kabar

Polemik jilbab di negeri Nil

Kontroversi soal jilbab memuncak saat peluncuran Hari Buka Jilbab Internasional pada September 2013.

17 Januari 2015 16:54

Meski masih menjadi rujukan buat belajar agama Islam lantaran ada Universitas Al-Azhar, kampus ini berdiri pada 970 atau 972 di masa kekuasaan Dinasti Fatimah, jilbab rupanya masih menjadi polemik di Mesir. Penutup kepala bagi muslimah ini kerap menjadi isu kontroversial.

Kontroversi soal jilbab memuncak saat peluncuran Hari Buka Jilbab Internasional pada September 2013. Penggagasnya adalah Ketua Partai Sekuler Mesir Bahaa Anwar. Dia juga tokoh Syiah tersohor di negeri Nil itu.

Kampanye sensasional ini tidak pernah berjalan tapi perdebatan mengenai jilbab masih berlanjut sampai sekarang. "Jilbab bukanlah kewajiban dalam Islam dan isu ini digunakan ulama buat mengorntol perempuan. Sepotong pakaian tidak bisa memastikan seberapa saleha seorang wanita," kata Anwar. Dia menambahkan partainya bakal memberikan bimbingan bagi kaum hawa merasa dipaksa berjilbab atau ingin melepas hijab.

Banyak pihak bilang gagasan kampanye buka jilbab bermotif politik. Profesor bidang psikologi Rasyid Abdil Latif mengatakan setahun setelah Al-Ikhwan al-Muslimun memerintah, kaum muda memandang agama sebagai ekstremisme. "Perempuan melepas jilbab sebagai protes atas ide-ide ekstremis disebarkan oleh Al-Ikhwan dan faksi Islam lainnya," ujarnya.

Profesor sosiologi politik Said as-Sadiq menilai Al-Ikhwan dan para pendukungnya telah menodai citra Islam. "Kelompok-kelompok Islam menggunakan cara-cara kekerasan. Mereka bicara tentang hukum Islam dengan ancaman penyiksaan dan pembunuhan," tuturnya.

Profesor psikologi Muhammad Nabil menilai Al-Ikhwan tidak mampu memahami kondisi rakyat Mesir. Al-Ikhwan tidak sadar penduduk negara Firaun ini akan menolak cara-cara agresif mereka pakai buat menyiarkan prinsip-prinsip Islam. "Orang Mesir tidak akan pernah mau dipaksa melakukan sesuatu lewat cara meneror."

Abdil Latif, Sadiq, dan Nabil juga mengaitkan fenomena buka jilbab dengan kian berkembanganya atheisme di Mesir. Mereka menyebut itu sebagai konsekuensi dari berkuasanya Al-Ikhwan.

Sara Alam malah menghubungkan fenomena lepas hijab dengan iklim pemberontakan mulai lazin di kalangan rakyat Mesir sejak revolusi menumbangkan Presiden Husni Mubarak, 25 Januari 2011. Kaum wanita juga berperan besar dalam penggulingan rezim Mubarak pun kini menyadari mereka mampu mengubah hal-hal tabu. "Melepas jilbab bukan sesuatu yang tabu dan sudah biasa," kata jurnalis perempuan ini.

Namun para penyokong jilbab lebih berfokus pada gama ketimbang politik. Menurut Safa Salahuddin, banyak perempuan berhujab tanpa memahami hukumnya atau karena dipaksa orang tua mereka lantaran sudah berusia dewasa, atau karena lembaga agama tidak cukup memberikan pengajaran soal kewajiban dan manfaat kaum muslimah menutup aurat.

Safa mengkritik perempuan berjilbab tapi berperilaku tidak islami. Alhasil, menjadi contoh buruk bagi yang lain. "Kita tidak bisa cuma menyalahkan perempuan melepas hijab namun juga lingkungan sekitar tidak membantu dia memahami soal kewajiban dan pentingnya berhijab," ujarnya.

Profesor sosiologi Azza Kurayim menyoroti jilbab di Mesir sama halnya dengan gaya berpakaian. Pada 1960-an, saat gagasan liberal dipromosikan, perempuan Mesir berpakaian minim dan kaum lelakinya berambut gondrong. Lalu menjadi lebih konservatif di 1970-an dan 1980-an. "Waktu itulah jilbab mulai populer," ucapnya.

Sama saja ketika norma berjilbab mulai longgar. Meski berjilbab kaum hawa mulai berpakaian ketat hingga akhirnya mereka benar-benar membuka hijab mereka.

Syekh Yusuf al-Qaradawi. (Facebook/Yusuf al-Qaradawi)

Mesir tangkap putri dan mantu Syekh Yusuf Qaradawi

Seperti ayahnya, Ula Qaradawi dan suaminya, Husam Khalaf, dikenai tuduhan terlibat terorisme.

Ibu Kota Kairo, Mesir. (afrika.com)

Vonis mati buat Mursi dibatalkan

Mursi sudah menerima vonis 20 tahun, 40 tahun, dan penjara seumur hidup atas tiga kasus lainnya.

Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi. (cnn.com)

Mesir keluarkan fatwa protes damai haram

Al-Ikhwan al-Muslimun hari bakal menggelar unjuk rasa dengan slogan: "Tanah tidak bisa menyerap darah."

Buruh bangunan sebuah proyek konstruksi di Arab Saudi tengah bekerja di bawah terik surya. (Al-Arabiya/ilustrasi)

Cuaca panas di Mesir bikin 21 orang mati kepayahan

Suhu udara di Mesir rata-rata 47 derajat Celcius di waktu siang.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Anak Raja Salman bertemu kepala Dewan Keamanan Nasional Israel

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Maret lalu, Pangeran Muhammad bin Salman menggelar pertemuan dengan para pemimpin organisasi pro-Zionis.

19 Juni 2018
Makkah tak lagi sakral
18 Juni 2018

TERSOHOR