kabar

Otak Teror Paris

Menurut Yasmina, kedua adiknya itu tidak tertarik pada agama sebelum pergi ke Suriah. "Mereka bahkan tidak pernah salat di masjid."

17 November 2015 07:51

Ayahnya, imigran asal Maroko bernama Umar Abu Aud, bercerita. Dia tiba pertama kali di Belgia 40 tahun lalu untuk bekerja di sebuah pertambangan.

Hidupnya menanjak. Dia sekarang memiliki dua toko: grosir dan pakaian di tempat tinggalnya di permukiman mayoritas muslim Molenbeek di Ibu Kota Brussels, Belgia. Dia bahkan membelikan satu toko buat putranya, Abdul Hamid Abu Aud, bersaudara kandung lima. "Kehidupan kami menyenangkan dan bahkan fantastis di sini. Abdul Hamid bukan anak nakal dan dia pedagang bagus," katanya.

Tapi, lanjut Umar, segalanya berubah dramatis pada 2013 ketika putranya itu tiba-tiba pergi ke Suriah buat bertempur bareng milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). "Saya bertanya sendiri saban hari kenapa dia bisa sebegitu radikal," ujarnya. Namun dia mengaku hingga kini belum menemukan jawabannya.

Nama dan foto Abdul Hamid Abu Aud mendunia setelah Prancis menyebut lelaki 27 tahun ini sebagai otak Teror Paris. Serangan terkoordinasi di tujuh tempat dan dilakukan delapan anggota ISIS di Ibu Kota Paris Jumat malam pekan lalu itu menewaskan seratusan orang dan melukai tiga ratusan lainnya. Dia kini buronan nomor wahid di Eropa.

Sejatinya Prancis sudah mengetahui ancaman serangan itu tiga bulan lalu, setelah mereka menahan Rida Hami, seperti dilaporkan Le Monde. Dia menyebut nama Abdul Hamid sebagai orang memerintahkan dia ke Eropa untuk melancarkan serangan teror. Hami ditangkap sepulang menjalani pelatihan enam hari di Raqqah, utara Suriah.

Hami menjelaskan Abdul Hamid menyuruh dia ke Eropa lewat Ibu Kota Praha, Ceko, agar tidak ketahuan. Dia dibekali fulus dua ribu euro dan sebuah alat penyimpan data USB berisi perangkat lunak enkripsi. Dia disuruh menyerang sasaran mudah, seperti gedung pertunjukan, untuk memastikan korban tewas dalam jumlah besar.

Abdul Hamid berangkat ke Suriah dua tahun lalu bareng rombongan pemuda jihadis asal Belgia tergabung dalam kelompok bernama Al-Battar al-Katiba atau Pedang Para Nabi. Di Suriah dia dikenal dengan nama samaran Abu Umar al-Baljiki atau Abu Umar Soussi, lantaran dia terkait serangan teror Juni lalu di daerah wisata pantai di Sousse, Tunisia.

Hampir 500 orang dari negara ini telah bertempur untuk milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu. Sekitar 130 orang sudah kembali, 77 tewas, dan lebih dari 200 lainnya masih di Suriah.

Abdul Hamid kerap tampil dalam video propaganda ISIS untuk menarik minat kaum jihadis Belgia untuk bergabung. Kariernya di kelompok teroris itu meroket. Sejumlah sumber di Suriah melaporkan Agustus tahun ini dia ditunjuk sebagai komandan militer ISIS di Provinsi Dair az-Zur, menggantikan Abu Umar asy-Syisyani, jihadis dari Chechnya dipindah ke Irak.

Dalam wawancara khusus dengan Dabiq, majalah terbitan ISIS, Januari lalu, Abdul Hamid sesumbar meski sudah menjadi daftar incaran aparat intelijen dan keamanan Belgia, dia mengaku bisa dengan mudah bolak balik Suriah-Eropa. Dia kembali ke Belgia melalui Yunani akhir 2013.

Dia berhasil kabur dari Belgia setelah sel ISIS bentukannya digerebek polisi Belgia Januari tahun ini. Serbuan ke rumah persembunyian di Kota Verviers itu juga menewaskan dua rekan Abdul Hamid, yakni Abu Zubair dan Abu Khalid.

Ayahnya sedih sekaligus marah. Dia bilang putranya itu telah menghancurkan kehidupan keluarganya. "Kenapa atas nama Tuhan dia ingin membunuh orang-orang Belgia tidak bersalah?" katanya seperti dilansir La Libre Belgique. "Keluarga kami berutang segalanya kepada negara ini."

Pihak keluarga kian terpukul karena Abdul Hamid juga menculik adiknya, Yunus Abu Aud, baru berusia 13 tahun, ke Suriah. Sampai-sampai media menjuluki dia jihadis termuda sejagat setelah sejumlah fotonya dengan senapan serbu AK-47 tersebar di Internet.

Menurut Yasmina, kedua adiknya itu tidak tertarik pada agama sebelum pergi ke Suriah. "Mereka bahkan tidak pernah salat di masjid," tuturnya kepada surat kabar the New York Times Januari lalu.

Warga Libanon berunjuk rasa pada 14 Mei 2021 di wilayah Metula, perbatasan Libanon-Israel, menentang Perang Gaza. (Telegram)

Satu pemuda Libanon luka ditembak tentara Israel akhirnya wafat

Muhammad Qasim Tahhan disebut sebagai tentara cadangan Hizbullah.

Demonstran pada 10 Mei 2021 membakar pagar tembok Konsulat jenderal Iran di Kota Karbala, Irak. Mereka memprotes pembunuhan Ihab al-Wazni, aktivis antipemerintah terjadi di Karbala kemarin. (Screenshot)

Protes pembunuhan aktivis antipemerintah, demonstran bakar pagar Konsulat Iran di Karbala

Masyarakat Syiah di Irak memang terbelah dua, ada yang berkiblat ke Iran dan ada pula yang setia kepada pemimpin Syiah Irak Ayatullah Ali Sistani.

Jamaah umrah sedang bertanya kepada petugas keamanan. (Saudi Gazette)

Saudi umumkan haji akan digelar tapi belum jelas haji domestik atau internasional

Setelah pandemi Covid-19 meletup Maret tahun lalu, Saudi cuma membolehkan penduduk Saudi buat berhaji. Itu pun jumlahnya terbatas, seribu orang saja.

Alireza Fazeli Munfarid, pemuda Iran berumur 20 tahun, dibunuh keluarga setelah ketahuan dia menjadi gay. (Twitter)

Pemuda gay di Iran dibunuh keluarganya

Pasangan gay ketahuan bercinta diancam hukuman mati. Sedangkan mereka ketangkap berciuman, berpegangan tangan, dan saling perhatian akan dikenai hukuman cambuk di muka umum.





comments powered by Disqus