kabar

Israel sudah menjalin hubungan gelap dengan sejumlah negara Arab

Netanyahu bilang Israel dan kebanyakan negara Arab moderat memiliki musuh bersama, yakni Iran.

17 Februari 2016 06:01

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Ahad lalu bilang negaranya sudah menjalin hubungan rahasia dengan dengan beberapa negara Arab. Dia menambahkan sekarang saatnya bagi sejumlah negara Arab itu mengumumkan hal ini.

Saat berpidato di hadapan lebih dari seratus pemimpin Yahudi dari the Conference of Presidents of Major American Jewish Organizations, beranggotakan 53 organisasi Yahudi di Amerika Serikat, Netanyahu mengungkapkan kebanyakan negara Arab moderat tidak lagi menganggap Israel sebagai musuh karena mereka menghadapi ancaman sama, yakni Iran dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

"Sebagian besar negara Arab tengah mengubah pandangan mereka terhadap Israel...mereka tidak lagi melihat Israel sebagai musuh mereka," kata Netanyahu. "Tapi mereka menganggap Israel sebagai sekutu, terutama dalam memerangi militan Islam dengan dua sumbernya (Iran dan ISIS)."

Dalam kesempatan itu, Netanyahu tidak menyebut dengan negara Arab mana saja Israel telah menjalin hubungan diam-diam. Informasi diperoleh Albalad.co, negara Zionis ini tahun lalu membuka kedutaan besarnya di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Netanyahu berterima kasih kepada para pemimpin Yahudi asal Amerika Serikat itu karena telah menyebarluaskan visi dan misi Israel ke seluruh dunia. Dia menekankan komitmennya untuk menyatukan seluruh bangsa Yahudi. "Semua orang Yahudi harus merasa seperti di rumah sendiri dan mereka disambut baik di Israel," ujarnya.

Delegasi dari the Conference of Presidents of Major American Jewish Organizations itu melawat ke Israel sehabis berkunjung ke Mesir dan Turki. Di Mesir, rombongan dipimpin Stephen M. Greenberg dan Malcolm Hoenlein ini diterima Presiden Mesir Abdil Fattah as-Sisi. Mereka juga mengadakan pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, termasuk membahas upaya pemulihan hubungan Turki-Israel.

Mesir menjadi negara Arab pertama membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada 1979, disusul Yordania pada 1994. Qatar dan Oman juga pernah saling membuka kantor perwakilan dagang dengan negara Bintang Daud itu.

Di hari sama, Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon membenarkan pihaknya memang sudah membina hubungan diam-diam dengan beberapa negara Arab. Namun karena situasi masih sensitif, mereka tidak bisa berjabat tangan di depan publik.

Dalam Konferensi Keamanan Internasional berlangsung Ahad lalu di Kota Munich, Jerman, Yaalon secara terbuka bersalaman dengan ketua delegasi dari Arab Saudi, Pangeran Turki bin Faisal.

"Memang betul kami memiliki saluran-saluran untuk berbicara dengan negara-negara Arab tetangga kami. Tidak hanya dengan Yordania dan Mesir, tapi juga negara-negara Arab Teluk dan Afrika Utara (Arab magribi)," tutur Yaalon. "Buat mereka, Iran adalah musuh."

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab, beranggotakan 22 negara, di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 2002, mereka mengesahkan proposal dari Arab Saudi, menawarkan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel. Syaratnya, Israel menyerahkan semua wilayah mereka kuasai setelah menang dalam Perang Enam Hari 1967, termasuk Yerusalem Timur, untuk menjadi daerah kedaulatan negara Palestina nantinya.

Suasana dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem di hari pertama Ramadan, 17 Mei 2018. (Albalad.co)

Rabat batalkan rencana kota kembar dengan Guatemala karena pindahkan kedutaan ke Yerusalem

Guatemala baru membuka kedutaan besarnya di Ibu Kota Rabat, Maroko, November tahun lalu.

Dea, 2 tahun, menghadiri Aksi Islam Bela Al-Aqsa bareng ibunya di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel danai pemindahan Kedutaan Guatemala ke Yerusalem

Paraguay menyusul jejak Amerika dan Guatemala pekan depan.

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Muqtada Sadr menangi pemilihan umum Irak

Dia merupakan putra dari ulama berpengaruh Muhammad Sadiq as-Sadr, dibunuh lantaran menentang rezim Saddam Husain.

Gerbang Kota Mosul, utara Irak. (Rudaw)

Lajang di Mosul susah kawin

Masyarakat Mosul umumnya konservatif. Bahkan sebelum ISIS bercokol di sana, jarang ada perempuan masih hidup sendirian ketika usia sudah menginjak kepala dua.





comments powered by Disqus