kabar

Generasi muda Arab tidak percaya demokrasi

Menurut hasil survei, 39 persen anak-anak muda Arab setuju atas pernyataan "demokrasi tidak akan pernah berjalan di kawasan ini".

22 April 2015 11:37

Barangkali negara-negara Arab tidak akan pernah menjadi demokratis sepenuhnya. Ini kesimpulan dari hasil survei dilakoni lembaga komunikasi Timur Tengah ASDA’A Burson-Marsteller Arab Youth Survey.

Jajak pendapat ketujuh tahun ini menunjukkan generasi muda Arab tidak yakin demokrasi bakal bisa berjalan baik di Timur Tengah. Menurut hasil survei, 39 persen anak-anak muda Arab setuju atas pernyataan "demokrasi tidak akan pernah berjalan di kawasan ini", 36 persen bilang bisa, dan 25 persen tidak yakin.

Hanya 15 persen mengatakan kurangnya demokrasi merupakan masalah terbesar di Timur Tengah. Angka ini melorot ketimbang 38 persen mengatakan seperti itu dalam poling tahun lalu dan 43 persen di 2013.

Dalam survei 2011 - ketika revolusi Timur Tengah mulai bertiup - hidup dalam sistem demokratis adalah keinginan 92 persen generasi muda Arab.

Tengok saja kondisi negara-negara Arab saat ini. Semua anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk - Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab - adalah negara kerajaan. Yang lain kalau pun republik, seperti Mesir, Libya, dan Suriah, pemimpin mereka memerintah secara diktator.

Anak-anak muda Arab ini juga tidak yakin Musim Semi Arab bakal membawa perubahan positif di Timur Tengah. Ketika revolusi bertiup dan menumbangkan rezim Husni Mubarak di Mesir, Muammar Qaddafi (Libya), dan Zainal Abidin bin Ali (Tunisia), situasi makin porak poranda.

Mereka juga menilai ISIS sebagai ancaman terbesar. Sebanyak 73 persen responden mencemaskan kian meningkatnya ekstresmisme di kawasan itu. Hanya 47 persen meyakini pemerintah mereka bisa mengatasi masalah kelompok radikal.

Survei ini dilakukan oleh ASDA’A Burson-Marsteller bekerja sama dengan perusahaan survei internasional Penn Schoen Berland. Jajak pendapat dibikin lewat wawancara tatap muka terhadap 3.500 lelaki dan perempuan berusia 18-24 tahun di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, Irak, Libya, Mesir, Yordania, Palestina, Libanon, Tunisia, Maroko, Aljazair, dan Yaman.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman mengadakan pertemuan dengan para tokoh agama di New York, Amerika Serikat, 28 Maret 2018. (Al-Arabiya)

Anak Raja Salman bertemu kepala Dewan Keamanan Nasional Israel

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Maret lalu, Pangeran Muhammad bin Salman menggelar pertemuan dengan para pemimpin organisasi pro-Zionis.

Kabah dilihat dari lantai atas Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, 17 Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Dipaksa copot jaket Barcelona depan Kabah

"Haram memakai yang ada tanda salib di depan rumab Allah (Kabah)," kata salah satu lelaki itu dalam bahasa Arab.

Muazin Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. (Saudi Gazette/Courtesy)

Masjid Nabawi punya 17 muazin

Tiap hari ada tiga muazin bertugas di Masjid Nabawi.

Suasana dalam Mal Abraj berlokasi di Menara Zamzam, dekat dengan Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Makkah tak lagi sakral

Di Bali saja, tidak boleh ada bangunan melebihi pura. Di Myanmar diharamkan membangun lebih dari tinggi pagoda.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Anak Raja Salman bertemu kepala Dewan Keamanan Nasional Israel

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Maret lalu, Pangeran Muhammad bin Salman menggelar pertemuan dengan para pemimpin organisasi pro-Zionis.

19 Juni 2018
Makkah tak lagi sakral
18 Juni 2018

TERSOHOR