kabar

American Sniper lenyap dari satu-satunya bioskop di Baghdad

Film garapan sutradara Clint Eastwood itu dianggap menghina rakyat Irak.

03 Februari 2015 13:34

Film soal Perang Irak berjudul "American Sniper" tidak hanya terbukti kontroversial di Amerika Serikat. Fenomena serupa juga berlaku di negara menjadi lokasi kejadian sebenarnya.

Setelah sempat diputar dan mengundang kegaduhan, satu-satunya bioskop di Ibu Kota Baghdad, Irak, akhirnya memilih menarik film itu dari tayangan. Keputusan itu diambil setelah pihak bioskop menerima banyak protes dari pemerintah dan penonton menyebut film itu menghina rakyat Irak.

"American Sniper" diangkat dari kehidupan nyata Chris Klyle, penembak runduk anggota SEAL. Kritik menyebut film amat laris di awal penayangannya ini kelewat sederhana menggambarkan konflik berdarah di negeri 1001 Malam itu. Apalagi cuma dipotret dari satu sisi.

Di Irak film garapan sutradara sekaligus aktor veteran Clint Eastwood itu mengingatkan kembali perbedaan pandangan antara Irak dan Amerika mengenai perang kolosal itu. Konflik berkelanjutan sampai sekarang ini telah menewaskan lebih dari empat ribu serdadu Amerika dan seratus ribu lebih warga Irak. Pasukan Amerika pun kini kembali lagi ke sana.

"Film itu cuma menggambarkan kejayaan Amerika dan membikin Irak bukan apa-apa kecuali teroris," kata guru bernama Ahmad Kamal, 27 tahun. Dia mengunduh film itu dari sebuah situs.

"Saya tidak siap mengeluarkan fulus buat menonton di bioskop," ujarnya. "Film itu menggambarkan Amerika sebagai bangsa kuat dan terhormat sedangkan rakyat Irak bahlul dan bengis."

"American Sniper" juga menghapus catatan ada sejumlah warga Irak bekerja dengan pasukan Amerika, kata Sarmad Muazzim, 32 tahun. Dia pernah membantu tentara Amerika lima tahun di divisi logistik Kementerian Dalam Negeri Irak. Dia kini bekerja sebagai penasihat keamanan di satu-satunya bioskop di Baghdad akhirnya menarik film itu.

"Film itu menyimpulkan semua rakyat Irak teroris - lelaki, perempuan, dan anak-anak," tuturnya. "Padahal sebenarnya ada sebagian orang Irak mencintai Amerika dan ingin mereka tetap tinggal untuk membantu membangun kembali negara kami. Film itu tidak menggambarkan salah satu dari mereka."

Sarmad menyebutkan pula sejumlah kekeliruan dalam film berdurasi 134 menit itu. Dia mencontohkan Sadr City, kawasan di Baghdad sejatinya dihuni sebagian besar kaum Syiah memerangi pasukan Amerika. Namun dalam "American Sniper", Sadr City dikatakan sebagai basis Al-Qaidah merupakan kelompok Sunni.

Berdasarkan pengalamannya, tidak benar warga Irak, termasuk anak-anak, berkeliaran dekat penembak jitu Amerika. "Tidak akan ada orang mau berada di sebuah wilayah bila di sana terdapat seorang penembak runduk Amerika," katanya. "Mereka akan segera kabur dan bersembunyi segera setelah tahu ada penembak jitu."

Salah satu adegan membikin marah orang Irak adalah saat seorang anak siap menembakkan roket peluncur granat. Ini terlihat dalam pemutaran "American Sniper" di satu-satunya bioskop di Baghdad. Tiga penonton di barisan depan langsung melompat. "Mereka berteriak, 'Itu semua bohong,' dan 'Kalian (orang Amerika) telah melecehkan budaya kami,'" ujar Muhammad Laith, mengenang peristiwa itu. Lelaki 27 tahun ini duduk beberapa baris ke belakang. Karena tiga orang itu menolak duduk lagi, petugas keamanan bioskop terpaksa mengusir mereka.

Faris Hilal, manajer bioskop berlokasi di Mal Mansyur baru diresmikan itu, bilang pihaknya menarik "American Sniper" pekan lalu setelah menerima telepon dari seorang pejabat senior di Kementerian Kebudayaan. Pejabat itu mengancam menjatuhkan denda dan menutup bioskop itu jika terus menayangkan "American Sniper".

"Dia mengatakan film itu menghina rakyat Irak," ucap Faris. Pihaknya tahun lalu membuka enam bioskop di seantero Irak. Mereka menawarkan gaya Amerika dalam menonton film, termasuk menyediakan gerai makanan dan daftar film terbaru.

Meski menyesalkan, pihak bioskop menaati perintah itu. "Jika kami putar film itu, kami bakal dikritik. Tapi jika kami tarik, kami akan kehilangan duit," katanya. "Banyak orang ingin menonton film ini."

Kenyataannya banyak orang mengunduh "American Sniper" di Internet dan tidak semua menolak. Termasuk Yasir Bakir, 17 tahun, pengelola karosel di mal itu. Dia masih anak-anak saat Perang Irak terjadi. Dia bilang tidak ada adegan menghina bangsa Irak. "Itu cuma sebuah film soal kejadian di masa lalu," ujarnya.

"American Sniper" pun telah berlalu dari bioskop Baghdad.

Seorang perempuan tengah memilih hadiah Valentine di sebuah toko di Ibu Kota Baghdad, Irak. (www.timesofmalta.com)

Merah di Baghdad haram di Najaf

Perayaan Hari Valentine di Baghdad berlangsung meriah.

Jembatan Sarifiyah di Ibu Kota Baghdad, Irak. (commons.wikimedia.org)

Sehabis jam malam dihapus di Baghdad

Empat kawasan dinyatakan zona bebas senjata, yakni Kazimiyah, Azamiyah, Mansour, dan Sayidiya.

Rekaman video dari stasiun televisi Al-Iraqiyah memperlihatkan Presiden Saddam Husain sesaat sebelum digantung, 30 Desember 2006. (www.news.com.au)

Tali bekas gantung Saddam ditawar Rp 88 juta

Peminatnya adalah dua pengusaha Kuwait, sebuah keluarga kaya Israel, sebuah bank, dan satu organisasi keagamaan di Iran.

Ladang minyak telah dikuasai ISIS. (business.financialpost.com)

Campur tangan asing karena minyak

Negara-negara dengan potensi produksi minyak tinggi kemungkinan besar menjadi sasaran intervensi pasukan asing bila pecah perang saudara.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Pangeran Arab Saudi serukan kudeta terhadap Raja Salman

"Kalau Ahmad dan Muqrin bersatu, saya yakin 99 persen anggota keluarga kerajaan, pasukan keamanan, dan tentara akan mendukung mereka," kata Pangeran Khalid, mendapat suaka politik di Jerman sedari 2013.

21 Mei 2018

TERSOHOR