kabar

Protes eksekusi ulama Syiah, demonstran serbu Kedutaan Saudi di Teheran

Nuri al-Maliki bilang hukuman pancung atas Syekh Nimr an-Nimr akan mendorong kejatuhan rezim Bani Saud.

03 Januari 2016 11:27

Para pengunjuk rasa di Ibu Kota Teheran, Iran, subuh tadi menyerbu masuk ke dalam Kedutaan Besar Arab Saudi. Mereka merusak dan membakar kantor perwakilan diplomatik negara Kabah itu sebagai protes atas hukuman pancung terhadap ulama Syiah Syekh Nimr an-Nimr.

Syekh Nimr bersama 46 orang lainnya, didakwa terlibat kegiatan terorisme, kemarin dieksekusi. Dia dikenal sebagai pemimpin Syiah paling vokal di Arab Saudi dan kerap mengkritik penguasa.

Setelah polisi berhasil membubarkan demonstran marah, lewat pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri Iran meminta pengunjuk rasa menghormati kantor perwakilan diplomatik negara lain.

Beberapa jam sebelum serbuan ke Kedutaan Arab Saudi di Teheran, anggota milisi Basij - memiliki kaitan dengan pasukan elite Garda Revolusi - juga berusaha membakar kantor konsulat negara itu di Kota Masyhad, timur laut Iran.

Hukuman pancung terhadap Syekh Nimr itu memicu ketegangan antara kedua negara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Husain Jabir Ansari menuding Arab Saudi menciptakan ketegangan sektarian di Timur Tengah. "Pemerintah Saudi menyokong gerakan teroris dan takfiri (ekstremisme Sunni radikal), tapi menghadapi kritik di dalam negeri dengan penindasan dan eksekusi...pemerintah Saudi bakal membayar mahal atas semua kebijakan ini," katanya, seperti dilansir kantor berita IRNA.

Ketua parlemen Iran Ali Larijani meperingatkan. "Kesyahidan Nimr akan menempatkan Arab Saudi pada pusaran kekacauan. Saudi tidak akan mampu melewati pusaran itu."

Arab Saudi membalas dengan menuduh Iran mensponsori teror dan menciptakan ketidakstabilan di kawasan. "Iran adalah negara sponsor teror dan dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa serta banyak negara," ujar seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Arab Saudi lewat pernyataan tertulis, seperti dilansir Saudi Press Agency.

Eksekusi itu berlangsung sehari setelah Amnesty International merilis laporan menyebut selama tahun lalu Arab Saudi memenggal 157 orang, jumlah terbanyak sejak 1995.

Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi mengaku amat kaget mendengar kabar eksekusi Syekh Nimr. Dia bilang hal itu hanya akan mengarah pada kerusakan lebih lanjut.

Mantan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki meyakini hukuman mati terhadap Syekh Nimr itu bakal mendorong kejatuhan rezim Bani Saud.

Demonstrasi juga berlangsung di Bahrain, Kashmir, Pakistan, dan Qatif di timur Arab Saudi.

Albert Einstein, ilmuwan fisika asal Jerman berdarah Yahudi. (YouTube)

Ulama Iran klaim Albert Einstein muslim Syiah

Einstein beralasan Syiah adalah paham paling ilmiah dan Islam merupakan agama paling benar di dunia.

Demonstran menyerbu masuk dan membakar Kedutaan Arab Saudi di Ibu Kota Teheran, Iran pada Ahad, 3 Januari 2016. (Iranian Media/Al-Arabiya.net)

Swiss akan keluarkan visa umrah bagi warga Iran

Saudi menolak memperbaiki hubungan dengan Iran hingga negara Mullah ini berhenti mencampuri urusan dalam negeri negara Arab lainnya.

Wakil Putera Mahkota sekaligus Ketua Dewan Perekonomian dan Pembangunan Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Twitter/@SaudiMonarchy)

Anak raja Saudi pastikan tidak akan terjadi perang dengan Iran

"Karena perang antara Arab Saudi dan Iran akan menjadi permulaan dari petaka besar di kawasan (Timur Tengah)," kata Pangeran Muhammad bin Salman.

Peta kawasan Teluk Persia. (Google Map)

Qatar tarik duta besarnya dari Iran

Djibouti mengikuti jejak Arab Saudi, Bahrain, dan Sudan, yakni memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.

17 Desember 2018

TERSOHOR