kabar

Jumat nestapa di Marhaba

Saifuddin Rezgui mulai menjalin kontak dengan ulama radikal setengah tahun lalu.

27 Juni 2015 22:11

Dandanannya santai. Bercelana pendek, berkaus oblong putih, dan berkalung. Dia seperti pemuda Tunisia lazimnya di tengah para pelancong asal Jerman, Inggris, dan Irlandia tengah berjemur di tepi pantai seberang Hotel Imperial Marhaba di Kota Sousse.

Dia datang menggunakan perahu dan sempat membuang telepon selulernya ke laut sebelum berjalan ke arah pantai. Dia bahkan sempat tertawa dan berseloroh di antara para turis asing saat memilih-milih calon korbannya.

Hanya dalam lima menit ketahuanlah motifnya ke sana. Sebuah senapan serbu Kalashnikov dia keluarkan dari balik payung dia bawa. Saifuddin Rezgui, 24 tahun, lalu menyebar horor di seantero Marhaba. Akibatnya 39 orang tewas dalam kejadian kemarin.

Menurut Perdana Menteri Tunisia Habib Issid, jumlah korban terbunuh akan bertambah. "Kebanyakan warga negara Inggris, disusul Jerman, Belgia, dan warga negara lain."

"Dia tertawa dan bercanda seperti lelaki normal," kata seorang saksi. "Dia memilih siapa akan ditembak."

Seorang sumber keamanan menilai Rezgui kelihatannya mengenal seluk beluk hotel. Dia memburu para sasarannya mulai dari pantai, kolam renang, hingga hotel. Dia setidaknya dua kali mengisi peluru sebelum akhirnya ditembak mati aparat keamanan di luar hotel.

Tom Richards, sedang berlibur di sana bareng ibu dan adiknya, sempat berpapasan dengan Rezgui dalam hotel. Ketiganya keluar dari dalam kolam renang setelah mendengar suara rentetan tembakan. Rezgui menembak dua orang di kepala sebelum menoleh ke arah Richards. "Dia memandang ke arah saya. Saya pikir saya bakal mati," ujar pemuda 22 tahun ini kepada surat kabar the Guardian.

Bukannya menembak Richards, Rezgui mengarahkan senapan ke lantai dan membiarkan Richards bersama ibunya lari bersembunyi ke dalam toilet. "Saya tidak tahu kenapa dia berhenti. Dia bisa saja membunuh semua orang," tutur Richards.

Seperti dilansir koran the Independent, saksi lain bernama Ibrahim al-Ghoul, mekanik paruh waktu bekerja di Hotel Imperial Marhaba, juga bertemu Rezgui. Seraya tersenyum, dia bilang kepada Ghoul, "Saya tidak mau membunuhmu, saya ingin menembak pelancong asing."

Pelayan bernama Wadia membenarkan Rezgui hanya menyasar wisatawan luar negeri. "Ketika dia melihat orang Tunisia dia berteriak 'Menyingkirlah' dan segera menembak ke arah orang-orang asing," ujarnya.

*****

Teror berlangsung di sekitar Hotel Imperial Marhaba, Kota Sousse, Tunisia, kemarin merupakan serangan terburuk dalam sejarah Tunisia modern. Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) sudah mengklaim bertanggung jawab, walau kata sejumlah pejabat, Saifuddin Rezgui tidak masuk dalam daftar terorisme atau dikenal sebagai seorang militan.

Terkenal sebagai salah satu tujuan pelesiran, Tunisia bangkit dari krisis politik melengserkan Presiden Zainal Abidin bin Ali pada 2011. Dipuji masyarakat internasional lantaran keberhasilan dalam proses transisi ke demokrasi, negara ini berjuang menghadapi maraknya militansi Islam.

Pemerintah Tunisia sejatinya sudah dalam keadaan siaga, berbulan-bulan setelah dua pria bersenjata menembak mati 21 turis asing di Museum Bardo di Ibu Kota Tunis. Kedua pelaku menewaskan pelancong asal Jepang, Prancis, dan Spanyol.

Seperti para penyerang di Bardo, Rezgui juga tertipu rayuan kaum militan. Dia berhasil digaet hanya dalam waktu singkat.

Sejak revolusi bertiup empat tahun lalu, imam-imam radikal dan kelompok-kelompok ultrakonservatif kian memperluas pengaruh mereka di Tunisia. Mereka mencaplok masjid-masjid dan membikin madrasah buat menyebarluaskan ideologi radikal mereka.

Lebih dari tiga ribu warga Tunisia berjihad untuk ISIS dan milisi lainnya di Irak, Suriah, dan negara tetangga Libya. Sejumlah pihak telah memperingatkan para jihadis ini akan pulang untuk melancarkan serangan teror di tanah air mereka, salah satu negara Arab paling sekuler.

Menurut beberapa data resmi, Rezgui dulunya mahasiswa rajin. Dia berasal dari keluarga stabil, biasa berpesta dan berlatih tarian patah-patah. Seorang sumber keamanan senior mengungkapkan Rezgui mulai menjalin kontak dengan ulama ekstremis sekitar setengah tahun lalu.

Dua pelaku teror di Museum Bardo juga menjadi radikal setelah mengaji di masjid dekat tempat tinggal mereka. Keduanya lantas dikirim buat menjalani pelatihan militer di Libya.

"Dia mahasiswa baik dan selalu masuk kuliah," kata Perdana Menteri Tunisia Habib Issid. "Penyelidikan kami menunjukkan dia tidak pernah menampilkan perilaku ekstremis atau terkait teroris. Dia bahkan tidak masuk dalam daftar pantauan."

Issid menjelaskan Rezgui tinggal di Gafur, kota kecil di Provinsi Siliana. Dia pernah kuliah di Universitas Kairouan dan tidak pernah bepergian ke luar negeri.

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

Persenjataan ISIS dari Amerika dan Arab Saudi

CAR menyatakan sekitar 90 persenjataan digunakan ISIS merupakan buatan Cina, Rusia, dan Eropa Timur.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

ISIS benarkan Abu Bakar al-Baghdadi tewas

Dia dinyatakan terbunuh akibat serangan udara di Provinsi Ninawih, Irak.

Perdana menteri Irak Haidar al-Abadi bersalaman dengan seorang komandan pasukan Irak setibanya di Kota Mosul, 9 Juli 2017, untuk mengumumkan pembebasan Mosul dari ISIS. (Twitter/@HaiderAlAbadi)

Irak bebaskan Mosul dari ISIS

Sepekan sebelumnya, Abadi sudah mengumumkan berakhirnya khilafah islamiyah versi ISIS setelah pasukan Irak merebut Masjid An-Nuri telah menjadi puing akibat diledakkan ISIS.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Irak rebut Masjid Agung di Mosul dari ISIS

Pemerintah Irak memperkirakan Mosul bisa direbut dalam beberapa hari lagi.





comments powered by Disqus