kabar

Israel, dinista sekaligus dicinta

"Rakyat Israel terkuat dan paling beradab di kawasan," tulis seorang pemuda Iran ingin mengajak seluruh anggota keluarganya tinggal di Israel.

28 Juni 2015 09:32

Bagi sebagian besar negara Arab dan berpenduduk mayoritas Islam, sentimen anti-Israel begitu kuat. Mulai dari alasan agama hingga masalah penjajahan negara Zionis itu terhadap bangsa Palestina.

Setidaknya itu tercermin dari tidak adanya pengakuan terhadap negara Bintang Daud itu. Di antara 52 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), hanya Mesir sejak 1979 (Perjanjian Camp David), Yordania mulai 1994, dan Turki, membuka hubungan diplomatik dengan Israel setelah meneken perjanjian damai.

Namun kenyataan itu mulai berubah sejak munculnya gelombang revolusi melanda negara-negara Arab. Dimulai dari Tunisia menggulingkan Presiden Zainal Abidin bin Ali berlanjut ke Mesir (jatuhnya rezim Husni Mubarak), dan Libya (tergulingnya Muammar al-Qaddafi).

Kementerian Luar Negeri Israel, seperti dilaporkan surat kabar Yediot Ahronot empat tahun lalu, mengklaim telah menerima ribuan surat elektronik dari warga Arab menyatakan tertarik berkunjung atau tinggal di Israel. Bahkan ada yang berniat bergabung di militer dan menjadi anggota Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel).

"Mereka Semua Ingin Menjadi Agen," tulis surat kabar paling laris di negara Yahudi itu. Permohonan itu kebanyakan datang dari warga Arab di Afrika Utara, seperti Mesir, Tunisia, Aljazair, dan Maroko. Ada pula permintaan dari Arab Saudi dan Irak. Alasannya mulai dari butuh pekerjaan, pinjaman, kuliah, bertemu teman dikenal lewat Facebook, sampai mencari suaka.

Ini sungguh mengherankan. Apalagi Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman dikenal sangat anti-Arab. Politikus dari Partai Yisrael Beitenu ini pernah mengajukan rancangan undang-undang mewajibkan warga negara Israel keturunan Arab bersumpah setia kepada rezim Zionis. Untungnya gagasan kontroversial itu tidak mendapat dukungan Knesset (parlemen Israel).

Banyak dari permohonan itu disampaikan lewat Attawasul, situs berbahasa Arab milik Kementerian Luar Ngeri Israel. Ada pula surat dikirim langsung ke IDF (angkatan bersenjata Israel) dan Mossad. Bahkan, kata juru bicara situs itu, Adel Hinou, surat elektronik masuk datang dari anggota parlemen dan partai politik. "Alasan mereka bermacam-macam," katanya.

Seperti surat dari Dawud, teknisi komputer asal Irak ingin mendapat suaka politik di Israel. "Israel satu-satunya negara (di kawasan Timur Tengah) menghormati kebebasan individu."

"Rakyat Israel terkuat dan paling beradab di kawasan," tulis seorang pemuda Iran ingin mengajak seluruh anggota keluarganya tinggal di Israel.

Humam dari Irak meminta pinjaman untuk mengobati ayahnya sakit. "Saya tahu kalian (orang-orang Israel) senang menolong orang lain."

Hinou mengaku membalas tiap surat masuk. "Tapi kebanyakan (permintaan mereka) ditolak secara halus."

Delegasi muslim asal Indonesia, termasuk dua pejabat MUI - Profesor Istibsyaroh dan Kiai Mayshudi Suhud - saat diterima di kediaman Presiden Israel Reuven Rivlin pada 18 Januari 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Presiden Israel serukan semua kedutaan asing dipindah ke Yerusalem

Rivlin meminta seluruh negara mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sebagian dari 19 orang Yahudi asal Yaman tiba di Israel pada 20 Maret 2016. (Arielle Di-Porto/The Jewish Agency for Israel)

19 orang Yahudi asli Yaman dievakuasi secara rahasia ke Israel

Sejak operasi rahasia bersandi Karpet Ajaib pada 1949 hingga kini the Jewsih Agency sudah memindahkan sekitar 49 ribu orang Yahudi dari Yaman ke Israel.

Dunia tanpa Israel

Negara-negara Arab dan Islam tidak bisa bersatu lantaran kepentingan nasional masing-masing berada di bawah pengaruh Amerika Serikat, sekutu abadi Israel.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. (Kantor Ali Khamenei/New York Post)

Khamenei luncurkan buku bagaimana lenyapkan Israel

Strategi Khamenei menghancurkan Israel berdasarkan prinsip bila sebuah wilayah pernah dikuasai kaum muslim meski hanya sebentar tidak boleh diserahkan kepada non-muslim.





comments powered by Disqus