kabar

Saudi dan Israel sekata soal Iran

Kedua negara menilai Iran ancaman terbesar di kawasan.

05 Juni 2015 07:33

Meski tidak memiliki hubungan diplomatik, Arab Saudi dan Israel sepaham soal program nuklir Iran. Kedua negara ini menganggap proyek itu sebagai ancaman bagi keamanan dan perdamaian di kawasan.

Isu ini pun disampaikan Anwar Isyki, pensiunan jenderal asal Saudi dan pernah menjadi penasihat pemerintah, serta Dore Gold, bakal menjabat direktur jenderal di Kementerian Luar Negeri Israel. Keduanya berpidato soal ancaman nuklir Iran itu di Dewan Hubungan Luar Negeri bermarkas di Ibu Kota Washington D C, Amerika Serikat.

Ini pertemuan amat jarang antara pejabat kedua negara. Sehabis menyampaikan pemikiran serupa mengenai negeri Mullah itu, keduanya bersalaman.

Bloomberg mengklaim para pejabat Saudi dan Israel menggelar setidaknya lima pertemuan rahasia tahun lalu, membahas masalah nuklir Iran.

Posisi serupa ini terlihat pula dari hasil jajak pendapat dilakoni oleh kampus the Interdisciplinary Center di Herzliya, Israel, juga secara diam-diam. Survei lewat telepon ini mendompleng poling dilaksanakan Universitas Wisconsin-Milwaukee di Amerika, selama dua pekan sejak akhir bulan lalu.

Survei ini menyimpulkan 53 persen dari 506 warga Saudi menyebut Iran sebagai musuh terbesar mereka. Sebanyak 22 persen lainnya menunjuk ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), dan hanya 18 persen menilai Israel sebagai ancaman paling menakutkan.

Sebagian besar masyarakat Saudi menilai negara mereka mesti memiliki senjata nuklir bila Iran berhasil memproduksi bom atom.

The Sunday Times pertama kali melansir informasi itu November 2013. Surat kabar ini menulis Riyadh dan Tel Aviv tengah menyiapkan rencana menyerbu Iran. Saudi sepakat mengizinkan wilayah udara mereka dilintasi jet-jet tempur Israel. Mereka juga siap membantu operasi penyelamatan dengan menyediakan helikopter, pesawat tempur, dan pesawat pengebom nirawak.

Kantor berita semiresmi Iran Fars menguatkan kecurigaan itu. Mereka menyebut kepala dinas intelijen Saudi Pangeran Bandar bin Sultan bertemu direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) Tamir Pardo dan sejumlah pejabat intelijen Israel lainnya.

Perjumpaan ini berlangsung di tengah perundingan soal program nuklir Iran sedang berjalan di Kota Jenewa, Swiss. Kedua pihak membahas soal bagaimana mencegah Iran menguasai teknologi pembuatan senjata pemusnah massal, mengontrol kelompok jihadis di Suriah, mengenyahkan Al-Ikhwan al-Muslimun, dan menghentikan gelombang Revolusi Arab.

Perundingan soal nuklir Iran itu berakhir dengan kesepakatan Teheran bersedia menghentikan proyek pengayaan uranium. Sebagai balasan, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, China, dan Jerman harus mencabut sanksi. Mereka juga setuju memberi bantuan US$ 7 miliar bagi Iran buat meringankan beban akibat sanksi selama ini.

Hasilnya bisa ditebak. Saudi dan Israel menolak kesepakatan itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut itu sebagai kesalahan sejarah. “Saudi dan Israel ketakutan dengan kebijakan Amerika terhadap Iran sekarang,” kata mantan diplomat Amerika John Graham.

Kedua negara sama-sama mencemaskan menguatnya pengaruh Iran di Timur Tengah. Jika negeri Mullah itu berhasil menjadi negara berkekuatan nuklir, dominasi Israel sebagai satu-satunya negara adikuasa di kawasan itu bakal terancam. Apalagi rezim di Teheran tidak sekadar menolak mengakui Israel. Mereka juga bersumpah melenyapkan negara Zionis itu.

Bagi Saudi, terus bertiupnya gelombang musim Semi Arab bisa mengancam stabilitas negara-negara kerajaan di Teluk Persia. Kekuasaan mereka secara turun-temurun bakal hancur digantikan kelompok-kelompok Islam lebih berkiblat kepada Iran.

Informasi rahasia soal kedekatan Saudi dan Israel ini terus bergulir. Menurut Radio Israel, delegasi militer Saudi dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Amir Salman bin Sultan baru-baru ini melawat ke Israel.“Delegasi Saudi bertemu para pejabat keamanan Israel,” kata sejumlah sumber seperti dikutip surat kabar Al-Manar. Bin Sultan juga mengunjungi salah satu markas militer Israel ditemani seorang pejabat senior Israel.”

Kontroversi belum selesai. Diplomat kedua negara juga bertemu di sela Konferensi Kebijakan Dunia di Monako. Mantan menteri intelijen dan pernah menjabat duta besar Saudi untuk Amerika, Pangeran Turki al-Faisal bersalaman dengan bekas duta besar Israel di Washington Itamar Rabinovich dan anggota Knesset (parlemen Israel) Meir Shitrit.

Dalam kesempatan itu Pangeran Turki mendesak Israel menerima inisiatif perdamaian dari Saudi. Namun dia menolak menerima undangan buat berpidato di depan anggota Knesset.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Saudi membantah negaranya menjalin kontak dengan Israel. “Riyadh tidak menjalin hubungan atau kontak dengan Israel dalam bentuk dan di tingkat apapun.”

Tapi paling ironis, Saudi bekerja sama dengan perusahaan keamanan tersohor asal Israel G4S buat mengamankan pelaksanaan haji saban tahun. Perusahaan ini telah bekerja sama dengan pemerintah Saudi sejak 2010 dengan nama Almajal G4S.

Sejumlah warga Arab Saudi siap menikmati makanan dalam jumlah kelewat banyak. (Caravan Daily)

Jumlah makanan terbuang di Arab Saudi saban tahun senilai Rp 181 triliun

Program itu juga untuk memperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan dalam menghasilkan produk daur ulang.

Delegasi muslim asal Indonesia, termasuk dua pejabat MUI - Profesor Istibsyaroh dan Kiai Mayshudi Suhud - saat diterima di kediaman Presiden Israel Reuven Rivlin pada 18 Januari 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Presiden Israel serukan semua kedutaan asing dipindah ke Yerusalem

Rivlin meminta seluruh negara mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Microsoft dipkasa meminta maaf karena keliru menerjmehkan Dais menjadi ZArab Saudi. (Fortune)

Microsoft minta maaf karena salah menerjemahkan Dais menjadi Arab Saudi

Kepala Microsoft di Arab Saudi Mamduh Najjar meminta maaf atas kekeliruan itu.

Pangeran Bandar bin Sultan, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat pada 1983-2005. (BBC)

Arab Saudi ancam jual total aset US$ 750 miliar di Amerika Serikat

Keluarga korban Teror 11/9 meyakini sejumlah pejabat Arab Saudi terlibat dalam perencanaan serangan 11 September 2001.





comments powered by Disqus