kabar

Pil pahit Alawi

Kaum Alawi diam-diam mulai menolak menyerahkan putra mereka buat bertempur di pihak Assad.

07 April 2015 17:29

Di jantung kota rezim Assad, mayat-mayat perwira dikirim ke rumah mereka memakai ambulans, sedang prajurit biasa dipulangkan menggunakan mobil bak terbuka. Lalu datang para perekrut militer menyerbu dari rumah ke rumah untuk mencari pengganti dengan cara paksa.

Beraliran sama dengan Presiden Suriah Basyar al-Assad membikin kaum Alawi menjadi konstituen utama penguasa. Memasuki tahun kelima perang saudara di negara ini, para pemberontak masih memandang orang-orang Alawi setia terhadap rezim Assad.

Namun dari dalam komunitas itu, gambarannya amat berbeda. Karena putra-putra mereka sudah banyak gugur di medan tempur dan keistimewaan ekonomi -subsidi serta tunjangan - sudah dikurangi, para penganut Alawi mulai menyadari mereka sekadar alat dan loyal kepada penguasa tidak lagi menguntungkan.

"Kebanyakan orang-orang Alawi tidak bergaji lagi sekarang dan bahkan ada yang tidak punya makanan," kata Ammar, pengusaha di Provinsi Latakia, pusat dari penganut Alawi. "Teman-teman bertanya kepada saya: Ammar, apa mesti kami lakukan? Penguasa ingin mengambil kami sebagai tentara. Kami akan mati tapi kami tidak memiliki uang buat kabur.'"

Dari sekitar dua juta anggota masyarakat Alawi, 250 ribu orang bertempur di pihak Assad. Sepertiga dari mereka sudah tewas di palagan, menurut penduduk setempat dan diplomat Barat.

Banyak desa di perbukitan Latakia mulai menutup diri agar anak-anak lelaki mereka tidak dirampas buat menjadi serdadu. Kaum wanitanya tiap hari berpakaian serba hitam tanda berduka.

"Saban hari setidaknya 30 pria kembali dari medan tempur dalam peti mayat," ujar Ammar kepada surat kabar the Telegraph. Dia memakai nama samaran demi keamanan dirinya dan keluarganya. "Di awal perang kematian mereka dirayakan dengan upacara penguburan, namun sekarang mayat-mayat mereka diletakkan begitu saja di mobil bak terbuka."

Pemerintah Suriah belum melansir jumlah korban resmi dari pihak mereka. Stasiun televisi pemerintah jarang memberitakan kematian prajurit Alawi, tapi lebih banyak melaporkan tewasnya pemberontak Sunni demi menarik simpati warga Sunni.

Sebuah laporan dirilis tahun lalu oleh Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah, dari kelompok oposisi, 22 ribu pasukan pemerintah dan milisi pro-Assad tewas sepanjang 2014. Kebanyakan korban asal komunitas Alawi.

"Dalam pertempuran menghadapi pemberontak bersenjata Sunni, pemerintah tidak yakin prajurit Sunni mereka tidak bakal membelot," tutur mantan serdadu dari komunitas Alawi. "Jadi orang-orang Alawi dikirim buat berperang."

Banyaknya prajurit Alawi tewas memicu pemberontakan diam-diam dalam komunitas ini. Namun mereka cuma mempunyai sedikit pilihan sehingga terpaksa tetap melekat pada rezim meski dipenuhi kebencian.

"Ibu-ibu mengasuh anak-anak mereka lebih daripada Basyar dan mulai menyembunyikan mereka," ujar seorang perempuan penduduk Kota Latakia. Bahkan kaum ibu di Latakia sudah mulai berani menutup jalan masuk ke desa-desa Alawi di atas gunung.

Alawi, paham sempalan Syiah terbentuk di abad kesembilan, meyakini salat lima waktu, berpuasa Ramadan, dan berhaji tidak wajib hukumnya. Banyak dari ajaran dan ibadah mereka dirahasiakan sehingga memunculkan dugaan mereka memakai mistik.

Kaum Alawi mulai menanjak ke puncak kekuasaan setelah jatuhnya Kesultanan Usmaniyah. Suriah ketika itu di bawah jajahan Prancis menghadapi pemberontakan warga Sunni. Prancis berhasil menggaet orang-orang Alawi memang teramat gembira buat berperang dengan kaum Sunni.

Ketika Jenderal Hafiz Assad, ayah dari Basyar, menjadi presiden, orang-orang Alawi menikmati keistimewaan. Mereka memegang posisi kunci di politik, militer, dan keuangan. Meski begitu, kebanyakan orang Alawi masih benar-benar miskin.

"Assad tidak menaikkan gaji kami selama dia memerintah," kata seorang penduduk Alawi. "Di desa saya hanya ada sedikit vila di antara ratusan rumah biasa."

Penguasa mulai memotong subsidi. Pasokan listrik di Kota Latakia tersendat, bahkan di gunung-gunung kerap padam. Bahan bakar buat transportasi dan alat pemanas mahal dan langka.

Preman-preman setempat kian merasa berkuasa dan berani menolak para komandan utusan Damaskus datang buat merekrut prajurit Alawi. Namun sebagian besar masyarakat Alawi masih percaya segala tindakan buat melemahkan penguasa bakal membikin wilayah mereka dicaplok pemberontak ingin membalas dendam.

Jadi mereka tetap menundukkan kepala, menderita dalam kesunyian saat putra-putra mereka kembali dalam kantong mayat.

"Tak seorang pun di Latakia tersenyum sekarang, tiap keluarga telah kehilangan seseorang," kata sopir taksi bernama Muhammad. "Malaikat maut bekerja bagus."

Kiri ke kanan: Duta Besar Prancis Jean-Charles Berthonnet, Duta Besar Amerika Serikat Joseph Donovan, dan Duta Besar Inggris Moazzam Malik memberikan keterangan pers usai bertemu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantornya di Jakarta, 19 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia kecam penggunaan senjata kimia

Meski mengecam, Indonesia tidak menuding Suriah sebagai pelaku serangan senjata kimia di Duma.

Suasana Ibu Kota Damaskus, Suriah, 14 April 2018. (Twitter)

Tiga sasaran serangan Amerika di Suriah

Termasuk pusat riset ilmiah di Damaskus.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika, Inggris, dan Prancis serbu Suriah

"Amerika dan sekutunya akan terus menyerbu sampai rezim di Suriah berhenti menggunakan senjata kimia," kata Trump.

Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto dalam serah terima dua mobil ambulans, merupakan bantuan kemanusiaan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Suriah, di Ibu Kota Damaskus, Suriah, 26 Juli 2017. (KBRI Damaskus buat Albalad.co)

Indonesia serahkan dua ambulans bagi rakyat Suriah

Bantuan kemanusiaan untuk Suriah sudah dirintis sejak dua tahun lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Makkah tak lagi sakral

Di Bali saja, tidak boleh ada bangunan melebihi pura. Di Myanmar diharamkan membangun lebih dari tinggi pagoda.

18 Juni 2018

TERSOHOR