kabar

Berkenalan dengan terduga dalang Bom Sarinah

Bahrun Naim membawa dua istri dan anaknya pindah ke Raqqah, Suriah, pada Februari 2015.

15 Januari 2016 23:23

"Dia sepertinya disiapkan buat menggantikan posisi Abu Jandal sebagai penghubung karena jaringannya luas," kata sumber Albalad.co saat dihubungi melalui telepon selulernya malam ini.

Abu Jandal, bernama asli Salim Mubarak at-Tamimi, terkenal setelah dalam rekaman video diunggah di YouTube mengancam bakal menyerang objek-objek vital dan panglima Tentara Nasional Indonesia.

Berdasarkan dokumen pengadilan diperoleh Albalad.co, pada 23 Maret 2014 Abu Jandal bareng 18 orang lainnya, termasuk Hilmi Muhammad al-Amudi alias Abu Rayyan (pengasuh pondok pesantren Al-Mukmin, Malang, Jawa Timur), Ahmad Junaidi alias Abu Salman alias Jun, Abdul Hakim Munabari alias Abu Imad, dan Ridwan Sungkar alias Abu Bilal alias Iwan berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Sumber itu menambahkan hingga kini nasib Abu Jandal di Suriah tidak diketahui. "Ada yang bilang dia sudah tewas tapi belum ada konfirmasi soal itu," uajrnya.

Sedangkan lelaki dimaksud akan menggantikan Abu Jandal adalah Bahrun Naim. Polisi sudah menuding pria 32 tahun ini sebagai dalang serangan teror di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, merupakan pusat bisnis dan sekitar satu kilometer dari istana presiden.

Sumber itu bilang posisi komandan jihadis ISIS asal Asia Tenggara di Suriah tetap dipegang Bahrumsyah. alias Abu Muhammad al-Indonesi. Lewat rekaman video diunggah ke YouTube pada 2014, dia menyerukan kaum muslim Indonesia untuk bergabung dengan ISIS.

Namun tidak diketahui kapan lelaki pernah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta Selatan, itu berangkat ke Suriah dan dengan siapa saja.

Bahrumsyah ikut dalam acara deklarasi mendukung ISIS dan baiat bersama kepada pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi berlangsung Maret 2014 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

"Bahrumsyah sekarang ada di Latakia, sedangkan Bahrum Naim di Raqqah," tutur sumber itu.

Nama lengkapnya adalah Muhamad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Naim alias Abu Rayyan alias Abu Aisyah. Lelaki kelahiran Pekalongan ini bersama dua istri - Rafiqa Hasnum dan Sri Lestari - serta anak-anak mereka berangkat ke Suriah pada Februari 2015.

Data diperoleh Albalad.co menyebutkan walau berada di Suriah, Bahrun Naim membentuk kelompok kajian secara daring menggunakan aplikasi Telegram dan beranggotakan 104 akun.

Pada Juni 2015, Bahrun Naim dari Suriah memerintahkan Ibadurrahman membentuk kelompok akan melakukan serangan teror dan berlatih membuat bom. Semua dana dari Bahrum Naim. Kelompok dibentuk Ibadurrahman terdiri dari Sugiyanto, Yus Karman, Haris, Abadi, dan Udin

Selama Juni hingga Agustus 2015, Ibadurrahman dan kelompoknya membeli bahan peledak dan berlatih membuat bom. Mereka bakal menyasar kantor Kepolisian Sektor Pasar Kliwon, sebuah gereja, dan kuil Konfusius (Buddha) di Kepunten Solo.

Serangan itu rencananya pada 17 Agustus 2015. Polisi berhasil menggagalkan usaha itu dan kemudian menangkap Ibadurrahman, Sugiyanto, dan Yus Karman.

Ibadurrahman adalah anggota kelompok Badri Harsono, merupakan amir Al-Qaidah Indonesia. Tugasnya merakit bom. Dia lari dan bersembunyi saat Badri serta kelompok ditangkap polisi.

Ibadurrahman kemudian bergabung dengan pecahan kelompok Hisbah dipimpin Abu Hanifah. Kelompok Abu Hanifah, telah berlatih bom, kemudian ditangkap saat hendak merencanakan aksi terornya. Ibadurrahman kembali melarikan diri.

Bahrun Naim kemudian memerintahkan Ibadurahman membentuk kelompok baru dan melakukan aksi amaliyah di sekitar wilayah Solo.

Setelah Ibadurrahman ditangkap, Bahrun Naim lalu meminta anggota kelompok kajian membentuk struktur organisasi baru bertugas melakukan serangan teror. Susunanya adalah Arif Hidayatullah alias Abu Mushaf (koordinator dan penerima dana dari Bahrun Naim), Nurohman alias Mas Nur (pembuat bom), Andika alias Tolhah (pembuat bom), dan Ali alias Fariz (warga Turki sebagai calon pengebom bunuh diri).

Pada September 2015, Bahrun Naim melalui aplikasi Telegram mengirim alamat situs pembuatan bom kepada Arif Hidayatullah, adik kelasnya saat kuliah dan tinggal di Bekasi.

Bahrun Naim mendorong Arif Hidayatullah berlatih membuat bom dan membuat "amaliyah kecil-kecil dilempar". Dia juga meminta Arif membuka rekening di bank. Sasaran serangan teror direncanakan adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok saat akan berkunjung ke Marunda, Wisma Kinasih (perkumpulan Yahudi) dan masjid Syiah, keduanya di Bogor.

Pada Oktober sampai Desember 2015, Bahrun Naim memerintahkan Arif Hidayatullah membantu keberangkatan Sumardi dan empat orang lainnya ke Suriah.

Pada Oktober 2015, Bahrun Naim meminta Arif Hidayatullah menjemput dan menampung seorang warga Uighur lari dari kejaran pemerintah Cina. Dia hendak ke Suriah namun gagal, selanjutnya berencana transit di Indonesia untuk sementara waktu.

Pada November 2015, Bahrun Naim memerintahkan Arif Hidayatullah merencanakan pembunuhan terhadap petinggi kepolisian Indonesia, seperti Kepala Polri, Kepala Detasemen Khusus 88, Gorries Mere, Ibnu Suhendra, Tito Karnavian, dan Nur Ali, serta warga negara asing.

Sumber yang sama menjelaskan Bahrum Naim baru bergabung dengan ISIS pada 2014. Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) ini sebelum bergabung dengan JAT (Jamaah Ansarut Tauhid) pada 2008. Selain bekerja sebagai teknisi komputer di sebuah warung Internet, Bahrun Naim menjual bendera dan pernak-pernik bernuansa islami.

Bagi tetangganya di daerah Pasar Kliwon, Solo, Bahrun Naim dikenal tertutup dan jarang bergaul. Istrinya, Rafiqa Hasnum, justru ramah dan bisa bergaul.

Bahrun Naim adalah teman dekat Purnama Putra alias Usman alias Usamah alias Ipung alias Uus alias Tikus, senior di sekolah tingginya. Usman bergabung dengan KOMPAK ketika berusia 18 tahun dan membantu menghasilkan majalah Al-Bayan serta beberapa VCD KOMPAK.

Usman adalah perantara Abdullah Sonata dengan Jamaah Islamiyah. Dia bertemu Noordin M. Top belasan kali. Usman membantu Noordin menyediakan kabel detonator dan dua senjata sebelum pengeboman Kedutaan Besar Australia pada 2004. Usman pernah ke Ambon pada 2000 dan ikut pelatihan di Seram Barat pada Juli 2004.

Pada 2005, Usman mengunjungi Bahrun Naim dan meminta dia menyimpan amunisi. Karena keterlibatannya pada pengeboman Kedutaan Besar Australia, Usman ditangkap pada Juni 2005. Kemudian dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada 24 April 2006. Hukumannya dikuatkan oleh Mahkamah Agung pada 7 Februari 2007.

Bahrun Naim menjadi pemasok amunisi untuk kelompok JAT. Pada 9 November 2010 Bahrun ditangkap polisi karena menyimpan amunisi secara ilegal/ Pengadilan Negeri Surakarta menjatuhkan hukuman dua setengah tahun penjara pada 9 Juni 2011.

Setelah bebas, dia bekerja sebagai penulis lepas dan tetap aktif di JAT. Ketika pemimpin JAT Abu Bakar Baasyir bergabung dengan ISIS, Bahrun Naim mengikuti jejaknya.

Pada Januari 2015 Bahrun Naim menikahi istri keduanya, Sri Lestari, mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan bekas mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah.

Sebulan kemudian, dia membawa kedua istri dan anaknya pindah ke Raqqah, ibu kota ISIS di utara Suriah. Dari sanalah dia memandu anak-anak didiknya meledakkan kawasan Sarinah kemarin.

Situasi di sekitar lokasi tawaf di kompleks Masjid Al-Haram, Makkah, Arab Saudi, 16 Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar tuduh Arab Saudi halangi warganya berhaji

"Tahun ini tidak ada seorang pun warga Qatar benar-benar berupaya untuk berhaji karena mereka sadar tidak mungkin ke sana (Makkah) dalam situasi seperti sekarang," kata manajer sebuah agen perjalanan haji di Ibu Kota Doha, Qatar.

Seorang lelaki Turki tengah menghancurkan sejumlah telepon seluler menggunakan palu. (Youtube)

Patuhi seruan Erdogan, warga Turki hancurkan iPhone

Dalam video lainnya, seorang bocah lelaki membuang seplastik Coca Cola ke dalam jamban.

Pastor Andrew Brunson. (Yeni Safak)

Pengadilan Turki tolak bebaskan Pastor Andrew Brunson

Pastor Brunson menjadi pangkal memburuknya hubungan Turki-Amerika, setelah Ankara menolak permintaan Washington DC agar dia dibebaskan.

Syekh Salman al-Audah. (Twitter)

Arab Saudi adili ulama tersohor secara rahasia

Arab Saudi menahan Syekh Salman dan Syekh Awad al-Qarni sejak September tahun lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Qatar tuduh Arab Saudi halangi warganya berhaji

"Tahun ini tidak ada seorang pun warga Qatar benar-benar berupaya untuk berhaji karena mereka sadar tidak mungkin ke sana (Makkah) dalam situasi seperti sekarang," kata manajer sebuah agen perjalanan haji di Ibu Kota Doha, Qatar.

18 Agustus 2018

TERSOHOR