kabar

Antrean panjang calon pengebom bunuh diri ISIS

Terjadi nepotisme, jihadis asal Arab Saudi lebih diutamakan menjadi pengebom bunuh diri.

22 Mei 2015 19:30

Dipromosikan sebagai calon pengebom bunuh diri dalam milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) benar-benar sulit. Bahkan menjadi lebih susah lagi ketika dalam daftar antrean ada teman atau keluarga bos (anggota senior ISIS).

Ketika menjadi pengebom bunuh diri adalah dambaan banyak jihadis ISIS, muncul pelbagai laporan menyebutkan pejuang dari Arab Saudi lebih diutamakan ketimbang militan dari negara lain. Rupanya nepotisme juga berlaku dalam kelompok bersenjata dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi ini.

Tuduhan itu dilontarkan oleh Kamil Abu Sultan ad-Daghestani, ulama pro-ISIS asal Dagestan, wilayah di Kaukasus Utara, Rusia, di mana banyak kaum lelakinya pergi berperang ke Suriah dan Irak. Dia menyebarluaskan tudingan ini lewat situs jihadis Qonah. Kamil kerap mendapat keluhan soal nepotisme ini dari Ahmad Chatayev, dikenal dengan nama Ahmad asy-Syisyani, militan senior Chechnya memimpin Batalion Yarmuk di Suriah.

"Para jihadis Saudi mendapat keutamaan, mereka tidak membiarkan pejuang dari negara lain masuk," tulis Kamil. "Mereka membiarkan sesama orang Saudi maju ke barisan depan antrean menggunakan blat." Blat adalah kata dalam bahasa Rusia berarti koneksi atau kesepakatan informal.

Dari cerita Chatayev, menurut Kamil, seorang jihadis muda non-Saudi pernah pindah ke Irak lantaran antrean calon pengebom bunuh diri di sana lebih sedikit ketimbang di Suriah. Namun tetap saja dia tidak mendapat kesempatan itu. Dia akhirnya sadar anggota-anggota senior ISIS asal Saudi lebih mengedepankan jihadis dari negara mereka.

Kabir Ahmad, jihadis ISIS dari Inggris, pada Juli 2014 membenarkan soal panjangnya antrean calon pengebom bunuh diri. "Seorang emir memutuskan siapa dipilih. Ada daftar tunggu," katanya kepada BBC. "Saya akan melobi dia agar nama saya naik ke urutan atas."

Jalan menjadi pengebom bunuh diri juga digambarkan dalam buku panduan ISIS berbahasa Inggris setebal seratus halaman. Seperti persaingan, rekrutmen baru harus lulus di kamp pelatihan dan membuktikan ketangguhan mereka di medan tempur sebelum dianggap layak sebagai kandidat pelaku bom bunuh diri. "Siapa ingin mendaftar sebagai pengebom bunuh diri harus bersabar."

Namun, kata Kamil, daftar antrean itu begitu panjang. Banyak jihadis ISIS keburu tewas dalam pertempuran sebelum mendapat kesempatan melaksanakan serangan bunuh diri. Kecuali orang-orang dengan koneksi Saudi.

Pemimpin milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam rekaman video dilansir pada 29 April 2019. (Twitter)

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam rekaman video

Dia terakhir kali tampil di depan publik saat berkhotbah Jumat di Mosul pada 2014.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

80 warga Indonesia eks ISIS terjebak di kamp Kurdi

Pemerintah akan memverifikasi status kewarganegaraan mereka.

Wilayah dikuasai ISIS. (govexec.com)

Trump umumkan kemenangan atas ISIS

Amerika segera menarik pasukannya dari Suriah.

Seorang petugas menggendong anak kecil selamat dari serangan kelompok bersenjata di acara parade militer di Kota Ahwaz, barat Iran, 22 September 2018. (Twitter)

ISIS rilis video pelaku serangan atas pawai militer di Iran

Selain ISIS, Gerakan Bangsa Ahvaz, mendiami Provinsi Khuzestan dan berusaha memerdekakan diri, juga mengklaim sebagai dalang dari serangan itu.





comments powered by Disqus