kabar

Taliban cemaskan popularitas ISIS di Afghanistan

Sel-sel ISIS di Afghanistan masing-masing beranggotakan lebih dari seratus orang.

11 Mei 2015 10:54

Milisi Taliban berkuasa di Afghanistan mulai mencemaskan popularitas ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di negara itu. Kekhawatiran ini muncul lantaran banyak pemuda bergabung dengan kelompok bikinan mendiang pentolan Al-Qaidah Abu Musab al-Zarqawi ini.

Seorang pejuang veteran Taliban mengatakan para jihadis muda terpikat masuk ke ISIS lantaran keberhasilan milisi baru ini mencaplok sebagian besar wilayah Irak dan Suriah, serta sudah merambah Libya dan Yaman. Fulus dan tunjangan lainnya menjadi alasan lain ikut ISIS.

ISIS menawarkan nafkah buat keluarga selama mereka berjuang. "Ini hal baru dalam pasar (jihadis)," kata seorang komandan Taliban bermarkas di provinsi Ghazni, barat daya Ibu Kota Kabul, kepada surat kabar the Guardian. Dia bersedia diwawancarai lantaran gelisah dengan perkembangan ISIS di Afghanistan, namun menolak ditulis identitasnya. "Mereka pikir ISIS sekuat Taliban dan bisa membantu mencapai tujuan mereka."

ISIS Januari lalu mengumumkan telah memperluas khilafahnya hingga Khorasan, nama kuno kawasan mencakup Afghanistan dan beberapa negara tetangga.

Presiden Asyraf Gani telah memperingatkan soal ancaman menakutkan dari milisi ini. "ISIS telah mengirim para pejuang mereka ke wilayah selatan dan barat Afghanistan untuk menguji kerentanan (negara ini)," ujarnya di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat tahun ini.

ISIS bahkan dikabarkan berhasil merekrut bekas pemimpin Taliban di Provinsi Helmand, selatan Afghanistan. Mantan tahanan kamp Guantanamo ini tewas akibat serangan pesawat nirawak tiga pekan lalu. Menurut jaringan Analisis Afghanistan, sel ISIS juga sudah berdiri di Provinsi Farah, barat daya negara itu.

Sejauh ini jarang terjadi ketegangan antara ISIS dan Taliban di Afghanistan. Sebab ISIS lebih banyak memusatkan perhatian pada rekrutmen ketimbang melancarkan serangan. Para jihadis ISIS juga menyamar dengan tidak berseragam hitam-hitam dan mengibarkan bendera ciri khas mereka.

"Tidak seorang pun mengetahui siapa memimpin orang-orang ini di Afghanistan dan Pakistan, yang mereka lakukan merekrut," tutur komandan Taliban. "Mereka dalam kelompok-kelompok beranggotakan lusinan orang dan berlatih militer di pegunungan."

Dia memperkirakan sel-sel ISIS sudah terdapat di beberapa provinsi dan masing-masing beranggotakan lebih dari seratus orang. "Sulit mendapat informasi mengenai ISIS karena mereka berpakaian normal seperti orang Pashtun," katanya. "Anda tidak akan menyadari mereka anggota ISIS sampai Anda mengobrol dengan mereka dan mengetahui mereka itu orang asing."

Taliban dan ISIS berbeda. Taliban merupakan kelompok nasionalis ingin mendirikan negara Islam di Afghanistan. Mereka bermazhab Hanafi. Sedangkan ISIS milisi bersenjata transnasional berambisi mendirikan khilafah tanpa mengenal batas negara. Mereka menganut paham Wahabi atau Salafi.

Para penduduk di wilayah-wilayah memiliki sel ISIS amat takut karena kelompok ini mempertanyakan keyakinan dan mengancam gaya hidup mereka.

"ISIS belum cukup kuat untuk menghentikan masyarakat bersekolah dan pergi ke klinik, tapi orang-orang tidak yakin dan mengira situasi bakal kian buruk," ujar komandan Taliban itu. "Para mullah dan ulama di daerah-daerah terpencil...tidak berani melawan mereka lantaran ISIS enteng saja menembak dan membunuh orang."

Polisi Irak pada 3 Desember 2019 menangkap lelaki dikenal dengan nama Abu Khaldun, merupakan wakil dari pemimpin ISIS Abu Baar al-Baghdadi di Provinsi Kirkuk, utara Irak. (Supplied via Iraqi Security Media Cell)

Polisi Irak bekuk wakil Baghdadi di Kirkuk

Abu Khaldun pernah menjabat komandan militer ISIS di Provinsi Salahuddin.

Majalah Dabiq terbitan ISIS dijual di situs Amazon. (BBC)

Turki telah deportasi 21 kombatan ISIS ke negara asal

Sebanyak 13 dari 21 jihadis sudah dideportasi itu adalah warga negara Jerman, Belgi, Belanda, Denmark, Inggris, Amerika Serikat, dan Irlandia.

Seorang jihadis mengganti salib dengan bendera ISIS di sebuah gereja di Kota Mosul, utara Irak. (Twitter)

Turki deportasi seorang kombatan ISIS asal Amerika

Muhammad Darwis B. tadinya terjebak di antara Turki dan Yunani karena ditolak oleh Amerika dan Yunani.

Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner. (Twitter)

Prancis bersedia terima sebelas kombatan ISIS dideportasi dari Turki

Castaner mengatakan sekitar 250 warga Prancis bergabung dengan ISIS telah dipulangkan sejak 2014. 





comments powered by Disqus