kabar

Teringat keluarga Qaddafi

Cerita saya peroleh langsung dari rakyat Libya bertolak belakang dengan gambaran sebelumnya saya dapat. Qaddafi, kata mereka, bengis dan anti-Islam.

01 Agustus 2015 01:04

Tinggi besar dan berkepala botak. Dia karismatik seperti ayahnya. Itulah kesan pertama saat saya mewawancarai Saiful Islam Qaddafi, putra kedua mendiang pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi, satu dasawarsa lalu di Jakarta.

Ingatan saya kembali ke keluarga Qaddafi setelah pengadilan di Ibu Kota Tripoli, Libya, Selasa pekan ini menjatuhkan vonis mati terhadap lulusan salah satu kampus bergengsi di dunia, London School of Economics, itu.

Saiful Islam waktu itu datang buat membagikan sedekah kepada kaum papa di Indonesia. Di negara muslim terbesar di dunia ini, nama Qaddafi begitu harum. Banyak orang tua memberikan nama Qaddafi - dengan beragam ejaan - buat anaknya. Sejumlah tokoh Islam pun kecipratan fulusnya, termasuk yayasan Az-Zikra didirikan Arifin Ilham.

"Untuk pembangunan kompleks Az-Zikra sekaligus masjid, Qaddafi memberikan sekitar US$ 40 juta," kata seorang lelaki keturunan Arab bermarga At-Tamimi kepada Albalad.co tiga tahun lalu. Dia bilang dia mengajak sang ustad bertemu Qaddafi di Tripoli.

Polemik muncul setelah pemerintahan baru Libya - setelah Qaddafi terbunuh Oktober 2011 - menuntut nama Masjid Muammar Qaddafi di kompleks Az-Zikra diganti dengan nama Umar al-Mukhtar, pahlawan perang kemerdekaan Libya mati di tiang gantungan. Namun, kata seorang diplomat Libya di Jakarta, Arifin Ilham menolak dan tetap ingin mengubah nama masjid itu menjadi Masjid Az-Zikra. "Kami marah, itulah kenapa WICS (World Call Islamic Society) hengkang dari Indonesia," ujarnya. WICS adalah lembaga amal bentukan Qaddafi untuk membantu negara-negara muslim miskin.

Memang saya tidak bertemu langsung dengan Qaddafi atau anak-anaknya yang lain, namun kenangan selalu terlintas lantaran selama dua pekan saya meliput di Libya saat perang berkecamuk. Ketika itu keluarga Qaddafi sudah lari dari Tripoli ke Sirte, kampung halaman mereka.

Saya cuma bisa mengenal keluarga rezim berkuasa selama empat dekade ini lewat rumah dan vila mereka. Saya menengok vila milik Qaddafi di Kota Al-Baida, tidak jauh dari kediaman iparnya, mantan kepala intelijen Abdullah Sanusi, juga sudah divonis mati bareng Saiful Islam.

Saya melihat rumah Mutasim Qaddafi dengan halaman seluas lapangan sepak bola. Bahkan saya sempat menengok bunkernya.

Dari kompleks vila kepunyaan Saiful Islam, saya menyaksikan keindahan laut. Di sini terdapat sekitar 90 rumah. Di kediaman Aisyah, satu-satunya anak perempuan Qaddafi pernah menjadi anggota tim kuasa hukum Presiden Irak Saddam Husain, saya membuka-buka album pernikahannya dan melihat koleksi film Barat banyak berceceran di kamar tidurnya. Bahkan seorang pemberontak menghadiahi saya sebuah foto Aisyah dan suaminya di pelaminan.

Tidak seperti bangunan lain milik kerabat Qaddafi, rumah Aisyah tidak dirusak dan dibakar. Sedangkan kompleks tempat tinggal Qaddafi di Bab al-Aziziya - konon seluas sepuluh kilometer persegi - dibakar dan dihancurkan. Bahkan sekarang sudah rata dengan tanah. Ranjang, kolam renang dan rumahnya berisi 40 kamar lenyap.

Cerita saya peroleh langsung dari rakyat Libya bertolak belakang dengan gambaran sebelumnya saya dapat. Qaddafi, kata mereka, bengis dan anti-Islam.

Sebagian besar rakyat Libya atau orang-orang pernah merasakan fulusnya barangkali ingin melenyapkan semua hal berkaitan dengan Qaddafi, tapi ingatan saya akan selalu membekas: saya pernah bersentuhan tidak langsung dengan mereka.

Foto Aisyah bersama suaminya di pelaminan, pemberian seorang pemberontak kepada saya saat berkunjung ke rumah Aisyah di Tripoli, Libya, 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Janda dan dua anak dari mendiang Muammar Qaddafi diizinkan bepergian ke mana saja

Hanya Saif al-Islam, anak Qaddafi memilih tinggal di Libya.

Seorang pemberontak menginjak poster bergambar pemimpin Libya Muammar Qaddafi di pintu masuk Bab al-Aziziyah, Tripoli, Oktober 2011. (Albalad.co)

Kenangan istimewa terhadap keluarga Qaddafi

Kisah-kisah kelam itu berbeda dengan pamor harum Qaddafi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Putra dari mendiang Muammar Qaddafi daftar jadi calon presiden Libya

Setelah diperiksa, semua persyaratan administrasi Saif al-Islam terpenuhi. 

Saadi Qaddafi di penjara di Ibh Kota Tripoli, Libya, tidak lama setekah diekstradisi dari Niger pada 2014. (Libya Herald)

Putra dari mendiang Muammar Qaddafi dibebaskan dari penjara

Tiga dari tujuh putra Qaddafi tewas dalam pemberontakan di Libya satu dasawarsa lalu, yakni Mutasim Qaddafi, Khamis Qaddafi, dan Saif al-Arab Qaddafi.





comments powered by Disqus