kabar

Mengais iba Raja Abdullah

Jika mereka terus melanjutkan pelaksanaan hukuman seribu kali cemeti, berarti mereka sedang membunuh dia pelan-pelan," kata Insyaf.

16 Januari 2015 18:04

Rasanya sukar membayangkan kepedihan Insyaf Haidar. Dari rumahnya di sebuah kota kecil di Provinsi Quebec, Kanada, hampir 9.656 kilometer jauhnya dari Arab Saudi, dia mengikuti kabar pelaksanaan hukuman cambuk terhadap suaminya.

Sehari sebelum suaminya menerima cicilan kedua hukuman cambuk hari ini, Insyaf mengemis belas kasih Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Dia meminta hukuman itu dibatalkan. "Arab Saudi tengah membahayakan kesehatan dan nyawanya. Jika mereka terus melanjutkan pelaksanaan hukuman seribu kali cemeti, berarti mereka sedang membunuh dia pelan-pelan," kata Insyaf, 35 tahun, kepada the Mail Online. "Itu sebuah tindak kejahatan."

Ditonton ratusan orang, Raif Badawi menjalani hukuman 50 kali cemeti perdananya sehabis salat Jumat pekan lalu di depan Masjid Al-Jafali. Dia mesti melewati hukuman itu selama 20 pekan.

Badawi, pendiri situs web Free Saudi Liberal, ditangkap Juni 2012. Namun sejak 2009 pemerintah telah memblokir rekening tabungannya dan dia dilarang ke luar negeri. Dia dituduh melakukan sejumlah kejahatan dunia maya, termasuk menghina Islam dan durhaka kepada ayahnya. Situs bikinan Badawi ini menampilkan pelbagai artikel mengkritik ulama-ulama senior Wahabi dan tokoh-tokoh dalam sejarah Islam. Alhasil, memicu perdebatan.

Pihak penuntut tadinya meminta lelaki 31 tahun itu diadili dengan dakwaan murtad sehingga dia terancam hukuman mati. Namun hakim menolak tudingan itu.

Badawi sebenarnya Juli tahun lalu divonis hukuman tujuh tahun penjara dan 600 kali cambukan. Tapi jaksa tidak puas. Pengadilan banding lalu memperberat hukuman bagi Badawi menjadi sepuluh tahun penjara, seribu kali cemeti, dan denda sejuta riyal atau Rp 3,4 miliar.

Insyaf dan tiga anak mereka - Najwa (11 tahun), Tirad (10 tahun), dan Mariam (7 tahun) - tinggal di Kanada sejak November 2011. Mereka lari dari Saudi sejak Badawi ditangkap. Mereka sempat bermukim dua tahun di Libanon sebelum memperoleh status pengungsi. Artinya Badawi tidak pernah lagi berbicara dengan istri dan ketiga anaknya itu lebih dari empat tahun terakhir. Bahkan sejak dia dipindah ke penjara baru dua setengah pekan lalu, tidak ada seorang pun bisa bertemu atau menelepon dia.

Teman-teman Insyaf, termasuk saudara perempuan Badawi, Jumat pekan lalu menyaksikan pelaksanaan hukuman cambuk itu. "Dia di sana untuk mendukung kakaknya. Dia (suami saya) sangat kuat dan dia tidak bergerak saat dicemeti," ujar Insyaf.

Pelaksanaan hukuman cambuk direkam diam-diam itu tersebar di Internet. Dalam rekaman video itu, Badawi, berkemeja putih dan bercelana panjang hitam, berdiri kokoh sambil menerima cambukan dari dua polisi syariah. Kerumunan orang menonton mencemooh dia.

Komisioner Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Pangeran Zaid Raad Zaid al-Husain menjelang pelaksanaan hukuman cambuk kedua hari ini mendesak Raja Abdullah membatalkan vonis itu. "Pencambukan, dalam pandangan saya, paling tidak adalah sebuah bentuk hukuman kejam dan tidak manusiawi," tuturnya. "Hukuman semacam ini dilarang oleh hukum internasional."

Sampah makanan. (Saudi Gazette)

FAO sebut Arab Saudi negara paling banyak buang makanan

FAO bilang saban tahun terdapat 427 ton makanan dibuang di negara Kabah itu.

Sejumlah warga Arab Saudi siap menikmati makanan dalam jumlah kelewat banyak. (Caravan Daily)

Jumlah makanan terbuang di Arab Saudi saban tahun senilai Rp 181 triliun

Program itu juga untuk memperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan dalam menghasilkan produk daur ulang.

Empat anggota milisi Jabhat Fatih asy-Syam mengeluarkan ancaman menembak mati Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jika dia tidak dihukum atas kasus penistaan agama. (Albalad.co/Istimewa)

Sebut Wahabi sumber ekstremisme dan terorisme, menteri agama Tunisia dicopot

Menteri Agama Tunisia Nuruddin al-Khadimi pada 2012 bilang sekitar 400 dari lima ribu lebih masjid di negaranya telah jatuh ke tangan kaum Salafi ultra-konservatif.

Microsoft dipkasa meminta maaf karena keliru menerjmehkan Dais menjadi ZArab Saudi. (Fortune)

Microsoft minta maaf karena salah menerjemahkan Dais menjadi Arab Saudi

Kepala Microsoft di Arab Saudi Mamduh Najjar meminta maaf atas kekeliruan itu.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Qatar tuduh Arab Saudi halangi warganya berhaji

"Tahun ini tidak ada seorang pun warga Qatar benar-benar berupaya untuk berhaji karena mereka sadar tidak mungkin ke sana (Makkah) dalam situasi seperti sekarang," kata manajer sebuah agen perjalanan haji di Ibu Kota Doha, Qatar.

18 Agustus 2018

TERSOHOR