kabar

Televisi Turki diperingatkan sebab gunakan kata "Tuhan" bukan "Allah"

Pemakaian kata "Tuhan" diyakini bisa merusak persepsi anak-anak soal Allah.

13 Februari 2015 00:04

Dewan Tertinggi Radio dan Televisi (RTUK), badan pengawas lembaga penyiaran di Turki, telah memperingatkan stasiun televisi swasta TV2 karena menggunakan kata "Tuhan" bukan "Allah".

Menurut RTUK, lebih memilih memakai kata "Tuhan" bisa menimbulkan pengaruh negatif terhadap persepsi anak-anak mengenai Allah. Mereka menambahkan dengan tindakan itu TV2 telah menghina nilai-nilai nasional dan sentimental masyarakat.

"Hampir seluruh masyarakat di Turki adalah muslim. Dalam masyarakat muslim, Allah itu Maha Esa dan satu-satunya Tuhan," kata RTUK, seperti dilaporkan surat kabar Hurriyet Daily News kemarin.

Penggunaan kata "Tuhan" itu terdapat dalam sebuah program di TV2. RTUK sebelumnya telah mendenda stasiun televisi ini karena isi salah satu acaranya dianggap melanggar aturan.

Yair Lapid, kandidat kuat perdana menteri Israel dari Partai Yesh Atid. (Times of Israel/Courtesy)

Yair Lapid diberi kesempatan bentuk pemerintahan sekaligus singkirkan Netanyahu

"Ini akan menjadi pemerintahan sayap kiri berbahaya, kombinasi mematikan antara ketidakmampuan dan ketiadaan tanggung jawab," ujar Netanyahu.

Ibu Kota Doha, Qatar. (dohabus.com)

Tabrak lelaki Inggris hingga tewas, pangeran Qatar akan diadili tahun depan

Kejadiannya pada Agustus 2019, namun Syekh Hasan nasir ats-Tsani dibebaskan dengan membayar uang jaminan.

Uskup Agung Sebastia Theodosios, salah satu pemuka Kristen Orthodoks di Yerusalem. (Nadezhda Kevorkova/Russia Today)

Orang Kristen Palestina juga bilang Allahu Akbar

"Bagi kami, kata Allah tidak identik dengan Islam. Ini adalah sebuah kata dalam bahasa Arab untuk Sang Pencipta alam semesta," kata Uskup Theodosios.

Aysen Gurcan merupakan menteri berjilbab pertama di Turki. Dia diangkat sebagai menteri kebijakan keluarga dan sosial. (iha.com.tr)

Menteri berjilbab pertama di Turki

Aysen Gurcan ditunjuk sebagai menteri kebijakan keluarga dan sosial.





comments powered by Disqus