliki tujuh ribu hingga sembilan ribu pejuang, termasuk jihadis asing. Propaganda mereka dalam kebrutalan seolah bersaing dengan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) serta Boko Haram di Nigeria.

Sejak 10 Maret 2012, mereka diperkirakan telah melancarkan 16 serbuan ke wilayah berpenduduk mayoritas Nasrani di Kenya dan menewaskan sedikitnya 317 orang, menurut data situs the Mail & Guardian Africa. Polisi menyebut korban terbunuh berjumlah 312 orang. Asy-Syabab mengaku tindakan mereka itu sebagai balasan atas kehadiran pasukan Kenya di Somalia.

Juni tahun lalu di kota pantai Mpeketoni. Rombongan Asy-Syabab mengetuk tiap pintu rumah untuk menanyakan apakah di dalam ada lelaki muslim bisa berbahasa Somali. Mereka yang bukan langsung dibunuh, total korban tewas 48 orang.

Empat bulan kemudian mereka menyetop sebuah bus di luar kota kecil Mandera. Para penumpang dipisah berdasarkan agama dan 28 non-muslim dibunuh. Sepuluh hari berselang, masih di wilayah sama, 36 buruh tambang tewas dibantai. Kebanyakan korban non-muslim.

Meski Asy-Syabab sudah terkenal sebagai pembunuh brutal, pegiat politik Boniface Mwangi menanggapi pembantaian di Garissa Kamis lalu - menewaskan sedikitnya 147 orang Kristen - secara kalem. "Mari merespon dengan cinta bukan benci. Asya-Syabab berusaha memakai agama untuk membelah penduduk Kenya," tulisnya di Twitter.

Kebijakan menyasar para pengikut Yesus masih bersifat sporadis dan tidak konsisten, kemungkinan karena banyak faksi dan kurangnya persatuan dalam Asy-Syabab. Beberapa serangan dilancarkan serampangan dengan melempar granat ke arah bar dan terminal-terminal bus. Orang Islam termasuk dalam 67 korban tewas dan 175 luka saat serangan di Mal Wetsgate.

Asy-Syabab terus membunuhi kaum muslim di Somalia dan kebal hukum. Mereka pekan lalu mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Hotel Makkah al-Mukarramah di Ibu Kota Mogadishu, menewaskan 24 orang, termasuk enam anggota Asy-Syabab. Penyanderaan berakhir dengan baku tembak ini berlangsung lebih dari 12 jam.

Serbuan di Garissa juga memunculkan pertanyaan soal kualitas aparat keamanan Kenya. Apakah pemerintah sengaja menggunakan hal ini untuk membatasi kebebasan sipil. Serangkaian peringatan bagi warga asing untuk tidak datang ke Kenya telah menghancurkan industri wisata di negara itu. Beberapa jam sebelum pembantaian di Garissa, Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengatakan, "Kenya aman seperti negara-negara lain."

Penduduk Garissa - banyak buta huruf, miskin, dan pengangguran - sudah lama merasa ditelantarkan oleh pemerintah pusat di Nairobi. "Seorang pemuda di Garissa dari etnik Somali dipandang sebagai teroris. Inilah masalahnya," ujar Mwangi.

Kalau dibiarkan terus, Asy-Syabab tidak akan pernah kekurangan pasokan anggota.

Seekor unta milik Qatar tergolek lemah setelah terjebak berhari-hari di perbatasan Arab Saudi dalam kondisi lapar. (The New Arab)

Arab Saudi larang hewan ternak dari negara tetangga cari makan di wilayahnya

Larangan itu berlaku lima tahun mulai 11 September lalu.

Ulama tersohor Arab Saudi Syekh Salman al-Audah. (Twitter)

MUI desak Arab Saudi bebaskan semua ulama ditahan

Arab Saudi sebaiknya menilai demokratisasi berkembang di negara-negara Arab dan muslim, termasuk di Saudi sendiri, sebagai langkah maju demi memperbaiki situasi dan untuk kemajuan kolektif.

Jihadis ISIS Hasyim Abadi. (Al-Arabiya/Supplied)

Jihadis ISIS dijual seharga US$ 1 juta

Hasyim Abadi adalah adik dari pelaku serangan bunuh diri dalam konser Ariana Grande di Manchester, Mei tahun lalu.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz mencium tangan abang tirinya, Pangeran Talal bin Abdul Aziz saat datang menjenguk di Rumah Sakit Raja Faisal, Riyadh, November 2017. (Sabq)

Raja Salman bela anaknya meski tangkapi ulama

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi putera mahkota pada 21 Juni 2017, Arab Saudi sudah menahan lusinan ulama, wartawan, aktivis, dan akademisi semena-mena tanpa proses peradilan.





comments powered by Disqus