kabar

Saudia batalkan kontrak setelah pesawat mereka sewa mendarat di Israel

Pendaratan atau pemeriksaan reguler harus berlangsung di negara memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaan Arab Saudi.

10 Mei 2015 23:34

Saudi Arabian Airlines (Saudia), maskapai milik pemerintah Arab Saudi, telah membatalkan kontrak setelah pesawat mereka sewa ketahuan mendarat di Bandar Udara Internasional Ben Gurion, Ibu Kota Tel Aviv, Israel.

Foto pesawat Airbus A330 disewa Saudia dari Hi Fly, perusahaan penyewaan pesawat berkantor di Ibu Kota Lisbon, Portugal, itu tersebar luas pekan lalu melalui media sosial. Pesawat ini diterbangkan ke Israel dari Belgia Rabu lalu untuk menjalani perawatan rutin.

Surat kabar Arab News melaporkan manajemen Saudia langsung memutus kontrak sewa setelah mengetahui kabar ini. Mereka menjelaskan pesawat itu sedang tidak ditugaskan saat meninggalkan Arab Saudi ke Ibu Kota Brussels, Belgia, buat pemeriksaan rutin.

"Perusahaan (Hi Fly) telah diberi kontrak buat menyediakan pesawat unuk kebutuhan komersial," kata Saudi dalam pernyataan tertulis. Menurut Saudia, dengan menerbangkan pesawat mereka sewa ke Tel Aviv, Hi Fly telah melanggar kontrak. Salah satu pasal mewajibkan perusahaan menyewakan mesti mendapat persetujuan tertulis soal di bandar udara mana akan mendarat atau menjalani pemeliharaan rutin.

"Pendaratan atau pemeriksaan reguler harus berlangsung di negara memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaan Arab Saudi agar staf Saudia dan otoritas penerbangan sipil dapat mengecek dan menindaklanjuti pemeliharaan kapan saja," tulis Arab News mengutip isi kontrak.

Sampah makanan. (Saudi Gazette)

FAO sebut Arab Saudi negara paling banyak buang makanan

FAO bilang saban tahun terdapat 427 ton makanan dibuang di negara Kabah itu.

Sejumlah warga Arab Saudi siap menikmati makanan dalam jumlah kelewat banyak. (Caravan Daily)

Jumlah makanan terbuang di Arab Saudi saban tahun senilai Rp 181 triliun

Program itu juga untuk memperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan dalam menghasilkan produk daur ulang.

Microsoft dipkasa meminta maaf karena keliru menerjmehkan Dais menjadi ZArab Saudi. (Fortune)

Microsoft minta maaf karena salah menerjemahkan Dais menjadi Arab Saudi

Kepala Microsoft di Arab Saudi Mamduh Najjar meminta maaf atas kekeliruan itu.

Pangeran Bandar bin Sultan, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat pada 1983-2005. (BBC)

Arab Saudi ancam jual total aset US$ 750 miliar di Amerika Serikat

Keluarga korban Teror 11/9 meyakini sejumlah pejabat Arab Saudi terlibat dalam perencanaan serangan 11 September 2001.





comments powered by Disqus