kabar

Lelaki penyelamat Yaman

Yaman tidak bakal menjadi seperti Suriah, Irak, atau Somalia. Semua perang saudara pernah terjadi di Yaman berakhir dengan rekonsiliasi politik, sesuatu amat jarang berhasil di negara lain.

14 April 2015 10:29

Penunjukan mantan Perdana Menteri Yaman Khalid Bahah Ahad lalu sebagai Wakil Presiden mengisyaratkan Arab Saudi mulai menyadari Presiden Abdurabbu Mansyur Hadi sebenarnya bagian dari polemik ketimbang penyelesaian.

Dengan menekan Hadi buat menunjuk wakil presiden di saat kritis, negara kerajaan itu mengindikasikan rencana politiknya sehabis operasi militer di Yaman selesai. Bahah mungkin juga bakal menjadi presiden de facto, terutama karena dia lebih tersohor di kalangan luas penduduk Yaman ketimbang Hadi.

Bahah adalah satu-satunya politikus diterima Al-Hutiyun dan partai bekas Presiden Ali Abdullah Saleh buat menjadi perdana menteri Yaman setelah tercapainya perjanjian damai dan kerja sama pada Januari lalu antara Hadi, Al-Hutiyun, aktor-aktor politik kunci lainnya di negara itu.

Selama tiga tahun terakhir, Hadi terpilih sebagai presiden dalam pemerintahan transisi tanpa wakil presiden, mengandalkan kelompok penasihat tidak berkualitas tanpa visi politik jelas untuk memimpin negara. Ketiadaan wakil presiden ini mematangkan krisis politik dan konstitusi di Yaman saat Hadi berhenti sementara setelah dikenai tahanan rumah oleh milisi Al-Hutiyun.

Hadi kemudian lari ke Aden dan akhirnya kabur ke Arab Saudi, kini memimpin operasi militer bersandi Badai Ketegasan buat melumpuhkan pasukan Al-Hutiyun. Ini sekali lagi memunculkan pertanyaan apakah seorang wakil presiden diperlukan. Keputusan Hadi menunjuk Bahah sebagai wakilnya bukan hal mengejutkan.

Bahah masih memiliki kelebihan lain ketimbang Hadi. Dia satu-satunya pemimpin politik dibebaskan Al-Hutiyun dan tidak lari ke luar negeri. Artinya, Al-Hutiyun tidak menilai Bahah sebagai ancaman. Bahah pernah menjabat menteri perminyakan dan kemudian duta besar untuk Kanada semasa kepemimpinan Saleh. Apalagi dia dari Provinsi Hadramaut di selatan Yaman dan mungkin bakal mempertahankan keutuhan utara dan selatan sebagai satu negara.

Pengangkatan Bahah bisa dibilang langkah pertama kompromi politik di Yaman dengan mengesampingkan Hadi. Tindakan ini juga sebagai pesan kuat terhadap Al-Hutiyun dan para penyokong Saleh: negara kerajaan itu benar-benar serius buat mengembalikan situasi keamanan di Yaman dan mengakhiri kontrol militer Al-Hutiyun-Saleh, serta di lain pihak Saudi ingin menciptakan penyelesaian politik.

Yaman bisa terhindar dari menjadi negara gagal dan mengalami perang saudara. Sebab negara ini kerap memiliki keahlian istimewa buat selamat dari kisruh politik serta sosial. Meski berstatus negara Arab miskin, Yaman kaya akan budaya dan tradisi penyelesaikan konflik dan mediasi politik. Ini bukan kali pertama Yaman dilanda konflik bersenjata dan berusaha mencari solusi.

Meski serangan udara masih berlangsung dan jumlah warga sipil terbunuh bertambah, Yaman tidak pernah mengalami keadaan seperti kelaparan massal atau genosida. Bahkan ketika pasukan Al-Hutiyun memasuki Sanaa September tahun lalu, mereka tidak bertindak seperti kelompok pemberontak di negara berkembang lain mengalami perang saudara.

Yaman tidak bakal menjadi seperti Suriah, Irak, atau Somalia. Semua perang saudara pernah terjadi di Yaman sejak 1960-an hingga 1990-an, berakhir dengan rekonsiliasi politik, sesuatu amat jarang berhasil di negara lain. Permusuhan politik dan militer tidak pernah abadi di Yaman.

Alhasil, berakhirnya perang tengah berlangsung di Yaman bakal lebih cepat dengan ongkos lebih murah dibanding sangkaan siapa saja.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Dua pilot Arab Saudi tewas di Yaman

Keterlibatan pasukan koalisi Saudi di Yaman membikin negara Saba itu mengalami tragedi kemanusiaan.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Pasukan koalisi Arab Saudi akui ledakkan bus sekolah menewaskan 40 anak di Yaman

Dua pekan setelah pengeboman bus sekolah di Saadah, serangan pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi terhadap Kota Al-Hudaidah menewaskan paling sedikit 26 anak.

Grafiti menentang perang di Yaman. (Middle East Monitor)

Anak Raja Salman ancam anak-anak dan perempuan Yaman jadi target serangan

"Kami ingin anak-anak, perempuan, dan bahkan kaum lelaki mereka menggigil ketakutan ketika mendengar nama Arab Saudi disebut."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

PBB: Serangan udara koalisi Saudi tewaskan 22 anak Yaman

Lebih dari sepuluh ribu orang terbunuh, kebanyakan warga sipil, jutaan anak mengungsi, dan jutaan lainnya mengungsi.





comments powered by Disqus