kabar

Tak lagi berburu iftar di Damaskus

"Kalau sekarang ngeri. Keluar malam kita dicurigai. Ditanyai macam-macam oleh tentara di pos pemeriksaan."

22 Juni 2015 15:29

Sudah lima kali Ramadan perang meluluhlantakkan Suriah. Para pelajar Indonesia masih bertahan di negara ini tentu harus menyesuaikan diri dengan kondisi krisis dan tetap berpuasa.

Saat ini ada 27 pelajar Indonesia di Suriah dari berbagai tingkatan, mulai sekolah menengah atas hingga pascasarjana. Sebelum konflik bersenjata meletup, pelajar Indonesia di sana pernah mencapai sekitar 250 orang. Namun akibat krisis berkepanjangan, pemerintah melalui kedutaan di Damaskus memulangkan secara bertahap warga Indonesia di Suriah, juga menghentikan pengiriman tenaga kerja ke Suriah sejak September 2011.

"Kalau dulu, setiap malam kami berkeliling ke masjid-masjid di Kota Damaskus," kata Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Suriah Ahmad Fuadi Fauzi, bercerita tentang perbandingan Suriah sebelum dan setelah krisis, seperti tertulis dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri diterima Albalad.co kemarin.

"Kadang mahasiswa berburu makanan berbuka enak-enak di masjid-masjid tertentu," ujarnya. "Apalagi orang Damaskus terkenal dermawan kepada para pelajar asing. Pulang tarawih kadang dikasih uang."

Tapi kini kondisi itu jarang ditemukan. Kesulitan ekonomi menjadi faktor utamanya. Bahkan beberapa masjid biasa jadi langganan pelajar berburu iftar, sudah dikuasai pemberontak, baik dari kelompok FSA (Tentara Pembebasan Suriah), ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), Jabhat Nusra, atau pun kelompok lain. Keamanan rawan juga tidak memungkinkan mahasiswa bepergian terlalu malam.

Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas. Artinya, lama puasa di Suriah sekitar 16,5 jam, dimulai dari subuh pukul 04.30 sampai maghrib jam 20.00. Sholat Isya baru dimulai pukul 21.30 dan tarawih selesai sekitar jam 23.00. Jadi menjelang tengah malam baru tiba di rumah kembali.

Menurut Ahasin Mahrus, mahasiswa pascasarjana di Universitas Kuftaro, sebelum krisis mereka bebas berpergian ke mana pun dan kapan saja. "Bahkan anak-anak bermain bola di lapangan hingga larut malam di musim panas ini. Tidak ada orang bertanya siapa dan maksud kita apa," tuturnya. "Kalau sekarang ngeri. Keluar malam kita dicurigai. Ditanyai macam-macam oleh tentara di pos pemeriksaan."

"Apalagi saat kondisi sulit seperti ini banyak orang kepepet dan nekat berbuat jahat," tambah Mukhlas Hamdi Rais, mahasiswa tingkat akhir di Universitas Kuftaro.

Semua cerita itu keluar saat KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Ibu Kota Damaskus menggelar buka puasa bersama Kamis pekan lalu di lobi KBRI Damaskus dengan mengundang seluruh staf dan mahasiswa. Acara ini juga dihadiri Duta besar Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto.

Agenda ini dimulai dengan berbuka, bersantap malam, ceramah agama, hingga ditutup dengan tarawih berjamaah. Setelah dibuka dengan sajian es buah dan salat magrib, mahasiswa langsung menyerbu hidangan makan malam khas Nusantara, seperti sayur sop, perkedel, bakwan, rendang, dan kerupuk.

Menurut Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Damaskus A.M.Sidqi, acara ini sengaja diadakan sebagai sarana silaturahim bagi seluruh warga Indonesia di Damaskus dan mengobati kerinduan akan kemeriahan suasana Ramadan di Tanah Air. "Dengan kumpul dan bergembira seperti ini, kita sejenak melupakan kondisi krisis melanda Suriah, tanpa lupa mendoakan agar kedamaian segera terwujud di Bumi Syam ini," katanya.

KBRI Damaskus berencana mengadakan buka puasa bersama empat kali selama Ramadan tahun ini.

Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto berpose bareng peserta kursus bahasa Indonesia angkatan pertama digelar KBRI di Damaskus, 19 Juni 2016. (KBRI Damaskus buat Albalad.co)

KBRI Damaskus gelar kursus bahasa Indonesia gratis bagi warga Suriah

Angkatan pertama berlangsung selama 19 Juni-19 Juli 2016 dengan 16 peserta.

Sri Rahayu, tenaga kerja Indonesia diselamatkan oleh KBRI di Damaskus, Suriah dari Kota Raqqah dikuasai ISIS. (KBRI Damaskus buat Albalad.co)

KBRI Damaskus selamatkan pekerja Indonesia dari ibu kota ISIS

Sri Rahayu dievakuasi melalui perjalanan darat dari gunung ke gunung secara rahasia siang malam selama enam hari.

Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto saat menerima penghargaan dari Menteri Agama Suriah Abdul Satar Sayyid di acara wisuda Institut Tinggi Syam di Ibu Kota Damaskus, Suriah, 4 November 2015. (KBRI Damaskus buat Albalad.co)

Suriah beri penghargaan buat duta besar Indonesia dan Iran

Kedua negara ini merupakan pendukung rezim Assad.

Upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-70 digelar di kompleks KBRI di Damaskus, Suriah. (KBRI Damaskus untuk Albalad.co)

Kibar Merah Putih di langit Damaskus

Ketika banyak bendera negara lain turun, Merah Putih masih mengangkasa di langit Damaskus.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Indonesia kecam penggunaan senjata kimia

Meski mengecam, Indonesia tidak menuding Suriah sebagai pelaku serangan senjata kimia di Duma.

20 April 2018

TERSOHOR