kabar

Presiden Sudan tinggalkan Afrika Selatan

"Dunia menyokong Afrika Selatan memerangi apartheid tapi negara itu membela kekebalan hukum pembunuh massal orang Afrika," kata Direktur Human Rights Watch Kenneth Roth.

16 Juni 2015 06:55

Meski pengadilan di Kota Pretoria, Afrika Selatan, sudah melarang Presiden Sudan Umar al-Basyir meninggalkan negara itu, namun pemerintah kemarin mengizinkan lelaki 71 tahun ini kembali ke negaranya.

Dengan berjubah dan bersorban putih, dia terbang dari pangkalan udara Waterkloof di luar Pretoria pagi dan mendarat di Ibu Kota Khartum sorenya. Padahal Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon, Uni Eropa, dan Amerika Serikat sudah mendesak Afrika Selatan untuk menahan Basyir.

Basyir dituding melakukan kejahatan kemanusiaan selama Perang Darfur. ICC (Mahkamah Kejahatan Internasional) sudah mengeluarkan dua surat perintah penangkapan terhadap Basyir pada 2009 dan 2010, namun dia selalu mampu berkelit. Sebagai penandatangan Statuta Roma menjadi dasar hukum pembentukan ICC, Afrika Selatan mestinya wajib menahan Basyir.

Hakim Dunstan Mlambo dari Afrika Selatan mengkritik langkah pemerintah itu. "Kegagalan menangkap dan menahan Presiden Sudan Umar al-Basyir bertentangan dengan konstitusi Afrika Selatan," katanya.

Basyir berkunjung ke Afrika Selatan untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi para pemimpin Afrika diketuai Presiden Zimbabwe Robert Mugabe. Mugabe pernah menyerukan kepada seluruh pemimpin Afrika keluar dari ICC.

Dia menganggap ICC, bermarkas di Den Haag, Belanda, hanya menyasar para pemimpin politik di Benua Afrika dan gagal mengadili mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan perang di wilayah lain.

Direktur Human Rights Watch Kenneth Roth menilai pemerintah Afrika Selatan telah memalukan ICC dan pengadilan negaranya sendiri karena membiarkan Basyir pergi. "Dunia menyokong Afrika Selatan memerangi apartheid tapi negara itu membela kekebalan hukum pembunuh massal orang Afrika," ujarnya lewat Twitter.

Menurut PBB, konflik bersenjata di Darfur menewaskan lebih dari 300 ribu orang dan memaksa dua juta lainnya mengungsi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Israel pasok informasi intelijen kepada Arab Saudi soal Iran dan kelompok Islam radikal

"Hal terpenting bagi Israel adalah Arab Saudi juga memusuhi Iran," ujarnya.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Al-Arabiya)

Amerika larang warganya ke Arab Saudi

Larangan berkunjung ke Arab Saudi bagi warga Amerika ini diterbitkan saat suhu politik di negeri Bani Saud itu tengah meninggi.

Ben Tzion, lelaki Yahudi asal Israel (kanan), berpose bareng seorang jamaah di dalam Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi, November 2017. (Instagram)

Pengusaha Israel bilang orang Israel sudah biasa berkunjung ke Arab Saudi

Ben Tzion mengunjungi Masjid Nabawi pekan lalu.

Ben Tzion, lelaki Yahudi asal Israel, berpose di dalam Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. (Times of Israel/Courtesy)

Lelaki Yahudi asal Israel berhasil masuk ke Masjid Nabawi

Ben Tzion mengaku tahun lalu pelesiran ke Kota Qom, Iran. Dia juga pernah ke Beirut dan Amman.





comments powered by Disqus