kabar

Campur tangan asing karena minyak

Negara-negara dengan potensi produksi minyak tinggi kemungkinan besar menjadi sasaran intervensi pasukan asing bila pecah perang saudara.

29 Januari 2015 11:28

Pelbagai teori konspirasi sudah lama menyebut perang di zaman modern melibatkan minyak. Sebuah penelitian terbaru membuktikan emas hitam memang memegang peran besar dalam banyak konflik.

Hasil riset ilmiah dilakoni peneliti dari tiga universitas di Inggris - Portsmouth, Warwick, dan Essex - menemukan peluang campur tangan asing dalam sebuah perang saudara seratus kali lebih besar saat palagan itu berada di negara memiliki cadangan minyak tinggi ketimbang yang tidak punya sama sekali.

Riset itu adalah yang pertama membenarkan minyak sebagai penyebab dominan pecahnya konflik. Minyak pula menjadi alasan utama intervensi militer di Libya oleh pasukan koalisi dipimpin Inggris dan kampanye militer dikomandoi Amerika Serikat saat ini berlangsung atas milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Hipotesa dalam penelitian ini bilang masih rendahnya tingkat campur tangan asing di Irak dan Suriah itu lantaran harga minyak masih rendah. Alhasil, minyak sekarang adalah aset bernilai kecil untuk dilindungi.

"Kami menemukan bukti jelas negara-negara dengan potensi produksi minyak tinggi kemungkinan besar menjadi sasaran intervensi pasukan asing bila pecah perang saudara," kata salah satu penyusun laporan ilmiah itu, Dr Petros Sekeris dari Universitas Portsmouth. "Campur tangan militer itu mahal dan berisiko. Tidak ada negara mau terlibat perang saudara di negara lain tanpa memperhitungkan ongkos mereka keluarkan dengan kepentingan strategis mereka."

Dr Vincenzo Bove dari Universitas Warwick menambahkan keuntungan ekonomi menjadi faktor kunci dalam intervensi terhadap perang di sebuah negara. "Sebelum pasukan ISIS mendekati wilayah kaya minyak Kurdi di utara Irak, ISIS jarang disebut dalam berita," ujarnya. "Tapi setelah ISIS tiba di sana, pengepungan atas Kobani di Suriah menjadi berita utama dan Amerika mengirim pesawat pengebom nirawak buat menggempur ISIS."

Penelitian dilansir di the Journal of Conflict Resolution itu menganalisa 69 perang saudara berlangsung selama 1945-1999, namun tidak membahas soal invasi pasukan asing. Riset ini mencatat 90 persen dari semua konflik bersenjata meletup sejak Perang Dunia Kedua adalah perang saudara dan dua pertiga dari perang saudara itu melibatkan campur tangan asing.

Dalam proses pengambilan keputusan, pihak ketiga bakal memperhitungkan banyak faktor, termasuk kekuatan militer mereka, kemampuan pasukan pemberontak, kebutuhan minyak pihak ketiga, dan jumlah pasokan bisa diperoleh dari negara akan menjadi sasaran intervensi. Diperoleh kesimpulan, campur tangan asing lebih didorong oleh kebutuhan akan minyak ketimbang ikatan sejarah, geografis, atau etnik.

Laporan itu mencontohkan masih hadirnya pasukan Amerika di negara-negara Arab Teluk pengekspor minyak. Washington tidak mendorong negara-negara kerajaan konservatif itu ke arah demokrasi. Tapi meroketnya produksi minyak Amerika diperkirakan mengurangi intervensi negara itu di Timur Tengah. Posisi mereka bakal digantikan oleh Cina di masa depan.

Seorang perempuan tengah memilih hadiah Valentine di sebuah toko di Ibu Kota Baghdad, Irak. (www.timesofmalta.com)

Merah di Baghdad haram di Najaf

Perayaan Hari Valentine di Baghdad berlangsung meriah.

Jihadis asing di Suriah. (www.dailymail.co.uk)

Rengekan jihadis Prancis

"Saya benar-benar marah karena iPod saya tidak bisa dipakai di sini. Saya harus pulang," tulis seorang jihadi dalam suratnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.





comments powered by Disqus