kabar

Mantan juru bicara Saddam tutup usia

Tariq Aziz meninggal karena serangan jantung dalam usia 79 tahun.

06 Juni 2015 09:09

Mantan Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Irak Tariq Aziz kemarin meninggal akibat serangan jantung. Lelaki 79 tahun ini mengembuskan napas terakhir lima menit setelah tiba di Rumah Sakit Al-Husain, di Nasiriyah, ibu kota Provinsi Dhi Qar, Irak.

Gubernur Provinsi Dhi Qar Yahya an-Nasiri membenarkan kematian Tariq. Dia dipindahkan ke penjara di Nasiriyah satu setengah tahun lalu setelah mendekam dalam sebuah penjara di Ibu Kota Baghdad.

Saadi al-Majid, pejabat kesehatan setempat, menjelaskan Aziz menderita serangan jantung dalam penjara kemarin sore. Dia menyatakan sakit jantung diidap Aziz sudah parah dan dia sudah sering dirawat di Rumah sakit Al-Husain.

Aziz divonis hukuman mati atas kasus pembunuhan kaum Syiah dalam sebuah pemberontakan setelah berakhirnya Perang Teluk 1991. Namun pada 2010, Presiden Irak Jalal Talabani menolak meneken surat perintah eksekusi. "Saya bersimpati kepada Tariq Aziz karena dia orang Kristen Irak," kata Talabani dalam wawancara khusus dengan sebuah televisi Prancis. "Apalagi dia sudah tua, umurnya lebih dari 70 tahun."

Aziz dilahirkan pada 28 April 1936 di sebuah desa di luar Kota Mosul, utara Irak. Dia berasal dari keluarga Nasrani Chaldea, aliran dalam Gereja Katolik.

Sejak kecil, Aziz - bernama asli Mikhail Yuhanna - menggunakan bahasa Aramaik, diyakini banyak pihak sebagai bahasa dipakai Yesus. Menurut Judith S. Yaphe, ahli Irak diĀ  the National Defense University, dia mengubah namanya menjadi Tariq Aziz untuk menunjukkan rasa nasionalismenya sebagai bangsa Arab.

Dia tumbuh besar di Baghdad. Setelah lulus jurusan sastra Inggris dari Universitas Baghdad, Aziz menjadi reporter untuk surat kabar Al-Jumhuriyah. Dia kemudian bergabung dengan Partai Baath dan menjadi pemimpin redaksi koran itu pada 1963 setelah Baath berkuasa. Partai Baath pecah dan Aziz memilih bergabung dengan faksi dipimpin Saddam. ketika Saddam menjadi presiden Irak pada 1968, Aziz sebagai pemimpin redaksi surat kabar Ath-Thawra.

Meski dipandang sebagai orang luar lantaran penganut Nasrani dan lulusan universitas, Aziz berhasil lolos ujian kesetiaan versi Saddam. Kariernya merambat naik hingga menjadi salah satu orang kepercayaan sang penguasa. "Dia selamat karena dia bukan ancaman dan dia benar-benar setia kepada Saddam," tutur Yaphe.

Beberapa pekan sebelum invasi Amerika Serikat ke Irak pada Maret 2003, Aziz mengunjungi beberapa negara Eropa, termasuk menemui Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Yohannes Paulus II. Dia mendesak negara-negara Eropa untuk tidak ikut dalam pasukan koalisi dipimpin Amerika. "Perang itu akan diartikan oleh dunia Arab muslim sebagai perang salib melawan Arab dan Islam," kata Aziz.

Dia bilang tudingan Presiden Sadaam Husain menyembunyikan senjata pemusnah massal adalah skenario dan seperti sebuah film jelek bikinan Amerika. Dalam daftar buronan Amerika, Aziz berada di urutan ke-43 dari 55 pejabat Irak.

Banyak yang percaya Aziz tidak pantas dikenai hukuman mati. "Dia tidak bersalah dan hukuman mati bagi dirinya tidak adil," ujar Hasan al-Alawi, bekas anggota senior Partai Baath. Dia lari ke luar negeri setelah Saddam berkuasa dan baru kembali ke Irak selepas serangan darat Amerika.

Meski harus berakhir di penjara, Aziz tidak pernah menyesal lantaran mati-matian membela Saddam. "Saya bangga dengan hidup saya karena tujuan terbaik saya adalah melayani Irak," katanya dalam wawancara khusus dengan the Guardian di penjara lima tahun lalu.

Kalau saja takdir bisa diubah, dia ingin mati sebagai syuhada ketimbang harus menyerahkan diri. Namun dia amat sayang kepada keluarganya sehingga terpaksa menyerah ke Amerika diantar seorang putranya pada 24 April 2003. "Saya bilang kepada Amerika bila mereka memindahkan keluarga saya ke Amman (ibu kota Yordania), mereka bisa memasukkan saya ke dalam penjara," ujar Aziz. "Keluarga sayapun diterbangkan menggunakan pesawat Amerika dan saya ke penjara pada Kamis."

Dia mengisyaratkan Irak perlu pemimpin diktator. "Tak ada lagi tersisa di sini," tuturnya. Saddam telah membangun Irak 30 tahun dan sekarang telah dirusak."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi di Istana As-Salam di Kota Jeddah, Arab Saudi, 22 Mei 2018. (SPA)

Anak Raja Salman masih hidup

Pangeran Muhammad bin Salman memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi Selasa lalu.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia batalkan kebijakan visa bagi warga Israel

Israel memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Indonesia, namun kedua negara menjalin hubungan ekonomi. Alhasil, warga Israel bisa berkunjung ke Indonesia menggunakan visa pelancong dan bisnis.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bom waktu di negara Kabah

Raja Salman sudah menanam bom waktu itu sejak April 2015, tiga bulan setelah dirinya naik takhta.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran Arab Saudi serukan kudeta terhadap Raja Salman

"Kalau Ahmad dan Muqrin bersatu, saya yakin 99 persen anggota keluarga kerajaan, pasukan keamanan, dan tentara akan mendukung mereka," kata Pangeran Khalid, mendapat suaka politik di Jerman sedari 2013.





comments powered by Disqus