kabar

Mordechai Vanunu: Israel negara adikuasa

"Israel negara adikuasa, tidak ada yang bisa menekan mereka," ujar Vanunu.

06 September 2015 10:04

Kami sudah berteman sebelas tahun, yakni sejak Mordechai Vanunu dibebaskan dari penjara. Selama itu pula dia menjalani status tahanan kota.

Dia cukup terkejut lantaran saya sudah lama tidak menelepon. "Apakah kamu masih hidup? Apa kamu masih bekerja sebagai wartawan?" Saya pertama kali mengenal Vanunu ketika mewawancarai dia pada Juli 2004. Sejak itu hubungan kami berlanjut, berkomunikasi lewat telepon, pesan pendek, atau surat elektronik.

Status Vanunu memang bebas bersyarat. Dia tidak boleh mendekati pelabuhan, bandar udara, kantor perwakilan asing, atau menerima wawancara dengan media luar negeri.

Bagi pegiat perdamaian, Vanunu adalah pahlawan, namun bagi Israel dia pengkhianat. Sebab membocorkan rahasia nuklir Israel kepada surat kabar the Sunday Times pada 1986, dia ditangkap oleh Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Lewat pengadilan rahasia - tanpa didampingi pengacara - Vanunu divonis 18 tahun penjara, sebelas tahun di antaranya dia mendekam di sel isolasi.

Ahli nuklir pernah bekerja di reaktor Dimona, gurun Negev (selatan Israel) ini sangat bermimpi bisa meninggalkan negara Zionis itu. Sampai-sampai dia bertanya apakah mungkin memperoleh paspor Indonesia. Dia berharap suatu saat bisa berkunjung ke Jakarta. Meski begitu, dia mengakui boleh dibilang mustahil Israel bakal membiarkan dia pergi.

Walau sudah berusaha berkali-kali dia ragu pemerintah Israel bakal mengizinkan dia meninggalkan negara itu. Kampanye internasional menyerukan pembebasan Venaunu pun seolah menabrak dinding tebal. "Israel negara adikuasa, tidak ada yang bisa menekan mereka," ujar Vanunu.

Sebelas tahun sudah Vanunu terkekang. Bahkan dia tidak bisa mengunjungi istrinya tinggal di Oslo, dia nikahi Mei lalu di Yerusalem.

Namun Jumat pekan ini untuk pertama kalinya dia dibolehkan berbicara kepada media Israel. Dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Channel 2, Vanunu menegaskan kembali program nuklir Israel mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Persis seperti dia katakan kepada saya sebelas tahun lalu. "Israel sudah menghasilkan 200 bom nuklir."

Dia berharap suatu hari nanti bisa menemui saya di Jakarta. Mirip Vanunu, saya pun kurang yakin keinginannya terkabul.

Syekh Salman al-Audah. (Twitter)

Arab Saudi adili ulama tersohor secara rahasia

Arab Saudi menahan Syekh Salman dan Syekh Awad al-Qarni sejak September tahun lalu.

Pengungsi Palestina di Yordania. (Middle East Monitor)

Arab Saudi tolak beri visa haji bagi pengungsi Palestina di Yordania

Penolakan ini atas instruksi dari pemerintah Yordania.

Ulama Arab Saudi Syekh Sulaiman ad-Dawisy. (Twitter/@Prisoners of Conscie)

Ulama Arab Saudi meninggal dalam penjara karena disiksa

Syekh Sulaiman adalah orang ketiga tewas dalam penjara setelah Mayor Jenderal Ali al-Qahtani (Maret 2018) dan seniman Muhammad Bani ar-Rumaili al-Anzi (Juli 2018).

Mordechai Vanunu dan istrinya Kristin Joachimsen setelah menikah di Gereja Sang Penebus, Yerusalem, 19 Mei 2015. (facebook.com)

Trump teken surat janji untuk tidak paksa Israel ungkap senjata nuklirnya

Perjanjian serupa pernah ditandatangani tiga presiden Amerika sebelumnya, yakni Bill Clinton, George Walker Bush, dan Barack Obama.





comments powered by Disqus