kabar

Partainya Erdogan menang mutlak dalam pemilihan umum di Turki

Berdasarkan 98 persen suara telah dihitung, AKP meraup 49,4 persen suara atau 316 dari 550 kursi di parlemen.

02 November 2015 14:11

AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dipimpin Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menguasai parlemen setelah menang mutlak dalam pemilihan umum digelar kemarin.

Berdasarkan 98 persen suara telah dihitung, AKP meraup 49,4 persen suara atau 316 dari 550 kursi di parlemen. Hasil ini sangat mengejutkan dan membalikkan semua prediksi menyatakan AKP bakal gagal menjadi mayoritas lagi setelah pemilihan umum 7 Juni lalu.

Dalam pemilihan lima bulan lalu itu, AKP cuma meraih 258 kursi, padahal untuk menjadi mayoritas mesti menguasai minimal 276 kursi parlemen. Hasil itu mengharuskan AKP berkoalisi dengan partai lain. Namun karena perundingan soal pemerintahan bersama gagal, Erdogan mengumumkan pemilihan lagi dilangsungkan 1 November.

Dengan hasil kali ini, kekuasaan Erdogan kian mengakar dan AKP bisa membentuk pemerintahan sendiri. HDP (Partai Demokrasi Rakyat) pro-Kurdi meraih hasil mengejutkan 13 persen suara pada pemilihan Juni lalu cuma bisa meraup 10,7 persen suara kali ini.

Sedangkan CHP (Partai Rakyat Republik), partai oposisi terbesar di Turki, tetap mengumpulkan sekitar 25,4 persen suara (134 kursi) dan MHP berhaluan nasionalis mendapat 12 persen (40 kursi).

"Alhamdulillah," tulis Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu di Twitter semalam, sebelum menemui para pendukung AKP telah berkumpul di luar rumahnya di Kota Konya, Provinsi Anatolia.

"Hari ini adalah kemenangan bagi demokrasi dan rakyat kita," kata Davutoglu di hadapan para penyokong AKP. "Kami berharap bisa melayani Anda dengan baikĀ  untuk empat tahun ke depan dan bisa berdiri di depan Anda sekali lagi pada 2019."

"Rakyat kami lebih menyukai tindakan dan pembangunan ketimbang kontroversi," ujar Erdogan lewat pernyataan tertulis. "Para pemilih telah menjadi bukti mereka sangat mendambakan persatuan dan integritas Turki."

Unal Cakmak, satu dari ribuan orang berkumpul di luar kantor pusat AKP di Ibu Kota Ankara, mengaku sukar melukiskan rasa senangnya. "Kemenangan AKP adalah kemenangan bagi...seluruh Timur Tengah dan dunia muslim. Erdogan telah membawa Turki maju seratus tahun dan mengubah Turki menjadi lebih baik. Dia menciptakan perdamaian," tuturnya. "Kami marah terhadap Eropa. Pemimpin kami adalah Recep Tayyip Erdogan."

Di Diyarbakir, kota dihuni mayoritas orang Kurdi di tenggara Turki, kondisinya bertolak belakang. Kekecewaan terasa dan kerusuhan meletup. "Saya patah hati. AKP mencuri dan membunuh, mereka menekan semua orang, mereka memberangus pers tapi mereka masih bisa menang," katanya. "Saya sudah tidak percaya terhadap demokrasi."

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Ribuan orang hadiri salat Jumat perdana dalam 86 tahun di Masjid Hagia Sophia

Sebelum ritual pekanan itu dimulai, Erdogan membaca Al-Quran, Surat Al-Fatihah dan lima ayat pertama Surat Al-Baqarah.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki culik lebih dari seratus pengkritik Erdogan di luar negeri

Penangkapan besar-besaran terhadap wartawan dan para pengkritik Erdogan dimulai ketika Desember 2013, terbongkar skandal korupsi raksasa melibatkan Erdogan, anggota keluarga, kolega bisnis, dan sekutu-sekutu politiknya.

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Erdogan ubah Museum Hagia Sophia menjadi masjid lagi

Hagia Sophia akan dibuka sebagai masjid lagi pada salat Jumat dua pekan mendatang.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sedang mengajari cucunya, Ahmet Akif Albayrak, di Marmaris, pada 15 Juli 2016. (Hurriyet Daily News)

Lempar foto Erdogan pakai pot bunga, ibu dan anaknya dipenjara 11 bulan

Gurcen marah karena konvoi kampanye AKP membunyikan musik dengan suara keras. Waktu itu ibunya sedang sakit.





comments powered by Disqus