kabar

Dituduh gagal hentikan hasutan, 20 ribu warga Israel gugat Facebook

Para penggugat bilang Facebook berkewajiban secara hukum dan moral buat memblokir kampanye bunuh orang Israel disebar lewat media sosial itu.

28 Oktober 2015 03:38

Sebanyak 20 ribu warga Israel Senin lalu menggugat Facebook ke Mahkamah Agung Negara Bagian New York, Amerika Serikat. Mereka menuding Facebook gagal menghentikan hasutan-hasutan bagi rakyat Palestina untuk membunuh warga Yahudi.

Seperti tuduhan dilemparkan sejumlah pejabat Israel, para penggugat mengklaim hasutan dalam bentuk pernyataan, gambar, dan video telah menginspirasi para pemuda Palestina untuk menusuk tentara atau pemukim Yahudi. "Para penyerang terdorong untuk melakukan kejahatan bengis oleh hasutan untuk membunuh mereka baca di Facebook," kata para penggugat dalam siaran pers.

Gugatan itu disampaikan tiga kuasa hukum, yakni Robert Tolchin, Nitsana Darshan Leitner, dan Asher Perlin. Para penggugat bilang Facebook berkewajiban secara hukum dan moral buat memblokir kampanye bunuh orang Israel disebar lewat media sosial itu.

Para penggugat tidak menuntut uang kompensasi dari Facebook. Mereka berharap pengadilan memerintahkan media sosial bikinan Mark Zuckerberg itu menghapus seluruh halaman, grup, dan unggahan berisi agitasi untuk membunuh orang-orang Yahudi. Mereka menuntut pula Facebook mengawasi situs mereka untuk mencegah hasutan semacam itu disebar lewat Facebook.

Gugatan ini disampaikan saat intifadah ketiga tengah meletup di seantero Tepi Barat dan Jalur Gaza. Anak-anak muda Palestina, lelaki dan perempuan, sejak permulaan bulan ini melancarkan serangan menggunakan pisau terhadap warga Israel.

Intifadah Pisau ini sudah menewaskan 58 orang Palestina dan belasan warga Yahudi. Gerakan Tusuk Israel ini dipicu oleh serangan pasukan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa.

Ali Ahmad al-Mulla menjadi muazin Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, sejak 1975. (Screengrab)

Berkenalan dengan muazin Masjid Al-Haram

Ali Ahmad al-Mulla menjadi muazin Masjid Al-Haram sejak 1975.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi di Istana As-Salam di Kota Jeddah, Arab Saudi, 22 Mei 2018. (SPA)

Anak Raja Salman masih hidup

Pangeran Muhammad bin Salman memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi Selasa lalu.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia batalkan kebijakan visa bagi warga Israel

Israel memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Indonesia, namun kedua negara menjalin hubungan ekonomi. Alhasil, warga Israel bisa berkunjung ke Indonesia menggunakan visa pelancong dan bisnis.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bom waktu di negara Kabah

Raja Salman sudah menanam bom waktu itu sejak April 2015, tiga bulan setelah dirinya naik takhta.





comments powered by Disqus