kabar

Al-Azhar ajak seluruh negara muslim ikut dalam aliansi antiteror bentukan Saudi

Indonesia belum menentukan sikap.

16 Desember 2015 19:59

Lembaga pendidikan Islam tersohor sejagat, Universitas Al-Azhar berpusat di Ibu Kota Kairo, Mesir, menyambut baik pembentukan aliansi militer negara muslim dipimpin Arab Saudi untuk memerangi terorisme.

Al-Azhar berharap aliansi ini akan mampu memberantas terorisme. Karena itu Al-Azhar menyerukan kepada seluruh negara muslim untuk bergabung. "Ini sebuah tuntutan mendesak rakyat di negara-negara Islam karena mereka lebih menderita ketimbang yang lain akibat terorisme," kata Al-Azhar lewat pernyataan tertulis dilansir hari ini.

Aliansi militer ini beranggotakan Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, Bahrain, Bangladesh, Benin, Turki, Chad, Togo Tunisia, Djibouti, Senegal, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Gabon, Guinea, Palestina, Komoros, Qatar, Pantai Gading, Kuwait, Libanon, Libya, Maladewa, Mali, Malaysia, Mesir, Maroko, Mauritania, Niger, Nigeria, Yaman.

"Negara-negara disebut di sini telah memutuskan membentuk sebuah aliansi militer dipimpin Arab Saudi untuk memerangi terorisme, dengan pusat operasi bersama di Riyadh untuk mengatur dan mendukung operasi militer," kata 34 negara itu dalam pernyataan bersama dilansir Saudi Press Agency kemarin.

Namun aliansi itu tidak memasukkan Iran, musuh bebuyutan Arab Saudi di Timur Tengah, Irak, dan Suriah. Kedua negara ini satu poros dengan Teheran.

Dalam jumpa pers di kantornya hari ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir menyatakan pemerintah belum bisa menentukan sikap apakah akan bergabung dalam aliansi itu. Sebab informasi diterima dari pihak Arab Saudi sebelumnya berbeda.

Dia mengungkapkan saat berbicara dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melalui telepon Jumat pekan lalu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair menyampaikan rencana pemerintahnya membentuk pusat koordinasi untuk menanggulangi ekstremisme dan terorisme, bukan membikin aliansi militer.

Retno menyatakan Indonesia selalu menyokong upaya penanganan terorisme, namun untuk rencana Arab Saudi itu dia meminta penjelasan secara rinci sebelum mengambil sikap. Tapi hingga pembentukan aliansi militer itu diumumkan, Riyadh belum mememuhi permintaan itu. "Buat Indonesia, yang pasti kita tidak bisa melakukan komitmen pada suatu kerja sama internasional sebelum kita mengetahui, detail, bentuk, ruang lingkup, dan modalitasnya," kata Arrmanatha.

Dalam jumpa pers, tidak lazim digelar di Arab Saudi, Wakil Putera Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Pangeran Muhammad bin Salman menjelaskan aliansi ini akan mengkoordinasikan segala upaya untuk memberantas terorisme di Irak, Suriah, Libya, Mesir dan Afghanistan. Untuk melaksanakan operasi militer di Suriah dan Irak, dia bilang perlu pula berkoordinasi dengan negara-negara besar dan organisasi internasinal.

Ketika ditanya apakah aliansi militer 34 negara muslim ini bakal berfokus memerangi milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), Pangeran Muhammad bin Salman mengatakan koalisi ini tidak hanya menghadapi kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu tapi, “Semua kelompok teroris muncul di hadapan kita.”

Arab Saudi bersama lima negara Arab Teluk lainnya selama sembilan bulan belakangan menggempur milisi Syiah Al-Hutiyun dukungan Iran di Yaman.

ISIS telah bersumpah menggulingkan rezim kerajaan di enam negara Arab Teluk – yakni Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman – sudah melancarkan serangkaian serangan atas sejumlah masjid Syiah dan pasukan keamanan di Kuwait dan Arab Saudi.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan cucunya, Pangeran Abdul Aziz bin Khalid bin Salman. (Al-Arabiya/Supplied)

900 ribu kembang api akan dibakar buat rayakan hari lahir Arab Saudi

Kerajaan Arab Saudi dibentuk pada 23 September 1932 oleh Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman.

Sampah makanan. (Saudi Gazette)

FAO sebut Arab Saudi negara paling banyak buang makanan

FAO bilang saban tahun terdapat 427 ton makanan dibuang di negara Kabah itu.

Sejumlah warga Arab Saudi siap menikmati makanan dalam jumlah kelewat banyak. (Caravan Daily)

Jumlah makanan terbuang di Arab Saudi saban tahun senilai Rp 181 triliun

Program itu juga untuk memperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan dalam menghasilkan produk daur ulang.

Microsoft dipkasa meminta maaf karena keliru menerjmehkan Dais menjadi ZArab Saudi. (Fortune)

Microsoft minta maaf karena salah menerjemahkan Dais menjadi Arab Saudi

Kepala Microsoft di Arab Saudi Mamduh Najjar meminta maaf atas kekeliruan itu.





comments powered by Disqus