kabar

Teror Charlie Hebdo dan koneksi Yaman

Korupsi dan kemiskinan adalah pemicu perang dan ekstremisme di Yaman.

17 Januari 2015 20:27

Al-Qaidah cabang Yaman telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror di kantor redaksi tabloid terbitan Prancis Charlie Hebdo. Insiden pekan lalu di Ibu Kota Paris ini menewaskan 12 orang. Bahkan kelompok dikenal dengan sebutan Al-Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP) ini mnegulangi lagi seruan mereka: Bunuhlah orang-orang menghina Nabi Muhammad.

Dua pelaku teror itu juga mengaitkan diri mereka dengan AQAP. Setidaknya, salah satu dari dua bersaudara ini pernah mengikuti pelatihan militer di Yaman, negeri sudah menjadi pusat perang saudara, ekstremisme Islam, dan operasi kontraterorisme oleh Amerika Serikat selama 15 tahun belakangan.

Cherif Kouachi, 34 tahun, mengaku pernah melewat ke Yaman pada 2011. Abangnya, Said (32 tahun), juga bermukim beberapa bulan di sana selama tahun itu. Sehabis membunuh 12 orang, dua bersaudara ini bilang kepada dua pejalan kaki dan wartawan French TV, mereka anggota Al-Qaidah di Yaman. Namun belum jelas apa perintah diberikan AQAP kepada dua orang itu.

Seorang pejabat di Yaman membenarkan Said Kouachi memang sudah bertemu pemimpin AQAP Anwar al-Aulaki, ulama Yaman berpaspor Amerika, akhirnya tewas akibat serangan pesawat pengebom nirawak milik Amerika. Menurut mantan teman sekelasnya di Yaman, Said pernah belajar di Universitas Al-Iman, kampus agama kontroversial dijalankan oleh kaum Sunni radikal dan September lalu direbut oleh pemberontak Syiah.

Sukar buat memahami bagaimana Kouachi bersaudara itu bisa lolos dari radar keamanan Prancis. Tapi cerita Yaman menjadi negara kacau dan dipenuhi kelompok ekstremis lebih muda dimengerti.

Yaman baru menjadi negara bersatu seperti sekarang sejak 1990, ketika Republik Arab Yaman (dikenal dengan nama Yaman Utara) bergabung dengan Republik Rakyat Demokratik Yaman (Yaman Selatan). Kekacauan politik berlangsung antar kelompok dipicu oleh kekayaan, militer, kekuatan suku, dan kelompok Islam.

Hingga akhirnya Presiden Yaman Utara Ali Abdullah Saleh muncul sebagai pemimpin negara baru itu. Ketika Revolusi Arab bertiup pada 2010 bentrokan berdarah meletup lantaran muncul tudingan korup terhadap rezim Saleh selama 22 tahun. Saleh akhirnya memilih lengser lewat campur tangan Amerika dan negara-negara Arab Teluk.

Tapi buruknya stabilitas selama Saleh berkuasa kian buruk sehabis dia mundur. Konflik bersenjata di Yaman memberi ruang bagi para penyokong Al-Qaidah dan Anwar al-Aulaki membikin AQAP setelah 2007. Ketiadaan hukum di selatan Yaman membantu Aulaki lolos dari buruan pasukan Amerika dan Yaman sampai akhirnya warga Amerika ini tewas pada 2011.

Kalau di bagian selatan karut marut, pasukan Yaman di wilayah utara sibuk selama satu dasawarsa memerangi pemberontak Al-Hutiyun, nama kelompok ini diambil dari nama pemimpin Syiah sekte Zaidi ingin merebut kekuasaan dari mayoritas Sunni. Saat unjuk rasa besar-besaran terjadi di Yaman empat tahun lalu, Al-Hutiyun dan Al-Qaidah saling bertempur. Kedua kelompok ini juga berperang dengan tentara pemerintah.

Sebagian pihak menuding mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, penganut Syiah Zaidi, dan penggantinya, Abdu Rabbu Mansyur Hadi, mendalangi pemberontakan untuk kepentingan politik. Di akhir tahun lalu pasukan Al-Hutiyun berhasil mencaplok Ibu Kota Sanaa. Hadi kehilangan kontrol atas sebagian besar wilayah Yaman dan terpaksa meneken perjanjian pembagian kekuasaan dengan pemberontak Houthi.

Pertumbuhan AQAP mirip ISIS di Irak dan Suriah, Boko Haram di Nigeria, pemberontak Islam anti-Rusia di pegunungan Kaukasia, dan Al-Qaidah di sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan. Luluh lantak oleh perang berkepanjangan, Yaman telah dan mungkin bakal masih menjadi surga bagi ekstremisme selama bertahun-tahun.

Korupsi dan kemiskinan adalah pemicu perang dan ekstremisme di negara itu. Menurut Transparency International, Yaman termasuk negara paling korup di dunia. Kata the Heritage Foundation, suap di sana sudah mewabah. Militan, suku, dan orang-orang tajir telah membikin sistem tuan tanah sehingga menjadikan fulus dan senjata jauh lebih bertaji ketimbang hukum.

Yaman juga salah satu negara termiskin sejagat. Amat bergantung dengan hasil pendapatan minyak tapi dengan cadangan mulai menipis, Yaman gagal menggunakan kekayaan emas hitam mereka seperti dilakoni oleh Arab Saudi. Jutaan orang kekurangan gizi, sebetulnya tidak ada lapangan kerja di luar sektor keamanan, dan hampir setengah dari penduduk Yaman hidup miskin. Dengan semua kondisi itu, ekstremisme berhasil memikat warga Yaman, baik itu penganut Sunni, Syiah, atau sekuler.

Ditambah dengan murahnya tiket pesawat dan ada simpati dari warga minoritas Barat atau merasa terpinggirkan di negara mereka, telah membuka kesempatan baru bagi AQAP buat tumbuh. Orang seperti Kouachi bersaudara mungkin tidak diperintah langsung oleh AQAP buat menyerang kantor Charlie Hebdo, tapi mereka merasa memiliki ikatan emosional, mirip penggemar sebuah klub sepak bola.

Pada September 2014 Presiden Amerika Barack Hussein Obama mengatakan strategi menghadapi ISIS di Irak bakal mencontoh keberhasilan taktik dijalankan bertahun-tahun di Yaman dan Somalia. Serangan menggunakan pesawat pengebom nirawak dan melaksanakan misi rahasia tidak hanya berhasil menewaskan para pentolan Al-Qaidah dan Asy-Syabab, tapi menyulut pula kebencian terhadap barat dan gagal memperbaiki stabilitas. Dalam sebuah laporan pada 2013, Departemen Luar Negeri Amerika menyebut AQAP kian kuat dan siap merebut semua provinsi dari pemerintahan Hadi.

Sepanjang tahun lalu Amerika mengurangi gempuran udaranya walau situasi di Yaman kian berbahaya dan suram. Pada September Amerika menutup kedutaan besarnya dan tiga bulan kemudian AQAP membunuh seorang sandera asal Amerika dalam upaya penyelamatan gagal. Bahkan tawanan kedua, tidak diktehaui Amerika, ikut terbunuh. Perbedaan dengan perang terhadap ISIS ialah Amerika tidak bekerja sama dengan negara-negara Timur Tengah, seperti Yordania, Amerika Serikat, dan bahkan Iran ikut membantu.

Konflik berdarah kian ruwet di Yaman lantaran dibumbui persaingan antara Wahabi dikomandoi Saudi dan Syiah besutan Iran. Kaum Sunni di Yaman menuding Iran membantu pemberontak Al-Hutiyun dan menyebar teror di perbatasan Saudi. Sebaliknya Iran menuduh Saudi berperan memperlemah pemerintahan Saleh.

Ali Ahmad al-Mulla menjadi muazin Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, sejak 1975. (Screengrab)

Berkenalan dengan muazin Masjid Al-Haram

Ali Ahmad al-Mulla menjadi muazin Masjid Al-Haram sejak 1975.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi di Istana As-Salam di Kota Jeddah, Arab Saudi, 22 Mei 2018. (SPA)

Anak Raja Salman masih hidup

Pangeran Muhammad bin Salman memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi Selasa lalu.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia batalkan kebijakan visa bagi warga Israel

Israel memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Indonesia, namun kedua negara menjalin hubungan ekonomi. Alhasil, warga Israel bisa berkunjung ke Indonesia menggunakan visa pelancong dan bisnis.

Suasana sebuah pasar di Kota Aden, Yaman Selatan, sepi dari para penjual daun Qat setelah ada larangan. (Facebook/Aden City)

Penjualan Qat di Yaman Selatan dilarang

Larangan konsumsi Qat sebenarnya pernah berlaku di Yaman Selatan sebelum negara ini bergabung dengan Yaman Utara menjadi Yaman pada 1990-an.





comments powered by Disqus